TEMPO.CO, Jakarta - Bilbo Baggins terjebak bersama 13 kurcaci di Misty Mountains. Sebuah gunung batu yang tidak dirambati tanaman apa pun. Waktu itu, hari telah gelap. Meniti jalan yang lebarnya hanya dua telapak kaki, tentu sangat sulit. Meleng sedikit, tamatlah mereka. Jatuh ke jurang yang menganga di bawahnya.
Seperti tidak ingin memudahkan perjalanan keempat belas makhluk mini itu, hujan angin datang menghantam. Tiba-tiba, tanah tempat Baggins dan kurcaci menapak, bergerak. Gunung itu hidup! Masing-masing bagian menjadi raksasa batu yang saling menyerbu. Sedangkan Baggins dan 13 kurcaci berada di kedua lutut satu raksasa. Mereka terpisah!
Baca juga:
Itulah sekelimut kisah The Hobbit: An Unexpected Journey. Diambil dari novel The Hobbit, or There and Back Again (1937), karangan J.R.R. Tolkien, An Unexpected Journey adalah awal dari sebuah trilogi. Yang selanjutnya bakal disambung sutradara Peter Jackson ke The Desolation of Smaug (2013) dan There and Back Again (2014).
Sebelum menggarap The Hobbit: An Unexpected Journey, Peter Jackson sukses melemparkan Lord of the Ring: The Fellowship of the Ring (2001); The Two Towers (2002); dan The Return of the King (2003) ke pasar film. Karenanya, seluk-beluk petualangan Bilbo Baggins tak jauh beda dengan Lord of the Ring. Dilihat dari segi mana pun, The Hobbit mirip dengan Lord of the Ring.
Misalnya, para tokohnya. Di dua trilogi itu, Peter Jackson memasukkan Bilbo Baggins (Martin Freeman), Gandalf (Ian McKellen), Gollum, Lady Galadriel (Cate Blanchett), dan Saruman (Christopher Lee). Bahkan, ada Frodo Baggins (Elijah Wood) dalam The Hobbit. Tapi, Frodo tak lagi menjadi tokoh di sini. Ia hanya menjadi pemeran pembantu.
Kemunculan Frodo pun cuma beberapa menit di awal babak. Selanjutnya, cerita beralih ke Bilbo Baggins, paman Frodo. Kala itu Bilbo Baggins masih muda. Ia hidup nyaman di rumah nan apik dan menjelajahi dunia lewat buku. Bilbo tidak suka pergi jauh dari rumahnya.
Tapi, perjalanan bersama Gandalf dan 13 kurcaci memberikan Bilbo Baggins petualangan unik. Inilah awal kisah Frodo di Lord of the Ring.
Diputar selama 2,5 jam, Bilbo Baggins, 13 kurcaci, dan Gandalf bertarung sekitar tujuh kali. Di antaranya melawan Goblin, Orc, Gollum, Troll, dan Smaug. Dijejali rentetan perseteruan, menonton The Hobbit: An Unexpected Journey menjadi begitu melelahkan. Bahkan, usai film diputar, agak susah mengingat kembali plotnya.
The Hobbit: An Unexpected Journey tidak hanya menampilkan banyak tokoh, naskah padat, dan serangkaian perkelahian. Peter Jackson juga melambatkan durasi di beberapa adegan. Seperti waktu Bilbo Baggins dikejar Gollum. Dibutuhkan sekitar satu menit untuk melihat Baggins berpikir bagaimana caranya kabur dari Gollum. Padahal, ia memakai cincin yang membuatnya kasatmata.
Lamanya adegan itu membuat mata lelah. Bahkan, kelopak mata menjadi berat, terasa mengantuk.
Seperti di Lord of the Ring, Peter Jackson mempercayakan sinematografi The Hobbit ke Andrew Lesnie. Alhasil, banyak kemiripan pada penampakan dua film itu. Misalnya, kemegahan istana di bawah Gunung Erebor mirip Minis Tirith di The Lord of the Rings: The Return of the King (2003); atau Misty Mountains yang bisa bergerak seperti pohon berjalan dan berbicara, Treebeard, di The Lord of the Rings: The Two Towers (2002). Dan di tangan Lesnie, tampilan The Hobbit begitu memukau.
The Hobbit: An Unexpected Journey
Sutradara : Peter Jackson
Cerita: Novel The Hobbit, or There and Back Again (1937)
Pemain: Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Andy Serkis, Benedict Cumberbatch, Cate Blanchett, Christopher Lee, Elijah Wood.
Studio: New Line Cinema, WingNut Film, Metro-Goldwyn-Mayer
Distribusi: Warner Bros, Metro-Goldwyn-Mayer
CORNILA DESYANA