Syaharani dalam Panggung Eksotisme Borobudur Jazz  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi Jazz Syaharani tampil dalam Borobudur Jazz Festifal di Taman Lumbini Pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu malam (28/11). TEMPO/Budi Purwanto

    Penyanyi Jazz Syaharani tampil dalam Borobudur Jazz Festifal di Taman Lumbini Pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu malam (28/11). TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Magelang - Bonang dan kendang terdengar sayup-sayup bercampur aduk dengan musik bernada nge-beat. Telinga pengunjung serasa dimanjakan di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Rabu malam, 28 November 2012. Di bawah sinar bulan purnama, tembang-tembang Jawa dikawinkan dengan musik jazz mengalun indah.

    Lir-ilir- lir ilir, tandure wus sumilir.
    Tak ijo royo royo.
    Tak sengguh penganten anyar.

    Petikan tembang yang pernah menjadi medium dakwah Islam para wali di tanah Jawa itu menjadi lagu pamungkas Borobudur Jazz Festival 2012 bertajuk “The Harmony of Excotism”. Ratusan muda-mudi memadati pelataran Borobudur malam itu.

    Konsep konser jazz yang malam itu sangat santai. Ada bangku dan aneka minuman tradisional. Di antaranya wedang jahe hangat. Taman indah berlatar Candi Borobudur membuat malam itu begitu asyik. Sejumlah musikus jazz nasional tampil sepanggung dan berkolaborasi. Sebagian melantunkan tembang Jawa. Mereka adalah Syaharani, Matthew Sayersz, dan 24 musikus jazz lainnya.

    Berbusana lurik kombinasi batik, Syaharani tampil begitu energik melantunkan lagu Lir-Ilir. Malam semakin dingin. Perempuan cantik nan seksi itu pun mengajak para penonton bernyanyi. Lian Panggabean menjadi band pengiring para musikus. Syaharani menggandeng Matthew Sayersz sepanggung membawakan lagu Jawa berjudul Suwe Ora Jamu.

    Di belakang panggung Taman Lumbini pelataran Candi Borobudur, Syaharani mengatakan tembang Jawa cocok dengan suasana. “Ini konser di situs budaya sehingga musik-musik etnis cocok untuk menggambarkan sesuatu yang berbeda,” ujarnya.

    Menurut Syaharani, tembang-tembang Jawa menarik karena memiliki makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan manusia. “Saya suka tembang Jawa karena kaya makna spiritual dan mampu bertahan di dunia industri,” katanya.

    Ia mengatakan tembang-tembang Jawa kaya pitutur kehidupan dan enak didengarkan. ”Musik jazz perlu sentuhan yang berbeda. Ide-ide yang seru akan menarik minat masyarakat. Saya lihat banyak anak muda yang datang menikmati musik jazz,” ujar Syahrani.

    Penikmat Borobudur Jazz, Asep F Amani, berharap konser musik jazz di Candi Borobudur mendongkrak orang berwisata ke Magelang. Namun, ia menyayangkan tembang Jawa ditampilkan di akhir acara. “Kenapa lagu-lagi itu tidak ditampilkan di depan atau di tengah agar semua penonton bisa menikmati. Kalau ditempatkan di akhir, kan, sayang karena penonton banyak yang meninggalkan pelataran,” ujar dia.

    Aryananda, Direktur Pertunjukan Sinergi Production, partner Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menjadi sponsor Borobudur Jazz Festival 2012, mengatakan konsep eksotis yang diusung adalah memadukan antara musik jazz dan Borobudur. “Jazz eksotis, Borobudur juga eksotis,” katanya.

    SHINTA MAHARANI

    Berita terpopuler lainnya:
    Disopiri Mika Hakkinen, Imelda Therine: Ngilu
    Jennifer Lopez Pesan Busana Panjang di Jakarta  Jennifer Lopez Tiba di Jakarta Malam Ini
    Kim Kardashian Buka Toko Milkshake di Timur Tengah
    Demi Moore Kencani Brondong 26 Tahun
    Kim Kardashian Paling Dicari Netizen


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.