Senin, 19 November 2018

Dariah, Maestro Lengger dari Banyumas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dariah (85 tahun) yang merupakan seorang penari tradisional laki-laki dari Banyumas bersama Didik Nini Thowok (kanak) saat mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang masih tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo

    Dariah (85 tahun) yang merupakan seorang penari tradisional laki-laki dari Banyumas bersama Didik Nini Thowok (kanak) saat mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang masih tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo

    TEMPO.CO, Banyumas - Dia lahir sebagai laki-laki di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Banyumas, dengan nama Sadam. Ibunya bernama Samini. Ayahnya Kartameja, hidup sebagai petani kecil. Ia tidak tahu persis tahun berapa ia lahir. Namun, kakeknya pernah bercerita, ia lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda. Dengan demikian, diperkirakan Dariah lahir pada akhir 1928 atau awal 1929.

    Saddam, yang belakangan dikenal sebagai Dariah, adalah penari lengger. Meski sudah sepuh, kadang-kadang ia masih terjun untuk melatih anak-anak muda menari. Rabu, 14 November 2012, Didik Nini Thowok menemui Dariah di rumahnya untuk mendokumentasikan perjalanan kesenimannya dalam bentuk video.

    Kegemarannya menari dimulai sejak kecil. Ia juga suka menyinden atau melagukan tembang-tembang Jawa. Sebelum menjadi penari lengger, dia merasa seperti kerasukan indang lengger. Suatu hari, dia dituntun alam bawah sadar, pergi tanpa pamit, tanpa tujuan, dan hanya berbekal sedikit uang miliknya.

    Di daerah Bukateja, Sadam sempat berhenti sebentar dan diberi minum warga. Hingga akhirnya dia tiba di sebuah pekuburan tua. Di situ Sadam melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada arca wanita cantik dari batu.

    Di tempat itu Sadam sebetulnya tak berniat bertapa atau semadi. Namun, rasa tenang dan damai itu membuatnya betah tinggal berhari-hari. Sadam merasa mendapat perlindungan dari kekuatan magis yang tak dia mengerti. Sadam juga tidak tahu berapa lama dia bertapa, tanpa makan-minum. Yang dia ingat, peristiwa itu terjadi pada masa penjajahan Jepang, menjelang proklamasi kemerdekaan RI.

    Setelah berhari-hari di tempat itu, dia mulai mendengar ada orang lewat dan berbincang-bincang. Sadam paham, ternyata dia ada di panembahan ronggeng.

    Itu adalah tempat semadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger. Letaknya di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. 

    Dengan begitu, Sadam telah menempuh perjalanan keliling tiga kabupaten, yaitu Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga. Setelah merasa puas, ia pulang. Sampai di Purwokerto, dia membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan seorang lengger, antara lain sebuah gelung brongsong (konde pasang), kemben (kain penutup dada), sampur, dan kain.

    Sesampai di desanya, seluruh keluarga, kerabat, dan tetangga gempar. Lalu Saddam menceritakan semua yang dia alami. Keluarga dan kerabat menanggapinya secara positif. Beberapa orang yang bisa memainkan gamelan dikumpulkan, lalu berlatih bersama. Semenjak itu ia menjadi lengger. Dukun lengger menabalkan Dariah sebagai nama panggungnya. Ia pun kemudian hidup sebagai perempuan.

    Menurut dia, pengalaman itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (1944-1945). Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu para seniman tradisional lengger, oleh Orde Baru, ditengarai dekat dengan komunis. Seniman lengger banyak ditangkap. Pada saat lengger dilarang, Dariah menjadi perias pengantin.

    Kemaestroan Dariah diakui pemerintah. Pada 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional. Namun, lebih dari itu, demi seni yang dicintainya, Sadam terus memilih hidup sebagai perempuan walau terlahir laki-laki. Pun hingga kini.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.