Rhoma Sempat Ingin Berguru ke Pesantren Tebuireng

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedangdut Rhoma Irama dikawal pendukungnya ketika memenuhi panggilan Panwaslu DKI Jakarta, Jakarta Pusat, (6/8). Pemanggilan tersebut terkait pernyataan Rhoma yang berbau SARA terhadap pasangan Cagub/Cawagub, Joko Widodo-Basuki Tjahaja ketika berceramah di Tanjung Duren, Jakarta Barat. ANTARA/M Agung Rajasa

    Pedangdut Rhoma Irama dikawal pendukungnya ketika memenuhi panggilan Panwaslu DKI Jakarta, Jakarta Pusat, (6/8). Pemanggilan tersebut terkait pernyataan Rhoma yang berbau SARA terhadap pasangan Cagub/Cawagub, Joko Widodo-Basuki Tjahaja ketika berceramah di Tanjung Duren, Jakarta Barat. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO , Jakarta: Raja dangdut Rhoma Irama dididik keras saat kecil oleh ayahnya, Kapten Raden Burda Anggawirja Komandan Batalion Garuda Putih di Tasikmalaya, Jawa Barat. Rhoma kecil sering dihukum oleh ayahnya dengan rotan. Pada 1958, ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi.

    Dikutip dari Majalah Tempo dalam Rubrik Balada Sang Raja Dangdut edisi 8 Mei 2011, dikisahkan bahwa pada awal 1960-an Rhoma membentuk band Gayhand, Tornado, dan Varia Irama Melody. “Saya gemar menyanyikan lagu-lagu Pat Boone, Elvis Presley, Everly Brothers, Tom Jones, dan Paul Anka,” kata raja dangdut ini.

    Rhoma juga bergabung dalam kelompok orkes Melayu. Setiap malam Minggu, ia bermain band dalam pesta orang kaya. “Ada kalanya saya bermain orkes Melayu di kampung, ditanggap pesta orang tak berpunya,” katanya.

    Gara-gara bermain band, Rhoma dikeluarkan dari sekolah menengah atas sampai delapan kali. Kuliah di Universitas 17 Agustus pun terbengkalai. “Saya tidak tamat kuliah. Habis bagaimana, jiwa saya sepenuhnya untuk bermain musik,” kata bintang film Satria Bergitar ini.

    Lulus SMA, Rhoma pernah kabur dari rumah. Ada desakan kuat ingin belajar agama Islam di Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia nekat berangkat diam-diam ke Bandung. “Maksudnya dari sana dengan kereta api saya bertolak ke Jombang. Kakak saya, Benny, dan teman masa kecil, Haris, menemani saya,” kata pria kelahiran 11 Desember 1946.

    Celakanya, saat itu mereka tidak mempunyai uang untuk beli tiket. Di Solo, cerita Rhoma, mereka kepergok kondektur dan diturunkan dari kereta api. “Terpaksa kami hidup menggelandang beberapa bulan. Menjelang peristiwa G30S/PKI, saya pulang ke Jakarta,” kata Rhoma.

    TIM TEMPO


    Baca juga:

    Rhoma Irama for President
    PKS: Jangan Remehkan Rhoma Irama
    Rhoma Berpeluang Rebut Suara Kelas Menengah-Bawah

    PPP Jagokan Rhoma Jadi Capres, PKS ''Cuek''
    PPP Dinilai Ingin ''Dompleng'' Popularitas Rhoma

    Rhoma Irama Butuh Modal Gede untuk Nyapres

    Alasan PPP Mau Calonkan Rhoma Irama Jadi Presiden


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H