Novel Amba Laksmi Pamuntjak Dibedah di Bandung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Laksmi Pamuntjak.  DOK.TEMPO/ Santirta M

    Laksmi Pamuntjak. DOK.TEMPO/ Santirta M

    TEMPO.CO, Bandung -Guru besar Universitas Parahyangan Bambang Soegiharto menilai Novel Amba karya Laksmi Pamuntjak lebih dalam daripada tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer atau pembaca penggemar tulisan-tulisan Goenawan Mohamad.

    "Novel ini ada di jalur puitikal Catatan Pinggir Goenawan Muhammad," kata Bambang, saat bedah buku yang digelar mahasiswa Sejarah Unpad bekerjasama dengan Perpustakaan Batoe Api, Komunitas Layar Kita, dan Penerbit Gramedia  di aula Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjajaran, Selasa, 23 Oktober 2012.   

    Menurut Bambang, Novel Amba adalah sebuah karya yang kompleks dan bernilai. Terdapat pelukisan psikologis yang rumit dari masing-masing tokohnya. Bahwa sejarah seringkali muncul dari kerangka besar, dan dari orang-orang besar dan menang. "Tapi kerap dilupakan tentang korban-korban dari ideologi. Padahal keberadaan mereka kongkrit," katanya.

    Amba, adalah sebuah novel sejarah yang berkisah tentang para tahanan politik pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Yogyakarta. Diwarnai kisah fiktif seorang wanita bernama Amba, yang mencari cinta lamanya, yaitu Bisma. Kekasihnya itu hilang ditangkap pemerintah Orde Baru dan kabarnya dibuang ke Pulau Buru.  

    Nina H. Lubis, doktor sejarah pertama di Jawa Barat, berterima kasih pada Laksmi karena telah menginspirasi para sejarawan untuk membuat teks sejarah yang enak di baca. “Mbak laksmi jelas tidak menulis buku sejarah. Tapi ini adalah novel sejarah. Namanya Histografi. Ia punya arti penting, karena ia bisa memberikan pemahaman sejarah secara lebih mendalam,” kata Nina Lubis.

    Mendapat pujian dari dua profesor itu Laksmi mengatakan bahwa dia tidak ingin bercerita tentang siapa yang benar dan yang salah, atau mencari tahu siapa dalang dari peristiwa G30S. "Penulisan novel ini berangkat dari keinginannya untuk membangkitkan kembali keberadaan sebuah novel epik sejarah," kata Laksmi yang merampungkan novel Amba dalam waktu delapan tahun.

    Penamaan para tokoh, seperti Amba, Bhisma, atau Shalwa, Laksmi banyak terinspirasi dari kisah Mahabarata. “Saya memang terpesona terhadap mitologi jawa, misalnya Mahabarata. Yang masing-masing menautkan manusia yang berkarakter kompleks, kisah-kisah yang mengandung pesan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna,” katanya.

    Menurut Bambang, banyak kata-kata cerdas yang puitik dalam tiap lembar novel ini. “Alurnya cerdas dan eksperimental. Ibarat menonton film, kita juga diperlihatkan tentang proses pembuatannya. Kekuatan setting yang dideskripsikan juga menunjukkan kecermatan riset penulis," kata Bambang.

    Namun Bambang juga  mengkritik Novel Amba. “Ada bagian-bagian tertentu yang  berlebihan. Kalau dalam bahasa sunda mah, giung, alias terlalu manis. Mungkin laksmi terlampau jatuh cinta terhadap kata, kemudian kata-kata ini diubah menjadi musik yang indah, tapi maknanya malah jadi  terlalu jelas. Banyak kata-kata yang nggak saya ngerti,” ujarnya.


    SONIA FITRI| ENI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.