Torehan Rudy Atjeh di Kedai Kebun Yogyakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indrani Ashe di pameran seni instalasi karyanya, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (08/06/2011). TEMPO/Suryo Wibowo

    Indrani Ashe di pameran seni instalasi karyanya, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (08/06/2011). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta- Dinding ruang galeri Kedai Kebun penuh sesak oleh pantulan bayangan besar berbagai bentuk binatang. Di sekitar bayangan itu berderet kata dari kertas yang menyala tertimpa sinar ultraviolet warna-warni. Mirip ruang diskotek. Pantulan bayangan satwa itu tak sekadar blok hitam layaknya obyek yang terbias lampu di salah satu sisinya. Bayangan macan, ular, burung, dan satwa lain itu mempunyai detail, mulai sisik, mata, taring, hingga corak bulu.

    Bayangan “beranatomi” itu berasal dari pantulan figur yang bergelantungan memenuhi langit galeri dan disorot lampu. Rudy 'Atjeh' Darmawan, perupa pembuat figur satwa itu, merekayasa kertas-kertas gambar berukuran jumbo dengan teknik cutter-craft yang hampir sulit dibayangkan prosesnya, jika dilakukan manual. Karya itu dipajangnya di Kedai Kebun Forum lewat pameran bertajuk “Welcome to The Jungle” pada 7-23 Oktober 2012.

    Bagaimana tidak, perupa kelahiran Aceh, 15 Mei 1982, itu bermodal pisau pemotong kertas berukuran kecil, hanya gara-gara dia belum tahu cutter pen. “Saya dikenalkan cutter pen sudah telat. Saat semua karya sudah mau jadi,” kata Rudy kepada Tempo pada Sabtu 13 Oktober 2012. Agar tangannya tak sering luka, Rudy memodifikasi alat pemotong dengan lapisan kulit sehingga lebih empuk dipegang.

    Di tangan pria lulusan Seni Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu, pisau cutter biasa dapat menyulap lembaran kertas yang rentan dan rapuh menjadi beragam obyek yang sarat dengan detail. Menariknya, karya Rudy nyaris tak ada bekas lecek atau sambungan sobek. Pemetik gitar bas kelompok musik cadas Sangkakala itu menggunakan kertas gambar berukuran 80 dan 120 gram.

    Keuletan Rudy tampak dari caranya membentuk figur dua dimensi dengan citraan tiga dimensi. Ada citraan harimau yang seolah menerjang ruang dari langit-langit dengan mulut memamerkan taringnya yang tajam. Di sebelah harimau itu terdapat citraan dua telapak tangan, satu telapak tangan dalam posisi berdoa, sedangkan tangan lain (jari kelingking, telunjuk, dan jempol) tegak bak simbol metal.

    Pada karya berjudul Fi'Sabi Metal itu tak seinci pun citraan harimau, mulai ujung ekor, badan, hingga kepala, yang dibiarkan polos. Badan kekar penuh bulu dan loreng dihasilkan dari rongga dan lekuk sayatan pisau secara perinci. Bentuk kumis, mata, bulu, dan loreng itu sangat teratur dan penuh goresan pisau, seolah dicacah cepat dengan mesin pemotong. Tak ada sambungan terputus di antara sayatan itu.

    Anatomi lebih detail ditunjukkan oleh citraan burung, yang lengkap dengan sayap terkembang, pada karya berjudul Stuck in The Beautiful Circle. Citraan burung ini mempunyai dua kepala berdempet berbentuk elang dan singa. Seluruh tubuhnya penuh dengan sayatan membentuk citraan bulu yang mengesankan berlapis-lapis bulu. “Binatang dalam karya Rudy adalah metafora perjalanan perantauannya,” ujar Agung Kurniawan, kurator pameran ini. Menurut Direktur Artistik Kedai Kebun Forum ini, Rudy menggunakan simbol binatang untuk menceritakan kembali dunia manusia.

    Penggarapan detail yang kuat pada enam karya itu membutuhkan waktu sekitar setengah tahun untuk menyelesaikannya. Karya Stuck in The Beautiful Circle yang berukuran tinggi 3 meter itu membutuhkan waktu satu bulan. Proses penggarapan yang butuh waktu lama itu mengakibatkan berhari-hari telunjuk tangannya tak bisa lurus karena terlalu lama menggunakan pisau itu.

    Mengapa tidak memakai teknologi mesin cutting-laser? “Tidak cukup space-nya. Karya saya berukuran terlalu besar, harus manual,” katanya. Alhasil, perupa yang mengaku tak pernah puas dengan drawing-nya itu memesan kertas dari Bandung karena di Yogyakarta belum ada yang menjual dalam ukuran besar. Untuk enam karya itu, seniman berpenampilan metal ini membeli satu gelondong kertas sepanjang 20 meter. Jika selesai menggambar, dia “mengukirnya” di atas landasan kaca.

    “Jika ada titik yang sobek atau tak memuaskan, gambar dari awal dan cutting lagi. Berulang-ulang,” kata Rudy yang sudah menghabiskan 100 batang pisau cutter itu. Gambar yang belum selesai, berhari-hari akan didiamkan di atas kaca dengan diberi penjepit agar tidak melengkung.

    Rudy pun hanya tertawa saat ditanya jika ada kolektor yang tertarik dengan karya itu. Apa tidak kesulitan membawanya mengingat kertas mudah tertekuk? “Itu yang baru sempat terpikirkan saat semua karya sudah jadi. Memang susah cara mem-packing-nya,” ujarnya. Namun, kata Rudy, dia sudah menyiapkan kemasan khusus untuk menyimpan karya itu agar aman.

    Menurut Agung Kurniawan, media paper cut yang digunakan Rudy merupakan jenis kriya yang pernah populer di daratan Eropa pada 1930-1940-an. Seiring dengan menggeliatnya seni kontemporer, tradisi ini mulai hilang termasuk di Indonesia. Rudy merupakan satu di antara sedikit perupa yang masih memegang tradisi ini dalam berkesenian. “Yang juga menarik, bagaimana kertas serapuh dan serentan itu bisa memiliki kedalaman detail dengan cara manual. Kemampuan mengolah kertas itu tak biasa, sekarang semua dikepung mesin digital,” kata dia.

    Penggarapan detail pada karya Rudy terlalu dalam sehingga tak tersentuh cahaya lampu dan akibatnya pantulan bayangannya pun tak utuh. Bagi Agung, kekuatan karya Rudy merupakan hasil gerakan bayang-bayang obyek yang digelantungkan sehingga menjadi semacam iluminasi hidup. “Seperti hutan dengan bayangan pohon yang teduh,” kata dia.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Olahraga Pada Puasa Ramadan Saat Pandemi, Dapat Mencegah Infeksi Covid-19

    Olahraga saat puasa dapat memberikan sejumlah manfaat. Latihan fisik dapat mencegah infeksi Covid-19 saat wabah masih berkecamuk di Ramadan 1442 H.