Film Korea Utara Tampil di Festival Busan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adegan dalam film Comrade Kim Goes Flying. screendaily.com

    Adegan dalam film Comrade Kim Goes Flying. screendaily.com

    TEMPO.CO, Busan - Setelah absen hampir satu dekade, Busan International Film Festival yang mulai digelar Kamis ini, akan kembali menampilkan film asal Korea Utara. Selain itu, ajang festival ke-17 ini juga akan menayangkan enam film klasik dari Afganistan.

    Satu film produksi Korea Utara bergenre komedi romantis berjudul Comrade Kim Goes Flying akan diputar dalam festival ini. "Kami bangga bisa ikut terlibat dalam pertukaran budaya antara Korea Selatan dan Utara," kata Direktur festival Lee Yong-kwan seperti dikutip AFP, Kamis, 4 Oktober 2012.

    Comrade Kim Goes Flying, yang disutradarai bersama oleh orang Korea Utara dan dua orang Eropa ini, adalah film Korea Utara pertama yang tampil di Festival Busan ini sejak 2003. Film ini bercerita tentang seorang wanita muda yang bergabung dalam rombongan sirkus sebagai pemain akrobat. Comrade telah memenangi penghargaan untuk sutradara terbaik di festival film internasional di Pyongyang bulan lalu.

    Kim Ji-seok, salah seorang penyelenggara, mengatakan penonton Korea Selatan berharap bisa menikmati film dari negara seterunya itu tanpa harus ada kekhawatiran politik. Untuk itu, kata Kim, panitia telah memastikan Comrade bebas dari misi ideologi dan propaganda Korea Utara.

    Di samping itu, penyelenggaraan Festival Film Busan pada kali ini secara khusus akan memberi tempat pada film-film Afganistan. Ada enam film yang diproduksi dari tahun 1960 hingga 1980-an, yang akan ditampilkan dalam festival yang telah digelar sejak 1996 ini.

    Salah satunya Like Eagle, karya yang dibuat pada 1965 yang bercerita tentang seorang gadis bermata lebar yang sedang melawat ke Kabul.

    Film-film tersebut berhasil diselamatkan oleh badan arsip film nasional dari rezim Taliban yang berkuasa pada 1990 dan kemudian melarang segala kegiatan hiburan di negara tersebut, termasuk film. Setelah Taliban digulingkan pada 2004, film-film tersebut kembali bisa diputar.

    Kang Yu-jung, seorang kritikus film Korea Selatan, mengatakan film-film Afganistan mampu bercerita tentang sisi lain dari negara tersebut di luar kesan yang selama ini menancap di benak banyak orang, yakni wilayah peperangan dan Osama Bin Laden.

    Festival yang digelar di kota pelabuhan Busan ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan industri film di Asia. Menurut Lee, kelebihan festival film Busan dibanding lainnya adalah mampu menggabungkan industri film, pasar, dan program pendanaan. "Di sinilah BIFF membedakan diri dari festival film Amerika," katanya.

    Kompetisi utama dari festival ini adalah hadiah sebesar US$ 30 ribu atau sekitar Rp 280 juta untuk para pembuat film pemula. Tahun ini diikuti oleh 10 produksi dari delapan negara, termasuk dari Lebanon dan Irak. Pemenang akan diumumkan pada 14 Oktober saat penutupan festival.

    GUARDIAN | AP | HUFFINGTON POST | IQBAL MUHTAROM

    Berita Terpopuler
    Malam Ini, Maroon 5 Goyang Jakarta

    Ello Tak Kena ''Wabah'' Adam Levine

    Latief Sitepu: Masih Banyak Haji Muhidin Lain

    Taylor Swift Bakal Tampil di MTV Europe Awards



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.