Sastrawan Hamsad Rangkuti Butuh Biaya Operasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hamsad Rangkuti. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Hamsad Rangkuti. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Sastrawan Hamsad Rangkuti seharusnya sekarang menjalani operasi darurat di Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci, Tangerang, terkait penyakit prostat yang telah dideritanya sejak dua tahun lalu. Tapi, "Karena tak ada biaya, akhirnya kami pulang dari rumah sakit seraya mengharapkan mukjizat dari Allah SWT," kata Nurwindasari, istri Hamsad, pada Minggu dinihari, 30 September 2012.

    Menurut Nurwindasari, kondisi Hamsad kini sangat lemah, terutama setelah tangannya patah karena terjatuh di kamar mandi sebulan lalu. Hamsad seharusnya dioperasi pekan lalu, tapi tak bisa dilakukan hingga kini karena tiadanya biaya. Orang-orang yang ingin membantu Hamsad dapat mengirimkan bantuan ke rekening BNI cabang Margonda, Depok, nomor 0106423653 atas nama Hamsad Rangkuti.

    Pengarang kelahiran Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943, itu sempat dirawat di rumah sakit pada Januari lalu. Saat itu, ia harus buang air kecil melalui perut dan makan memakai selang melalui hidung. Dia lalu menjalani operasi pemasangan cincin untuk menormalkan buang airnya. Untuk membantu meringankan beban keluarga Hamsad, para seniman dan penggemarnya saat itu menggalang dana melalui berbagai jalur, termasuk Twitter dan Facebook.

    Pengarang cerita pendek terkenal "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu" itu adalah salah satu seniman penanda tangan Manifes Kebudayaan pada 1964--pernyataan para seniman yang menolak politik sebagai panglima. Presiden Soekarno melarang kelompok itu karena dinilai menyeleweng dan ingin menyaingi Manifesto Politik yang ia tetapkan.

    Hamsad menulis cerita pendek sejak 1962 dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Horison. Dia telah menerbitkan kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000), dan Bibir dalam Pispot (2003), yang mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award. Novel pertamanya, Ketika Lampu Berwarna Merah, mendapat hadiah harapan pada Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 1981.

    IWANK

    Berita Terkait:
    Hamsad Rangkuti Dioperasi Awal Pekan Nanti

    Seniman Galang Dana untuk Pengobatan Hamsad Rangkuti


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.