Teater Boneka Indonesia Disambut di Washington  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu adegan dalam pentas teater boneka berjudul Mwathirika oleh Papermoon Puppet Theatre di Institut Francaise Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/6). Cerita berlatar pada peristiwa penangkapan dan eksekusi tanpa pengadilan pasca 30 September 1965. TEMPO/Prima Mulia

    Salah satu adegan dalam pentas teater boneka berjudul Mwathirika oleh Papermoon Puppet Theatre di Institut Francaise Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/6). Cerita berlatar pada peristiwa penangkapan dan eksekusi tanpa pengadilan pasca 30 September 1965. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Washington - Tiga ratus kursi di Kennedy Center Millenium Stage sudah ludes sejak tiket Papermoon Puppet Theatre diumumkan resmi penyelenggara pertunjukan, NEFA (New England Foundation for the Art), kepada publik. Kennedy Center--gedung pertunjukan paling bergengsi di Washington DC--pada Sabtu malam, 8 September 2012, banjir pencinta seni boneka dan teater se-Washington DC.

    Di jantung ibu kota Amerika Serikat ini, teater boneka asal Yogyakarta bernama Papermoon Puppet Theatre tampil memukau publik Amerika. Decak kagum dan tepuk tangan membahana tak henti dari para hadirin pada penampilan perdana mereka malam itu.

    Drama teaterikal boneka yang digagas pasangan muda seniman teater Indonesia, Maria Tri Sulistyanti dan Iwan Effendi, berkisah tentang sejarah gelap Indonesia 1965. Pasca-30 September, penculikan dan pembunuhan tanpa pengadilan terjadi hampir di semua tempat di Indonesia.

    Sejarah gelap ini kemudian menjadi tema sentral alur cerita Papermoon Puppet Theatre yang bertajuk "Mwahtirika". Mwahtirika yang dalam bahasa Swahili berarti "korban". Memotret secara sederhana, cerdas, dan kritis tentang korban ketidakadilan yang terjadi di Indonesia di era tahun 1965.

    Terinspirasi dari kisah nyata di Indonesia, Mwahtirika tampil dengan kisah drama sendu keluarga kecil boneka. Baba, sang ayah yang menjadi orang tua tunggal yang sederhana dan rendah hati; Moyo, anak sulungnya yang berusia 10 tahun yang peduli pada keluarga; dan Tupu, si bungsu yang berusia 4 tahun yang selalu merasa bahagia dengan tiupan peluitnya yang makin lama makin lemah.

    Sang ayah ditangkap dan tak pernah kembali setelah dibawa pergi oleh serdadu bersenjata hanya karena sebuah balon merah yang tak sengaja ditinggalkan di depan rumah. Moyo pergi mencari sang ayah. Sayangnya, ia pun hilang dan tak pernah kembali. Tupu yang malang tertinggal sendirian, yang kemudian ditelan kesunyian, hilang tanpa pesan entah ke mana.

    Plot cerita teater boneka tanpa percakapan verbal antar-tokoh-tokohnya berhasil menyampaikan pesan pada publik Amerika tentang penangkapan dan eksekusi tanpa pengadilan yang menghancurkan sebuah keluarga tanpa sisa pasca-penumpasan Gerakan 30 September 1965 di Indonesia.

    Tanpa perlu berkata-kata, Mwahtirika berhasil membawa kisah sejarah kelam Indonesia yang memilukan pada dunia tanpa harus menghakimi dan menggurui penonton. Alur cerita yang cerdas ditambah tata cahaya, suara, dan dekorasi panggung yang sempurna membuat drama Papermoon Puppet Theatre ini tampil indah berkilau di mata penikmat seni teater di Washington DC. Apalagi untuk publik Amerika yang belum pernah mendengar nama Indonesia dan sejarah kelamnya.

    Papermoon Puppet Theatre, teater boneka asal Yogyakarta, berhasil menjadi teater kelas dunia yang memperkenalkan Indonesia secara jujur, indah, dan cerdas pada publik Amerika.

    Selain berpentas di Washington DC, Papermoon Puppet Theatre yang hadir di Amerika atas undangan pemerintah Amerika Serikat juga akan manggung di enam kota lainnya hingga awal Oktober 2012, yaitu di Easton (Philadelphia), Huntingdon (Philadelphia), Lewisburg (Philadelphia), West Liberty (Indiana), Providence (Rhode Islands), dan New York.

    VICTORIA SIDJABAT | WASHINGTON DC

    Berita lain:
    Wanita Yahudi Diimbau Bekukan Sel Telurnya

    Bunuh Pacar karena Ditulari HIV

    Xanana Akui Bagi-bagikan Proyek ke Temannya

    Taliban Ancam Bunuh Pangeran Harry

    Warga Amerika Danai Politikus Anti-Islam Belanda

    Australia "Buang" Pencari Suaka ke Pulau Nauru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.