Total Recall, Versi Ulang tanpa Mutan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • total Recall

    total Recall

    TEMPO.CO, Jakarta - Bumi pada 2084 tak lagi nyaman. Perang Dunia III yang dahsyat hanya menyisakan dua wilayah besar yang masih layak huni. United Federation of Britain (UFB), yang dipimpin pejabat korup; dan The Colony, yang dikuasai para pemberontak. Di antara dua wilayah yang berseteru itu, Douglas Quaid (Collin Farel) hidup dalam kegelisahan. Buruh pabrik robot Humanoid ini berulang kali mengalami mimpi buruk.

    Suatu hari, dia memutuskan pergi ke Rekall. Ini adalah sebuah perusahaan yang menyediakan jasa penanaman memori buatan ke dalam otak sesuai dengan fantasi pelanggannya. Douglas kemudian memilih memori kehidupan sebagai seorang agen rahasia. Tanpa diduga, ketika sedang menjalani operasi, Rekall tiba-tiba diserbu oleh sekelompok pihak keamanan yang berniat menahan Douglas. Lelaki itu sempat melawan dan melarikan diri. Anehnya, Lori (Kate Beckinsale), istrinya, juga ikut-ikutan ingin membunuhnya. Pertemuannya dengan Melina (Jessica Biel), wanita yang kerap dia lihat dalam mimpi, perlahan-lahan mengungkap identitas Douglas yang sesungguhnya.

    Inilah Total Recall versi Len Wiseman. Sebuah film yang mengingatkan kita pada film berjudul serupa 22 tahun silam. Dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger dan Sharon Stone, Total Recall, yang disutradarai Paul Verhoeven, berhasil mencuri perhatian penikmat film dunia. Naskah cerita yang mengandung humor satir, yang segar, serta jalan cerita berbasis masa depan, yang terasa aneh tapi begitu menarik, berpadu dengan penampilan visual yang sangat meyakinkan. Tak mengherankan bila film ini berhasil memperoleh tiga nominasi Academy Awards dan memenangi satu di antaranya, yakni untuk kategori Best Visual Effects.

    Meskipun tetap merujuk pada cerita pendek Philip K. Dick berjudul We Can Remember It for You Wholesale (1966), film ini sedikit berbeda dengan versi sebelumnya. Total Recall garapan Paul Verhoeven pada 1990 berlatar planet Mars, lengkap dengan mutan dan alien yang berseliweran. Dalam versi remake-nya, Len memilih Bumi sebagai latar filmnya. Tak ada lagi mutan, apalagi alien. Bumi yang ditampilkan sungguh berbeda dengan pemandangan futuristik hasil olahan teknologi computer-generated imagery (CGI) dan layar hijau (green screen).

    Berpijak pada skenario yang ditulis Kurt Wimmer—penulis naskah untuk film-film sekelas Sphere (1998), Equilibrium (2002), dan Ultraviolet (2006)—dan Mark Bomback, Len tampaknya berusaha keras mengembalikan kesegaran fiksi ilmiah lawas itu dengan menyuguhkan teknologi spesial efek yang lebih modern. Penonton dimanjakan oleh pemandangan Bumi di masa depan, lengkap dengan lalu lintas mobil-mobil canggih yang beterbangan di udara. Len jelas mampu memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi untuk menyajikan kualitas produksi yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Total Recall arahan Paul Verhoeven.

    Secara bersamaan, Len membombardir penonton dengan adegan-adegan aksi yang memompa adrenalin. Adegan kejar-kejaran, baku tembak, dan kucing-kucingan disodorkan dalam tempo cepat. Seperti yang ditunjukkannya dalam Underworld (2003) ataupun Live Free or Die Hard (2007), Len adalah seorang sutradara yang tahu bagaimana mengeksekusi deretan adegan aksi menjadi sebuah sajian yang begitu menegangkan. Sebagai penghormatan terhadap Total Recall versi lawas, Len tak lupa menghadirkan gadis berpayudara tiga dan adegan Douglas yang menyamar menjadi perempuan setengah baya berbadan subur. Sayangnya, adegan-adegan ini terkesan terlalu dipaksakan.

    Dari departemen akting, Collin Farrel bermain lumayan apik. Meskipun terlihat lebih gesit, dia belum bisa menggeser pesona Arnold Schwarzenegger. Akting memikat justru ditunjukkan oleh Kate Beckinsale. Aktris asal Inggris itu mampu membuat peran Lori, yang memiliki kepribadian yang sulit ditebak, lebih nendang ketimbang pada saat dibawakan Sharon Stone. Di setiap kehadirannya, Beckinsale selalu berhasil mencuri perhatian.

    Bagi penonton yang belum sempat menonton versi aslinya, film ini lumayan menghibur. Namun, bagi penonton veteran yang telanjur jatuh cinta pada Total Recall versi Paul Verhoeven, selain ingar-bingar spesial efek yang memanjakan mata dan adegan-adegan menegangkan, film ini terasa kurang menggigit. Keputusan Len menghilangkan beberapa elemen penting dari versi sebelumnya—juga cerpennya—membuat narasi cerita yang disuguhkan menjadi kurang kompleks.

    Bahkan mesin Recall ataupun tagline “What is Real?” yang seharusnya menjadi highlight utama film ini juga tidak dikembangkan. Keberadaannya itu justru tidak memberi makna apa-apa dan terkesan tidak penting terhadap keseluruhan esensi cerita. Dari sisi penceritaan, Total Recall edisi terbaru ini kehilangan begitu banyak daya tarik yang seharusnya mampu membuat film ini tampil mengesankan.

    NUNUY NURHAYATI

    Berita Populer:
    Produsen Kopi Akan Keluarkan Sertifikat Bersama
    Jelang Pilkada, Jokowi Berlebaran di Jakarta
    Tata Niaga Kedelai Tunggu RUU Pangan
    Layanan Cloud Kian Mencemaskan
    36 Detik yang Menyedot Perhatian Dunia
    Tim Piala Dunia Indonesia Ini Kekurangan Dana


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Alasan Batch CTMAV547 Vaksin AstraZeneca Dihentikan Pemerintah

    Pemerintah menghentikan penggunaan vaksin Astra Zeneca dengan batch CTMAV547 karena dua alasan. Padahal vaksin ini sempat didistribusikan secara luas.