Wawancara Tempo dengan Band Israel (Bagian I)  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahleket Hanikot Shotrim / Mahash. facebook.com

    Mahleket Hanikot Shotrim / Mahash. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski dikecamuk konflik, Israel menjadi alas biak bagi band-band punk/hardcore yang berkibar di kancah internasional pada era 1990-an. Sebut saja Nekhei Natza (1990-1997), Urban Skate Fanatic (1996-1997), dan Dir Yassin (1998-2001). Mereka band-band legendaris di blantika musik hardcore internasional.

    Setelah era Nekhei Natza, muncul band-band baru dengan orang lama, seperti Mahleket Hanikot Shotrim (Mahash). Band ini digawangi bekas personel Nekhei Naatza, Santiago Brogez, pada bas; pendiri label hardcore punk Israel Boshet Records, David DegeneRat, di drum; Tal Olal pada gitar; dan Barak Se’iri pada vokal.

    Dalam buku Sober Living For the Revolution: Hardcore Punk, Straight Edge, and Radical Politics, penulis Gabriel Kuhn menggambarkan Santiago Brogez sebagai motor gerakan radikal hardcore punk/straight edge di Israel pada tahun 1990-an. Santiago membangun jaringan hardcore Israel yang hingga kini dinikmati generasi muda Israel.

    Mahleket Hanikot Shotrim memainkan hardcore punk ala band Amerika Serikat, Dead Kennedys. Seperti mayoritas band-band Israel lain, Mahleket Hanikot Shotrim memuat lirik yang mengkritik politik Israel.

    Hingga kini, Mahleket Hanikot Shotrim baru merilis satu album. Pertengahan tahun 2012, mereka bakal melansir mini album berisi sembilan lagu. Mini album itu masih tetap berisi kritikan sosial terhadap kondisi di Timur Tengah dan Israel.

    Dalam wawancara dengan Tempo, Mahleket Hanikot Shotrim juga menceritakan bagaimana mereka mengikuti perkembangan berita di Indonesia. Dari soal Front Pembela Islam hingga penangkapan belasan punker di Aceh.

    Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Mahleket Hanikot Shotrim lewat surat elektronik tamutizona@yahoo.com.

    1. Halo saya Kodrat dari Indonesia. Bisa tolong perkenalkan siapa-siapa saja kalian?

    David DegeneRat: Kami Santiago Brogez (bas), Barak Se’iri (vokal), David DegeneRat (drum), dan Tal Olal (gitar)

    2. Bagaimana dan kapan kalian bisa kecemplung di musik punk?

    Santiago: Musik bawah tanah yang pertama kali membuat saya tertarik adalah punk. Itu terjadi ketika saya berusia 13 atau 14 tahun sekitar 1988-1989. Pada waktu yang sama, kakak saya juga tertarik dengan itu. Jadi saya sebenarnya juga ikut-ikutan dia. Saya rasa, saya pertama kali tertarik bukan hanya karena musiknya, tetapi karena keunikan serta keberagaman aspek di dalam musik itu. Fakta bahwa tidak ada anak-anak punk di lingkungan kami dan kesulitan kami menyelami musik punk di tempat kami tumbuh--desa semisosialis (Kibbutz) di Israel bagian utara--menambah antusiasme serta daya magisnya. Tentu jika kami sekarang menengok ke belakang di era Internet yang bikin pusing, bakal aneh melihat kami kekurangan informasi mengenai sesuatu yang kami sukai.

    Saya rasa kaset pertama yang saya dapatkan adalah band Ramones album End of the Century, yang dibeli tidak sengaja oleh ibu teman kami karena dia berpikir itu sesuatu yang lain. Lalu, setiap beberapa bulan sekali, kami akan naik bus selama empat jam ke kota besar Tel Aviv, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di toko musik untuk mendengarkan LP (Long Play). Kami juga menulis surat ke alamat-alamat yang ada di sampul rilisan, baik band, label, distro, fan clubs, apa pun, untuk meminta kaset atau katalog atau fanzine atau sekadar meminta alamat.

    Ketika tahun-tahun awal, kami mengirim beberapa surat setiap hari. Sebab kami menikmati layanan bebas kirim, dan yang terpenting karena keingintahuan kami sangat besar. Selain itu, karena kami tidak bisa mendapatkan informasi lain selain lewat surat. Banyak orang membalas dan mengirimi kami surat dari label-label hardcore Amerika Serikat, seperti Revelation sampai ke jurnal UK Situationist seperti Vague. Dan sejak itu semuanya bergulir.

    3. Bagaimana awal mula berdirinya Mahleket Hanikot Shotrim?

    Tal: Mahleket Hanikot Shotrim awalnya terbentuk sebagai band tribute untuk band-band Killed By Death, yang artinya band-band punk 70 dan 80 yang aneh dan jarang dikenal orang, seperti The Mad, Child Molesters, Vast Majority dan lain-lain. David, Barak, dan saya memulai band ini sebagai konsep pada 2003 ketika saya dan David telah bermain di band punk politik, Nikmat Olalim. Tetapi kami mencoba beralih instrumen yang paling tidak bisa kami mainkan. David dari gitar ke drum dan saya dari bas ke gitar. Barak, yang juga teman baik kami dan saat itu merupakan vokalis untuk band Kafa Lapanim Shel Limor Livnat, meminta kami untuk bergabung ke band yang lagu-lagunya sudah dia tulis liriknya. David dan saya sempat sekali latihan tanpa Barak dan merekam sebuah kaset, yang berhasil kami hilangkan, dengan musik untuk dua lagu. Salah satunya menjadi Tat Mikla. Dan itu saja untuk saat itu.

    Tiga tahun berlalu, kami tidak melakukan apa pun atau mencari pemain bas untuk band ini dan kami mencari tahu siapa yang butuh bergabung dengan kami. Jenia, yang juga suka punk rock oldschool dan guyonan bodoh seperti kami, adalah calon yang cocok. Ia juga tidak pernah bermain bas di band sebelumnya. Ia sebelumnya vokalis untuk band HxC Brutal Assault. Kami lalu menulis beberapa lagu bareng-bareng, mulai tampil di acara, dan merekam serta merilis sebuah kaset demo yang terburu-buru.

    Pada 2010, setelah kami merekam album perdana kami, Jenia hengkang dari band dan Santiago menggantikannya. Santiago juga cocok. Sejak ia bergabung, kami berlatih lebih serius. Bahkan kami tur ke Eropa. Kendati demikian, kami tetap suka bercanda.

    4. Apa arti Mahleket Hanikot Shotrim? Kenapa Anda memilih Mahleket Hanikot Shotrim sebagai nama band kalian?

    Barak & Tal: Nama band ini dalam bahasa Ibrani berarti Departemen Polisi Menyiksa. Itu merupakan pelesetan untuk Departemen Investigasi Polisi Israel, sebuah departemen yang dikelola oleh mayoritas bekas polisi yang bertugas menyelidiki kejahatan oleh polisi. Kami benci polisi.

    5. Bisa kalian jelaskan musik kalian seperti apa?

    Tal: Kami memainkan musik yang sederhana penuh amarah, tapi terkadang ada lagu-lagu cinta.

    6. Ceritakan kepada saya tentang komunitas punk atau hardcore di negara Anda? Saya sempat mendengar band seperti Dir Yassin dan Smartut Kahol Lavan. Bagaimana awalnya komunitas musik punk dan hardcore di Israel muncul?

    Santiago: Saya jawab bagian kedua pertanyaan Anda. Sejak akhir 1970, sudah ada punk di Israel, begitu juga musik yang terpengaruh dengan punk. Akan tetapi, itu tidak bisa dibilang komunitas (scene) seperti yang kita kenal saat ini. Dan itu biasanya hanya berkembang pada akhir pekan di tiga disko yang saat itu dikenal sebagai The Downtown Tel Aviv Scene.

    Pada 1978, sebuah rekaman terkenal diluncurkan oleh Rami Fortis bertajuk Plonter, yang bisa disebut sebagai rock terpengaruh punk, bahkan ada beberapa lagu punk di dalamnya. Penjualan rekaman tersebut buruk dan tidak dimainkan di radio-radio saat itu, meski saat ini, itu dianggap sebagai pilar rock Israel. Sepanjang 80-an, ada beberapa band punk seperti Cholera dari Yerusalem dan Noon-Mem dari Tel Aviv. Tetapi itu hanya segelintir orang yang tidak terikat dan tidak berkesinambungan serta tidak punya konsep komunal seperti komunitas.

    Akan tetapi, pada awal 1990-an, kondisi berubah. Ada kebangkitan punk dan hardcore secara simultan di beberapa bagian negeri. Di Utara, kakak saya dan saya memulai band (Nekhei Naatza). Beberapa anak di Kota Haifa memulai band hardcore (Public Domain) dan beberapa band muncul di Jerusalem (Sartan HaShad), begitu juga di pinggiran Tel Aviv (Kuku Blof Ve HaYetushim). Band-band ini dan beberapa lainnya memainkan gaya musik yang berbeda dan mereka memiliki latar yang berbeda serta pemahaman yang berbeda mengenai punk atau HC. Tetapi, pada dasarnya, semua berjalan bersama dan ber-rock bersama (Walk Together Rock Together--meminjam judul lagu yang dipopulerkan band hardcore Amerika Serikat, 7 Second, pada 1985).

    Yang patut dicatat adalah, pada awal 1990, muncul secara paralel kebangkitan politik radikal terutama anarki dan kelompok penyayang binatang. Kami juga terlibat di antara mereka.

    Oh ya, mengenai band yang Anda sebutkan di atas, Dir Yassin dan SKL, kakak saya adalah penyanyinya.

    7. Menurut Anda apakah Mahleket Hanikot Shotrim punya misi?

    Tal: Saya bisa bilang misi kami adalah membuat pendengar lebih awas terhadap lingkungan dan mengambil sikap serta bertindak terkait hak asasi manusia dan hak binatang. Selain itu, menyadari bahwa Israel adalah negara yang sangat rasis dan menyiksa sehingga anak-anak muda Israel seharusnya menolak masuk tentara.

    Tetapi saya rasa itu bukan misi sejati band ini, meski saya ingin itu menjadi misi kami. Misi sejati kami adalah memainkan lagu yang sama di depan orang yang sama sepuluh tahun dari sekarang.

    8. Ceritakan soal hubungan kalian dengan komunitas musik bawah tanah Palestina? Apakah di sana ada komunitas musik bawah tanah?

    Santiago: Sejujurnya, kami atau setidaknya saya secara pribadi tidak punya hubungan dengan komunitas musik bawah tanah di Palestina. Bahkan, sejauh yang saya ketahui, tidak ada band punk di Tepi Barat atau Jalur Gaza, setidaknya belum ada sekarang. Komunitas musik bawah tanah di Palestina mayoritas adalah metal dan hip-hop. Yang menarik, dua genre ini muncul di antara warga Palestina yang tinggal di luar wilayah pendudukan. Band metal Palestina yang saya tahu berasal dari kota seperti Nazareth (el Hakura, Chaos) atau Akka (Khalas). Dan grup hip-hop Palestina pertama dan yang terpenting, DAM, berasal dari Lod. Semua kota-kota itu di dalam Israel dengan populasi mayoritas Arab/Palestina.

    Yang juga patut digarisbawahi adalah tidak seperti negara Arab lain di kawasan ini, seperti Mesir, Libanon, dan Suriah, Palestina tidak punya organisasi anarki atau kelompok seperti itu. Ringkasnya, band hip-hop Palestina (yang mayoritas dimotori wanita) bermain di banyak acara bersama band-band punk atau di acara punk. Tetapi, secara keseluruhan, saya bisa katakan tidak ada hubungan antara dua komunitas musik bawah tanah ini.

    Kota Palestina Ramallah di Tepi Barat mungkin punya banyak kelompok hip-hop yang politis dan bagus. Siapa pun yang tertarik, harus mengunduh dokumenter Slingshot Hip Hop.

    David: Belum lama ini saya mendengar sebuah band metal Palestina dari Betlehem bernama Dark Brutality. Saya tidak tahu apakah mereka sudah merekam sesuatu atau bermain di acara.

    9. Apakah kalian anarkis dan straight edge (tidak minum minuman beralkohol, merokok, dan mengkonsumsi narkoba)? Bagaimana Anda terlibat dengan itu?

    Santiago: Saya anarkis, juga straight edge. Keluarga saya berasal dari Argentina dan terlibat dalam perlawanan melawan kediktatoran militer yang berkuasa antara 1976 dan 1983. Jadi, saya rasa, saya punya latar yang kuat untuk meminati politik radikal. Transisi dari kiri ke anarkisme merupakan hasil dari punk rock yang membuat saya membaca buku-buku para pemikir, seperti Bakunin, Kropotkin, dan Proudhon dari perpustakaan. Saya rasa band Conflict (band anarki punk Inggris yang dibentuk pada 1981) juga punya pengaruh khusus terhadap saya sehingga saya memilih arah ini.

    Soal straight edge, saya sudah menganutnya sepanjang hidup. Jadi yang pasti sebelum saya mengetahui ada tendensi ini di dalam punk. Bagi saya, selalu ada semacam reaksi intuisi terhadap konsep orang yang minum dan mengkonsumsi obat-obatan yang saya rasa terjadi hanya karena ketidakmampuan mereka bersenang-senang sebagai diri Anda. Secara alami, ketika keterlibatan saya di punk dan politik meningkat, paham straight edge juga membuat saya kepincut—contohnya adalah sentimen anti-konsumerisme—tetapi pada intinya yang paling membuat saya terperangah adalah tendensi untuk menjauh dari norma-norma, menjadi misfit (orang aneh), baik di masyarakat arus utama atau di dalam komunitas punk. Saya juga merasa ini ada keterputusan (missing link) atau terkadang hubungan yang tak terkait antara straight edge dan anarkisme: esensi pemberontak sejati yang bertolak belakang dengan radikal atau revolusioner.

    10. Apa pendapat Anda mengenai perang yang tak pernah berakhir di Palestina dan Israel atau di Timur Tengah?

    Santiago: Yang pasti, tidak ada orang selain industri senjata global yang menyukai itu, baik kelompok kanan atau kiri, Israel maupun Palestina. Istilah perang terkadang sedikit bermasalah karena membawa citra yang simetris. Sebenarnya, ada konflik bersenjata yang paling asimetris dalam sejarah modern. Di satu sisi, warga Palestina berjuang dengan pisau, senapan berburu, AK-47, IED, dan roket buatan rumah (yang biasanya terbuat dari besi rongsokan yang bisa terbang). Sementara di sisi lain ada Israel dengan kekuatan militer terkuat ketiga di dunia yang dipersenjatai dengan semua senjata yang bisa dibayangkan. Ada jet F-15 dan F-16, Cobra, dan helikopter serang Apache, tank, dan PC, kapal perang, kapal selam, bahkan sistem luar angkasa. Belum lagi ada 200 ribu tentara aktif. Jadi pada dasarnya ini sebenarnya kondisi gerilya ketimbang disebut ‘perang’.

    Selain itu, banyak orang di luar negeri terkadang melupakan penjajahan ekonomi Israel terhadap warga Palestina. Baik lewat pajak, pencaplokan tanah dan sumber daya alam, begitu juga kontrol birokrasi. Itu juga sama penting dan brutalnya dalam pendudukan seperti juga kekerasan militer yang dilakukan secara blakblakan.

    Mengenai penyebab konflik: itu tentu sesuatu yang sangat rumit jika ditilik dari sisi sejarah. Tetapi saya bisa menyimpulkan dalam satu kalimat sederhana: saya mengatakan penyebabnya adalah zionisme.

    KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.