Rabu, 14 November 2018

'Pengejar Angin', Alasan Hanung Gerilya Bioskop Daerah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • hanung

    hanung

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesuksesan sebuah film tidak harus dilihat dari membeludaknya penonton bioskop yang berada di mal. "Mal itu kan untuk masyarakat menengah ke atas, kalau yang masuk ke sana sudah terseleksi sendiri," kata sutradara Hanung Bramantyo di Jakarta, Senin, 23 April 2012.

    Hanung mengaku film Pengejar Angin yang disutradarainya tidak sukses secara komersial di jaringan bioskop di mal itu. Tapi, ketika diputar di daerah, ternyata sambutannya membeludak.

    "Target kami, bioskop di kelas bawah itu menyentuh jantungnya rakyat," ujar suami artis Zaskia Mecca itu. Ia mencontohkan, ketika diputar di Blora atau Temanggung, antreannya panjang.

    Padahal Hanung sempat berpikir film yang banyak menggunakan bahasa Melayu itu tidak sukses di luar Sumatera. "Rupanya kendala bahasa tidak jadi masalah seperti yang dikhawatirkan produser film," katanya.

    Selama dua pekan diputar di aula daerah-daerah, menurut Hanung, setidaknya seribu penonton hadir. Memang tiket di daerah lebih murah ketimbang bioskop di mal, Rp 5.000. Tapi roda ekonomi daerah ikut berputar. Seperti banyaknya penjual di sekitar tempat pemutaran dan sebagai sosialisasi Sumatera Selatan bagi daerah lain. "Secara ekonomi, itu sukses," katanya.

    Tapi ia mengatakan kesuksesan pemutaran di jejaring bioskop mal akan memacu investor untuk membuat film. "Film kami kan bukan porno atau horor, temanya motivasi," kata Hanung.

    Jadi tak sukses di jejaring bioskop, kalau pesannya tersampaikan lebih luas, justru lebih baik. "Di daerah itu, potensinya lebih besar, bioskop di mal hanya ada 600 layar, di Jawa saja ada 100 gedung aula yang bisa dipakai," kata Hanung.

    Maka film yang Senin ini, 23 April 2012, diputar di stasiun televisi nasional itu tetap akan dipromosikan keliling daerah. Sejumlah proposal sudah masuk untuk meminta pemutaran di kabupaten atau kotamadya mereka, seperti dari Bangka, Batam, dan Brebes.

    Nama Hanung meroket setelah terpilih sebagai Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2005 berkat film Brownies. Pada Festival Film Indonesia 2007, pria berusia 36 tahun ini terpilih kembali sebagai Sutradara Terbaik untuk film Get Married.

    DIANING SARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?