Serba Darah dalam The Raid  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • imdb.com

    imdb.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Masuk ke sarang ular tanpa mengetahui kondisi di dalamnya adalah perbuatan bodoh. Namun, bagaimana kalau Anda masuk ke sarang ular karena dijebak orang lain? Bisa jadi mau tidak mau Anda mesti melakukan pelbagai perlawanan agar dapat bertahan hidup. Itulah yang terjadi pada Iko Uwais dalam film The Raid garapan sutradara Gareth Evans.

    Selesai dengan film Merantau pada 2009, duo lelaki ini kembali datang ke hadapan penonton. Dalam The Raid atau Serbuan Maut, Evans lagi-lagi mengangkat tema laga. Darah, darah, dan darah. Itulah yang ditampilkan Evans sejak lima menit pertama film bergulir. Tidak ada habisnya muncratan darah itu disorot kamera film. Adrenalin penonton pun naik dan tetap berada di posisi atas. Susah turun dan tenangnya.

    Serbuan Maut memang masih mengambil genre laga seperti Merantau. Akan tetapi, gerakan bela diri yang dilakukan Iko sebagai polisi bernama Rama tidak lagi murni pencak silat tradisional. Banyak gerakan yang terlihat sudah dimodifikasi. Bahkan, ciri khas kuda-kuda pencak silat, dengan posisi kaki mengangkang dan badan agak membungkuk, tidak terlihat dalam The Raid. Semua pukulan, tendangan, serta tangkisan terjadi begitu cepat dan berdarah!

    Saat menonton pertarungan di The Raid, rasa tegangnya bukan seperti sedang di dalam bioskop. Namun, rasanya bak melihat orang berantem secara langsung di depan mata kita. Mungkin penyebabnya karena para pemain adalah orang Indonesia. Unsur kedekatannya menjadi sangat terasa. Sehingga waktu adegan adu ketangkasan, rasanya lebih menyeramkan dan membuat hati tidak tega.

    Bukan bela diri bertangan kosong saja yang bikin jantung dagdigdug. Pemakaian senjata api di Serbuan Maut juga menaikkan bulu kuduk. Lihat saja ketika gembong narkoba bernama Tama Riyadi (Ray Sahetapy) tidak segan-segan memuntahkan peluru panas ke kepala lawannya dalam jarak dekat. Rasanya tidak tega melihat adegan itu. Namun, toh Ray Sahetapy harus melakukannya. Sebab karakter Tama memang keras, bengis, tetapi santai.

    "Ini waktunya bersenang-senang," kata Tama dengan nada sangat santai ketika akan membantai lawannya.

    Sadis, banyak darah, dan tutup mata. Mungkin tiga kesan itu bisa mewakili penggambaran film The Raid. Namun kalau tutup mata, Anda akan terlewat banyak adegan. Karena jalan cerita The Raid cukup cepat, penonton tidak diberi kesempatan menghela napas.

    Yang lebih menarik dan tidak seperti film Indonesia pada umumnya, pemain The Raid bukanlah artis yang mengandalkan wajah rupawan. Kebanyakan dari mereka malah berwajah biasa, berlatar belakang atlet bela diri, dan minus pengetahuan akting. Misalnya saja tokoh Mad Dog yang digambarkan sebagai tukang pukul Tama. Sebagai lawan tangguh Iko dan Donny Alamsyah (Andi), peran Mad Dog dilakoni atlet pencak silat Yayan Ruhian. Awalnya Yayan berperan sebagai koreografer bela diri para pemain. Karena tokoh Mad Dog belum ada pemainnya, Evans meminta dia memerankan karakter itu.

    Ada juga atlet bela diri Tarung Derajat, Godfred Orindeod. Berperan sebagai kaki tangan Tama, Godfred pun menjadi lawan yang sulit ditaklukkan Rama. Bahkan, ketika casting atau tes pemilihan pemain, Godfred sempat menghajar Iko sampai tempurung kaki kanan pemeran utama itu bergeser. Akibatnya Iko tidak bisa berjalan selama tiga minggu. "Tapi karena itu juga saya langsung memilih Godfred sebagai lawan main Iko," kata Evans.

    Yayan dan Godfred memang bukan aktor. Tapi mimik wajah mereka waktu memburu Iko dan timnya terlihat sangat beringas. Ketika Godfred melotot, rasanya bola mata pesilat itu seperti akan keluar dari rongganya. Seram juga kalau harus berhadapan langsung dengan dia. Dan satu hal yang membantu atlet bela diri ini berakting: mereka tidak mengucapkan banyak dialog.

    Kekerasan dan pertarungan The Raid bisa disandingkan dengan game Street Fighter. Tiap pemain harus melawan satu per satu musuhnya hingga bertemu sang master. Film yang bagus untuk pecinta bela diri. Bahkan sangat bagus, sebab digarap oleh orang Indonesia yang biasanya menyajikan film berkualitas kelas dua atau tiga. Mungkin karena pemain The Raid diarahkan sutradara luar, Gareth Evans, jadi hasilnya apik.

    Yang lebih keren lagi ketika adegan tim Iko terjebak di lantai lima dan rentetan peluru memberondong mereka dari tingkat atas. Atau ketika dua penembak jitu melepaskan peluru panas ke tim yang berjaga di luar. Sudah seperti game Counter Strike saja situasinya. Keren karena Evans menyorotkan kameranya dari sisi yang tak biasanya. Misalnya dari sela-sela tembok tangga, sudut sorotan yang jarang digunakan dalam pengambilan gambar. Apalagi kedua adegan itu memang tidak pernah diangkat dalam film Indonesia lainnya.

    Tapi film ini juga punya kelemahan. Pelafalan dialog pemain terdengar kurang jelas. Entah karena tidak berlatar belakang akting atau memang cara bicara yang sengaja dibuat cepat, perkataan beberapa aktor sulit dipahami penonton. Seperti ada kata yang menghilang saat diucapkan. Contohnya ketika seorang penghuni gedung menyebutkan nomor kamarnya ke Rama. Penonton tidak mendengar jelas angka yang dia sebutkan. Hanya Ray Sahetapy saja yang mampu berdialog dengan lafal sangat jelas.

    The Raid akan ditayangkan secara serentak di sejumlah negara, termasuk Indonesia, pada 23 Maret 2012. Kalau Anda menyukai film bertema kekerasan, sebaiknya segera memasukkan The Raid dalam daftar tontonan Anda. Tapi jangan mengajak anak, adik, atau keponakan Anda yang usianya masih di bawah 17 tahun. Bukan karena ada adegan syurnya. Namun lantaran adegan sadis yang tidak tanggung-tanggung.

    Semburan darah dari leher yang tertusuk benda tajam menjadi pemandangan biasa di sini. Film Evans sebelumnya, Merantau, jadi seperti sekadar sinetron silat di televisi swasta jika dibandingkan dengan The Raid. Karena di Merantau, pertentangan para pemain hanya sebatas memukul atau menendang, tidak sampai membunuh seperti Serbuan Maut.

    Sutradara: Gareth Evans

    Produser: Ario Sagantoro

    Penulis naskah: Gareth Evans

    Pemeran: Iko Uwais, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian

    CORNILA DESYANA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H