Sehari Bersama Andik Vermansyah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andik Vermansyah. TEMPO/ Fully Syafi

    Andik Vermansyah. TEMPO/ Fully Syafi

    TEMPO Interaktif, Surabaya - Ia dijuluki Lionel Messi-nya Indonesia. Bertubuh mungil, hanya 162 sentimeter, dia bergerak gesit dan pandai mengecoh lawan. Dia bintang baru sepak bola Indonesia. Andik Vermansyah memikat penggila bola berkat aksinya yang bagai belut.

    Ketangkasannya sudah terlihat sejak bergabung di Persebaya pada 2007. Setahun kemudian dia masuk tim senior klub berlogo Bajul Ijo itu sampai 2010, saat klub bersalin nama menjadi Persebaya 1927. Ia mengenakan nomor punggung 10.

    Sayang, aksi lincahnya terhalang konflik organisasi sepak bola di Tanah Air. Dia tak bisa masuk tim nasional. Baru tahun ini ia dipanggil masuk tim U-23 di SEA Games XXVI lalu. Rahmad Darmawan, pelatih tim U-23, memasukkannya dalam tim Indonesia Selection saat LA Galaxy, juara Liga Amerika Serikat, mengadakan tur Asia-Pasifik.

    Lagi-lagi pemuda kelahiran Jember, 23 November 1991, ini memikat banyak orang. Aksinya yang lincah sempat merepotkan para pemain LA Galaxy. Salah satunya David Beckham, yang terpaksa melakukan tackling dua kali. Tapi, berkat kejadian itu pula, Beckham memberikan hadiah berupa pertukaran jersey, hal yang semula hanya diangankan Andik.

    Sehabis pertandingan itu Andik dikabarkan juga diminati berbagai klub Eropa. Toh, berita ini tak lantas membuat anak pasangan Saman, 65 tahun, seorang penggali tanah, dan Jumiah, 60 tahun, penjahit, itu lupa diri. Ia tetap dengan gayanya yang sederhana.

    Seharian wartawan Tempo, Kukuh S. Wibowo, dan fotografer Fully Syafi mengikuti kegiatan Andik Vermansyah pada Rabu lalu.

    06.00 WIB
    Kalijudan Taruna III

    Setelah melahap dua telur ayam kampung dadar bikinan ibunya, Andik Vermansyah berkemas. Ransel kecil berisi sepasang sepatu bola dan pakaian olahraga sudah nemplok di punggung. Sesudah mencium tangan kedua orang tuanya, dengan Yamaha Vixion dia melesat. Begitulah kegiatan rutinnya di pagi hari.

    Di rumah dua lantai ini, Andik--bungsu dari empat bersaudara--tinggal bersama ayah dan ibu plus kakak perempuannya. Andik membeli rumah berukuran 7 x 14 meter itu setahun lalu dengan harga Rp 275 juta.

    Sebelumnya, orang tua Andik yang asli Jember itu tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kampung Bogen, Surabaya. Andik sendiri dilahirkan di Jember dan dibawa ke Surabaya ketika berusia 2 tahun. "Setelah saya mampu beli rumah, mereka saya ajak ke sini. Mereka tidak boleh bekerja, mereka sudah tua," katanya.

    Selain itu, Andik membeli mobil sedan keluaran 2010 dan dua sepeda motor lainnya. Dua kendaraan itu dia berikan kepada ibu dan kakak perempuannya. Adapun mobil sesekali ia pakai untuk pergi jalan-jalan bersama ayah, ibu, atau pacarnya.

    Semua barang itu merupakan hasil jerih payahnya sebagai pemain bola. Saat memperkuat Persebaya Surabaya 1927, sejak 2008, Andik mendapat bayaran Rp 400 juta per musim.

    Meski demikian, masih ada obsesi Andik yang belum kesampaian, yakni memberangkatkan ayah-ibunya berhaji. "Tahun lalu baru umrah," kata pemuda 20 tahun itu.

    06.20
    Wisma Persebaya
    Jalan Karanggayam Nomor 1

    Andik tiba di Wisma Persebaya. Sebelum berlatih, semua pemain biasanya berkumpul di sini. Andik langsung naik ke lantai dua dan ganti baju. Saat menuruni tangga, pemain lainnya spontan tepuk tangan. "Lha ini artisnya sudah datang," salah seorang pemain menceletuk.

    Bagi Andik, ini adalah hari pertama berlatih lagi setelah memperkuat tim U-23 dan Indonesia Selection. Semestinya dia bergabung beberapa hari sebelumnya, tapi absen karena sakit. Itu juga yang membuatnya tidak ikut bertandang melawan PSMS Medan dan Persiraja Banda Aceh.

    Sebanyak 23 pemain, termasuk Andik, beranjak ke lapangan Stadion Gelora 10 November, yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari wisma. Di sana telah menunggu pelatih Divaldo Alves, asisten pelatih Ibnu Grahan, dan pelatih kiper Machrus Afif.

    Materi latihan pagi itu antara lain mengasah ketajaman pemain, menyambut umpan passing di mulut gawang lawan, serangan dari tengah, dan umpan terobosan. Latihan ini dipersiapkan untuk menjamu Semen Padang di kompetisi Liga Prima Indonesia. Andik dipasang sebagai striker tim inti.

    Dua jam kemudian Divaldo mengakhiri latihannya. Pelatih asal Portugal itu menilai fisik Andik belum kembali 100 persen. "Dia perlu meningkatkan lagi kondisinya," katanya.

    Seusai latihan, para pemain, termasuk Andik, kembali ke wisma untuk mandi dan melahap sarapan. Saat makan, Andik duduk semeja dengan pemain muda lainnya, yakni Rendy Irawan, Rian Wahyu, dan Edy Gunawan. Namun Andik hanya mengambil buah dan dua potong roti. Melihat itu, seorang rekannya berseloroh, "Wah, setelah kenal Beckham, Andik tidak mau makan nasi, Rek."

    Pukul 09.30
    Rumah Andik Vermansyah

    Jadwal selanjutnya adalah tidur. Tapi ternyata ada gangguan. Dia sudah ditunggu sekumpulan remaja yang meminta tanda tangan dan foto bersama. "Kami bersepeda rame-rame ke sini," kata Ubaid, siswa kelas I Sekolah Menengah Kejuruan 45 Surabaya. Dia datang dari Mulyosari yang berjarak 10 kilometer dari Kalijudan.

    Bukan hanya para remaja itu, dua ibu yang baru menjemput anaknya dari taman kanak-kanak juga mampir ke rumah Andik. Salah satunya sedang hamil tua. Mereka ingin berfoto.

    Selesai melayani tamu-tamunya, masih ada pekerjaan lain, yakni menandatangani puluhan kaus, celana, tas, dan topi yang dititipkan remaja lainnya. "Tiap hari ada saja yang antre untuk pakaiannya agar saya tanda tangani," ujar Andik.

    Penggemarnya bertambah setelah dia terpilih membela tim nasional dan bertukar kaus dengan Beckham. Beberapa hari sebelumnya, belasan remaja sudah menunggu di depan rumahnya sejak subuh. "Asalkan memintanya baik-baik, pasti saya layani," katanya.

    Andik tidak tega mengecewakan mereka karena dia sendiri pernah mengalami masa-masa sulit. Saat masih di bangku sekolah menengah pertama, Andik berjualan makanan kecil di Stadion Gelora 10 November. Ia berkeliling di tribun suporter untuk menjajakan kue.

    Apa pun dia lakukan untuk orang tuanya. Karena hidup serba kekurangan inilah, ibunya sempat melarang anaknya ikut berlatih di klub internal Persebaya, Suryanaga. Ibunya khawatir bila Andik cedera, dia tidak bisa berobat karena tidak punya uang. "Saya merasakan menjadi orang miskin yang sering dikecewakan keadaan," kata Andik.

    Selesai menandatangani kaus-kaus itu, Andik pergi ke kamarnya di lantai atas. Kamar Andik sedikit berantakan. Beberapa poster dirinya terpasang di dinding. Poster Beckham yang masih mengenakan kostum Manchester United terpasang di sana. Adapun kaus pemberian Beckham masih tergeletak di bantal. Barang itu kini menjadi teman tidur Andik. "Belum saya cuci sampai sekarang," ujar lulusan Sekolah Menengah Atas Sejahtera ini sambil terkekeh.

    Andik tak mengira akan mendapat kenang-kenangan istimewa dari pemain idolanya itu. Saat melawan LA Galaxy, pada awal babak kedua, Rahmad Darmawan menariknya keluar. "Saya hanya berangan-angan dapat kausnya, tapi tidak berani bilang minta," kata Andik, yang juga mengidolakan Cristiano Ronaldo, Firman Utina, dan Bejo Sugiyantoro itu.

    Seusai pertandingan, beberapa pemain senior mendekati Beckham merayu untuk bertukar kaus. Andik yang sudah tak punya harapan melangkah lunglai menuju lorong ruang ganti. Namun, melihat Beckham akan diwawancarai seorang reporter televisi, Andik berhenti dan mengamatinya. Beckham, yang melihatnya, memberi isyarat agar mendekat. "Saya dipanggil dan dia mengajak tukar kaus," katanya dengan gembira.

    Selama pertandingan, kata Andik, Beckham menjegalnya dua kali. Tackling pertama, Beckham diam saja. Baru pada tackling kedua, bekas kapten tim nasional Inggris itu meminta maaf. "I am sorry," kata Beckham. Andik juga mengaku tersanjung, saat konferensi pers, Beckham dan Bruce Arena, pelatih LA Galaxy, memuji dirinya. Namun Andik berusaha tidak lupa diri. Ia sadar sanjungan justru dapat membuat seseorang jatuh.

    Setelah membuka laptopnya sebentar, Andik tidur.

    Pukul 15.00
    Atlas Sport Club

    Biasanya latihan Persebaya 1927 berlangsung dua kali: pagi dan sore. Tapi petang itu tak ada latihan. Untuk menjaga kebugarannya, saat bangun pada pukul 14.30 Andik bergegas pergi ke Atlas Sport Club di Jalan Dharmahusada Indah Barat III Nomor 64. Andik menjadi member silver di pusat kebugaran ini.

    Andik berlari-lari di atas treadmill, menguatkan otot-otot betis dan paha di atas leg press serta mengekarkan otot dada dengan butterfly. Menurut Iwan, instruktur di sana, gerakan yang dilakukan Andik sangat menunjang kekuatannya sebagai atlet sepak bola. "Kalau rajin pakai leg press, bobot tendangan makin kuat," katanya.

    Kehadiran Andik tak urung menyedot perhatian orang-orang yang ada di pusat kebugaran tersebut. Mereka berebut ingin berfoto bersama, termasuk Sales & Marketing Executive, Kris Mei. "Profil Andik akan kami pasang di majalah internal kami. Dia kan lagi ngetop," ujar Kris.

    Saat keluar dari gedung, pengunjung pusat kebugaran ini bergantian mengajaknya berfoto. Andik pun melayani dengan ramah. Setelah badannya bugar, ia langsung pulang. Tak ada aktivitas lainnya, selain istirahat dan menonton televisi sampai menjelang malam.

    Pukul 19.00
    Nav Karaoke, Jalan Kedungdoro

    Hujan deras mengguyur Surabaya. Andik menjemput pacarnya, Tiara Damayanti, yang tinggal di kawasan Simo--lumayan jauh dari rumahnya--untuk berkaraoke ria. Yang ikut bernyanyi malam itu Sigit Murpratomo, kakak Tiara, dan adiknya, Guswaldo. Tiara adalah siswi kelas III SMA 6 Surabaya. Mereka dikenalkan oleh Sigit, yang juga kawan akrab Andik. Mereka memilih kamar nomor 10, sesuai dengan nomor kostum di lapangan.

    Selama berkaraoke, Andik, yang mengenakan kaus merah dan celana sebatas lutut, lebih sering menyanyikan lagu-lagu duet, di antaranya Kupinang Kau dengan Basmalah yang dinyanyikan Pasha dan Rossa, serta Saat Kau Bahagia (duet Ungu dan Andien). "Dua lagu duet itu kenangan kami berdua," kata Tiara, yang terlihat manja kepada Andik.

    Selama dua jam, Andik, Tiara, Sigit, dan Guswaldo bersenang-senang. Dua jus alpukat dan dua jus melon ditambah tahu goreng menjadi pelengkap hiburan itu. Pukul 21.00 acara itu usai. Andik langsung mengantar pacarnya pulang.

    22.15
    Rumah Andik Vermansyah

    Saatnya Andik beristirahat. Esok pagi ia akan memulai aktivitas rutinnya sebagai pesepak bola, yakni latihan. Menurut Andik, ia harus pandai mengatur waktu agar tetap fit. Ia sadar, kebugaran adalah kunci sukses. "Saya batasi sebelum pukul 23.00 harus sudah tidur," kata Andik, yang tak pernah lepas dari dua telepon selulernya, BlackBerry Torch 9800 dan Nokia C-6. l


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.