Menteri Jero Wacik Pernah Mati Suri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jero Wacik. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Jero Wacik. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengungkap kisah hidupnya sebelum menjadi pejabat. Dia mengaku masa kecilnya cukup sulit bahkan sempat mengalami mati suri.

    "Waktu itu usia saya sekitar sebelas bulan, keluarga saya sempat panik dan warga kampung sudah pesimistis saya masih hidup," ujarnya ketika menggelar acara bertema Lebih Dekat dengan Jero Wacik di Kementerian Energi, Kamis, November 2011.

    Dia mengisahkan dirinya adalah anak kedelapan yang dilahirkan oleh ibunya. Sebelumnya sang ibu sempat melahirkan tujuh anak yang tidak bisa bertahan hidup lewat dari usia tiga bulan.

    Ketika sang ibu menyampaikan dirinya tengah hamil untuk kedelapan kalinya, ayah Wacik, Guru Nyoman Santi, menjadi kalang kabut. Sang ayah pun menyambangi kerabatnya di Singaraja, yaitu Guru Made Tantra. Made Tantra kemudian menasihati Nyoman agar dia dan istrinya yang tinggal di Kintamani untuk tinggal sementara di Singaraja ketika menginjak hamil tua.

    Berangkatlah orang tua Wacik ke Singaraja, hingga pada 24 April 1949 lahirlah seorang bayi yang saat itu dinamakan I Nyoman Santra. Nyoman Santra tumbuh menjadi bayi yang sehat dan tinggal di Singaraja hingga berusia 6 bulan.

    Kemudian Nyoman Santra dibawa kembali ke kampung halamannya di Kintamani oleh orang tuanya. "Begitu sampai sana saya kembali sakit-sakitan, lima bulan kemudian saya sempat alami mati suri. Orang kampung bilang saya sudah lewat, anak kedelapan mati lagi," tutur dia.

    Saat itulah datang seorang tokoh yang dianggap sakti bernama Guru Titib, mengobati Nyoman Santra kecil. Guru Titib saat itu memegang dan membaca garis tangan si bocah dan menyatakan bahwa bocah tersebut akan berumur panjang. "Dan menjadi orang besar," ujar Wacik menirukan.

    Setelah berhasil disembuhkan, Nyoman Santra pun dipindahkan untuk hidup di suatu pura selama 6 tahun. Saat itu, berdasarkan wahyu yang didapatkan oleh seorang tokoh adat, Nyoman Santra diberikan amanat untuk menjadi pemangku pura. "Begitu menjadi pemangku pura, nama saya diganti dari Nyoman Santra menjadi Jero Wacik," tuturnya.

    GUSTIDHA BUDIARTIE


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.