Tes DNA Solusi Terbaik untuk Kasus Justin Bieber  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Justin Bieber dan Mariah Yeater. AP/Donald Traill/dailymail.co.uk

    Justin Bieber dan Mariah Yeater. AP/Donald Traill/dailymail.co.uk

    TEMPO Interaktif, - Justin Bieber tidak punya pilihan lain untuk membungkam media maupun Mariah Yeater, 20 tahun, perempuan yang mengaku memiliki anak dari hasil hubungan singkatnya dengan Bieber. Solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah tes DNA.

    Dikutip dari laman People, Sabtu, 5 November 2011, besar kemungkinan Bieber, 19 tahun, diperintah oleh hakim untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan dia bukan ayah dari anak Yeater.

    "Hakim harus mempertimbangkan dua hal: hak privasi Bieber dan hak bayi itu untuk mengetahui siapa ayahnya," kata pengacara keluarga, Steve Mindel, yang tidak terlibat dalam kasus. "Pengadilan akan menjadikan tes DNA sebagai solusi tercepat, kecuali mereka melihat wanita itu (Yeater) telah berbohong atas semua ini."

    Menurut Midel, jika Bieber berkukuh tidak pernah bertemu dengan Yeater, maka tes DNA menjadi solusi terbaik untuk memulihkan nama baiknya. Sementara itu, pengacara Yeater sendiri menyebutkan mereka memiliki bukti kuat untuk membuktikan Bieber adalah ayah dari bayi itu.

    Namun jika ternyata apa yang dilaporkan Yeater adalah benar, menurut pengacara keluarga Lynn Soodik, maka ia berpotensi mendapatkan puluhan ribu dolar dalam bentuk dana perwalian hingga anaknya berumur 18 tahun. Berdasarkan hukum yang berlaku, seorang anak korban perceraian berhak hidup sesuai standar kehidupan ayahnya.

    Sebelum sidang 15 Desember mendatang, Bieber diharuskan memberi tanggapan atas tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Para ahli menyebutkan, pengacara Bieber bisa saja menyetujui tes DNA tanpa keterlibatan pengadilan demi menghindari pertarungan di pengadilan.

    NUR INTAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.