Ada Buaya dan Ribuan Cicak di Pameran Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Mampukah seseorang mengejar bayangannya sendiri? Tanyalah pada Anugerah Eko Triwahyono. Perupa berusia 61 tahun angkatan 1980 Akademi Seni Rupa Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) Yogyakarta itu akan menujuk karyanya yang berjudul Melayang Mengejar Bayangannya.

    Di atas kanvas berukuran 120x140 sentimeter ia melukiskan sosok manusia yang berusaha menangkap bayangannya sendiri. Sekilas sosoknya memang tak begitu jelas lantaran terlukis dengan bentuk sedikit abstrak. Namun amatilah lebih lama, maka akan terlihal sosok manusia dengan badan membungkuk dengan kepala menghadap ke bawah. “Itu cerita tentang orang yang tak jelas,” kata dia di Bentara Budaya Yogyakarta, Rabu 26 Oktober 2011.

    Bersama 17 karya dua rekannya, Haryanto Tok Basuki dan Sujatmiko--mereka semua perupa Akademi Seni Rupa Indonesia angkatan 1980--Melayang Mengejar Bayangannya dipajang selama sepekan di Bentara dalam pameran bersama bertajuk Pelukis Ber-3, dari Selasa 25 Oktober 2011 hingga Selasa, 1 November, pekan depan. Secara umum mereka mengangkat tema spiritual dalam karya yang dipamerkan.

    Selain Melayang Mengejar Bayangannya, tema spritual tecermin dalam karya Eko yang lain, Tersudut. Obyek manusia dalam lukisan itu tak banyak berbeda dengan karyanya yang lain. Dia melukiskan sosok manusia yang menjadi obyek utama karyanya nyaris tak jelas. Namun saat diamati lebih dalam terlihat sosok manusia yang sedang tersungkur. Dengan warna dasar merah, coretan kanvasnya membentuk citraan tubuh manusia tengkurap dengan kaki terjengkang ke belakang.

    “Mungkin bisa dikatakan abstrak,” kata dia mengomentari bentuk obyek dalam karyanya. “Tapi tidak murni abstrak.”

    Sosok manusia “setengah abstrak” seperti dalam karya Eko juga bisa dilihat dari karya-karya Haryanto, yang semuanya diberi judul Innergy. Dari Innergy Abu-Abu, Innergy Ungu, Innergy Hijau hingga Innergy “series” #1-#8. Innergy milik Haryanto mengambil obyek utama sosok patung Buddha yang duduk bersila. Seperti orang bertapa.

    Dalam Innergy Abu-Abu, Ungu dan Hijau, Haryanto yang kini memilih menetap di Australia menggabungkannya dengan garis-garis bersusun menyerupai spiral berbentuk lingkaran dan kotak. Dalam satu panel lukisan berukuran 140x200 sentimeter obyek berbeda itu dipisahkan secara jelas dalam perbedaan warna. Adapun dalam delapan Innergy “series” yang berukuran lebih kecil yakni 50x50 sentimeter, garis-garis “spiral’ itu kembali muncul tapi tak lagi terpisahkan dengan sosok patung Buddha. Beberapa di antaranya bahkan terlukis menumpuk di atas obyek sosok Buddha.

    Menurut Haryanto, kata Innergy merupakan gabungan dari kata intuisi dan energy. Sosok patung Buddha dalam karyanya terinspirasi oleh kunjungannya ke Candi Borobudur. Bagi lelaki kelahiran 1957 itu sosok Buddha memberikan kesan kedamaian dan harmonis. “Innergy saya temukan sendiri sebagai ungkapan yang mewakili roh saya dalam berkarya,” tulis dia dalam catatan untuk karyanya di pameran.

    Sementara itu Sujatmiko menggambarkan nuansa spiritualitas melalui sejumlah karyanya. Jika karya dua rekannya, Eko dan Haryanto, menampilkan sosok manusia sebagai obyek karya, Sujatmiko justru sebaliknya. Dia lebih banyak menampilkan hewan dan obyek yang lain. Misalnya Maha Dalang yang berupa lukisan gunungan wayang berbentuk hati warna biru. Di bagian tengah gunungan terlapis bentuk hati dalam posisi yang terbalik dengan warna yang kontras, merah kekuningan. Atau karyanya yang berjudul Barcode Merah Putih Negeri Ini, yang berupa lukisan peta Indonesia dengan garis merah dan putih vertikal membentuk barcode. Serta The Power yang menampilkan seekor buaya dalam kepungan ribuan cicak.

    Pameran Ber-3 sebenarnya merupakan kelanjutan pameran reuni bersama angkatan 1980 Akademi di Jogja National Museum pada 2007 silam. Melalui pameran bersama itu masing-masing perupa dari angkatan itu saling mendukung perupa lain untuk mengembangkan kreativitasnya melalui pameran, di antaranya dengan pameran dalam grup-grup angkatan yang lebih kecil. Hingga akhirnya pameran seperti kali ini yang menampilkan karya tiga perupa saja.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.