Sehari Bersama Zaneta Naomi, Gadis Indonesia Pengiring David Foster  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Zaneta Naomi  dan David Foster (Tempo)

    Zaneta Naomi dan David Foster (Tempo)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Untuk bocah seusianya, Zaneta Naomi tergolong jenius. Dua kejutan yang menerpanya dalam tempo kurang dari 24 jam mampu diatasi dengan baik. Ia memang sempat syok, frustrasi, dan menangis berkali-kali. Tapi kemudian ia cepat mengendalikan emosi dan kepercayaan diri. Hasilnya, selain memperoleh standing applause dari 3.500 penonton yang memadati Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), ia mendapatkan tiga kali pelukan dari The Hitman David Foster.

    "Gilaaa, perasaanku enggak keruan, Om. Penonton standing applause, Opa David peluk aku tiga kali. Shock," tulis Zaneta melalui layanan BlackBerry Messenger yang dikirim kepada Tempo, Jumat lalu, pukul 21.13 WIB.

    Selama rangkaian tur ke sejumlah negara di Asia, David Foster menggelar kontes pencarian bakat melalui event "Were You Born to Sing Asia" sejak pertengahan Juli lalu. Hasilnya, selain Zaneta, yang baru duduk di kelas I Sekolah Menengah Pertama Mahatma Gading School International, dari Indonesia ada Putri Ayu, juara II Indonesia Mencari Bakat. Keduanya harus bersaing dengan para penyanyi terpilih dari Jepang, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina untuk bisa tampil dalam konser David di Las Vegas pada pertengahan November nanti.

    Jumat, Pukul 14.20

    (Plenary Hall JCC)
    Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta membuat perjalanan Zaneta, yang ditemani sang bunda, Herawati Hedra, dan pelatihnya, Lucky Tampilang, dari Kelapa Gading ke JCC terlambat lebih dari 30 menit dari jadwal yang ditetapkan manajemen David. Ketiganya bergegas menuju ruang tunggu sebelum mengikuti geladi resik. Di sana telah hadir Putri Ayu bersama ibunya.

    Meski bersaing, Zaneta dan Ayu tampak akrab. Keduanya sempat bercengkerama, berbagi cerita, dan tertawa-tawa. "Aku berteman dengan Kak Putri, (jadi) harus bersaing sehat demi nama Indonesia," ujar siswi kelas VII Mahatma Gading International School itu.

    Selama sekitar satu jam di ruang tunggu dimanfaatkan keduanya untuk berlatih. Putri Ayu terlihat lebih rileks karena tak mengalami perubahan lagu. Ia akan melantunkan Time to Say Goodbye milik Andrea Bocelli. Zaneta membawa teks lagu Listen yang biasa dinyanyikan Beyonce. Ia mengaku belum hafal lagu itu karena tidak pernah menyanyikannya. Selama ini penggemar basket itu lebih sering menyanyikan lagu-lagu milik Whitney Houston dan Mariah Carey. Keputusan untuk melantunkan lagu itu baru didapat pada pukul 10.30.

    Pada Kamis petang, Zaneta juga harus melupakan lagu Run to You dan I Have Nothing milik Houston karena Ashanty akan menyanyikan salah satu dari lagu tersebut. Zaneta, yang telah berhari-hari berlatih membawakan lagu itu, syok. Tak cuma muram, berkali-kali dia harus menghapus air mata agar tidak merambat ke pipinya yang gembil. Setelah berkonsultasi dengan Lucky, akhirnya ia sepakat berlatih membawakan Without You yang populer dibawakan Air Supply dan Mariah Carey.

    Menurut Lucky, emosi anak didiknya itu kembali drop saat manajemen David mengabarkan lagu yang harus dibawakan adalah Listen. "Stres banget karena aku belum pernah menyanyikan lagu itu," kata Zaneta sambil memainkan BlackBerry-nya.

    Saat tengah menyantap sepotong cake, Zaneta ataupun Putri Ayu tampak belingsatan. Rupanya mereka melihat Charice memasuki ruangan untuk berlatih, persis di sisi kiri panggung utama. Ruang di sisi kanan diisi Michael Bolton. "Om, kalau Charice keluar, cepat kabarin, ya. Aku mau pipis dulu," ujar Zaneta sambil bergegas menuju rest room ditemani sang bunda.

    16.30

    Panggung utama Plenary Hall
    Beruntung bocah itu dianugerahi IQ cukup tinggi, 136, berdasarkan evaluasi psikolog Ditta S. Bumiayu pada 25 September 2010. Meski dalam kondisi tertekan, lagu Listen tak cuma dapat dihafalnya kurang dari tiga jam. Interpretasi dan penghayatannya pun tergolong prima.

    Saat Matt D.P., pengarah musik konser itu, memanggilnya untuk geladi resik di atas panggung utama, Zaneta tampil penuh percaya diri. Pembawaannya yang ramah dan supel, ditopang oleh kemampuan berbahasa Inggris yang fasih, membuatnya terlihat cair saat berkomunikasi dengan para musisi pengiring: Thomas Cooper (keyboard), Ian Martin (bas), Jeffrey Pevar (gitar), Morris Pleasure (keyboard), dan John Robinson (drum).

    Cuma butuh dua kali, Matt memberi isyarat kepada Zaneta agar berjalan ke kanan-kiri untuk penguasaan panggung dan menggerakkan tangannya supaya tidak kaku. Selebihnya, ia manggut-manggut dan tersenyum puas menyimak aksi Zaneta yang bernyanyi nyaris tanpa cela.

    I followed the voice you think you gave to me
    But now I've gotta find my own, my own...

    Begitu penggalan bait itu berakhir, Matt dan seluruh pemusik bertepuk tangan. Juga Putri Ayu, yang menyaksikan di depan panggung. "Great, great...," mereka memuji. "But I'm still nervous," Zaneta menimpali dengan polos.

    Tapi, sekitar pukul 20.30, setelah Charice membawakan beberapa lagu hit sebagai pembuka konser, seperti Stand Up for Love dan Unbreak My Heart, penampilan Zaneta saat menyanyikan lagu Listen berhasil memukau penonton. Mereka memberinya standing applause.

    Pukul 13.00, sehari sebelumnya

    (KBL Studio, Hypermall Kelapa Gading)
    Ditemani sang bunda, Zaneta, yang mengenakan celana pendek hitam dan blus kuning, tiba di KBL Studio milik Lucky. Sang ayah, Freddy Marta Sutrisna, dan Lia dari Ricisimo Wardrobe telah lebih dulu tiba. Sebelum berlatih dan mencoba pakaian yang akan dikenakan untuk tampil di Plenary Hall, Zaneta memenuhi tawaran sang ayah untuk makan siang. Mereka menuju sebuah restoran seafood di sekitar pertokoan. Zaneta cuma memesan udang tanpa nasi. "Takut gemuk, ah. Nanti enggak laku lagi," ujar dia diiringi tawa lepas. Ia mengaku berat badannya 50 kilogram dan tinggi 155 sentimeter.

    Pasangan Freddy-Herawati mengambil nama Zaneta Naomi dari bahasa Ibrani. Zaneta artinya anugerah besar, sedangkan Naomi berarti manis dan menyenangkan. Sebagai anak tunggal, menurut mereka, putrinya itu cenderung ceplas-ceplos dan suka guyon. Bakat menyanyi Zaneta terlihat sejak usia 7 tahun karena kerap bersenandung di kamar mandi. Tapi baru pada usia 10 tahun ia berani menawarinya kursus vokal. Ternyata Zaneta tak menolak saat didaftarkan ke Studio KBL milik Lucky Tampilang pada Maret 2008. "Aku senang karena Om Lucky itu sabar, suka bercanda, tapi sebelnya dia suka jail pingin tahu urusan orang lain," ujarnya.

    Kejailan Lucky antara lain tampak saat mengintip pesan-pesan di BlackBerry yang tengah dibaca Zaneta. Keruan bocah itu sewot. Wajahnya merengut, dan menutupi layar BlackBerry-nya.

    Lucky, yang berasal dari Sangir, sudah menangani banyak penyanyi berbakat, seperti Samuel Dharmawan, yang menjuarai AFI Junior 2004 di Indosiar; Angel Karamoy; bahkan sejak Maret 2010 juga melatih Agnes Monica. Masing-masing anak asuhnya, kata Lucky, punya karakter khusus. Dengan rentang vokal bisa hingga empat oktaf, karakter suara Zaneta sangat mirip suara penyanyi kulit hitam. "Powernya kuat sekali. Makanya dia pas bawain lagu Whitney, Mariah, atau Celine (Dion)," ujarnya.

    Zaneta mengaku amat menggemari para penyanyi itu karena sang ayah memiliki koleksi album mereka dan kerap memutarnya. Meskipun masih sangat belia, ia juga penggemar berat David Foster dan mengaku hafal semua lagu milik David.

    Saat ditanya soal cita-citanya, Zaneta lugas menjawab ingin menjadi penyanyi internasional. Meski nilai akademisnya di sekolah rata-rata 9, bahkan mendapat nilai 10 untuk matematika, Zaneta merasa semua itu biasa saja. "Aku malah lebih suka sejarah, apalagi pas belajar soal manusia purba," ucapnya.

    Pukul 14.30

    Ruang latihan
    Setiap kali Zaneta dinilai tak sempurna untuk menyanyikan lagu pada nada tertinggi, Lucky biasa menawari anak asuhnya itu membawakan refrain She's Gone: Lady, oh, lady... My heart belongs to you.... Suara Milijenko Matijevic, vokalis grup Steelheart, biasa melengking tinggi saat menyanyikan bait ini. Dan Zaneta mampu menirukannya dengan sempurna. "Ini memang lagu sakral kamu. Kalau di nada ini sampai, di lagu lain juga pasti bisa," ujarnya menyemangati.

    Pukul 16.30
    Di sela latihan, Zaneta sempat diwawancarai Trans 7. Pertanyaan seputar persiapannya mengikuti konser David Foster dijawabnya dengan lugas. Begitu masuk ke label Seven Music, bocah itu mengaku mendapatkan pelatihan tentang tata cara dan perilaku berhubungan dengan wartawan. "Prinsipnya, aku enggak boleh sombong dan harus selalu ramah kepada siapa pun," tuturnya.

    18.10

    Mal Kelapa Gading
    Saat rehat berlatih vokal, Zaneta memanfaatkannya dengan mencoba pakaian yang akan dikenakan dalam konser. Dari tujuh potong baju yang disodorkan wardrobe, cuma dua yang sementara dianggap layak. Ia lebih suka gaun agak panjang dengan dalih untuk menutupi paha dan lengannya yang besar. Adapun sang bunda menilai putrinya itu lebih pas mengenakan gaun pendek agar terlihat imut.

    Untuk mendapatkan pakaian yang lebih nyaman dikenakan, akhirnya butik-butik batik di Mal Kelapa Gading, seperti Parang Kencana, Anne Avantie, dan Handy Hartono, disambangi. Sebelumnya ia mampir ke Breadtalk untuk membeli beberapa tangkup roti dan secangkir cappuccino di Starbucks, yang letaknya berhadapan.

    Sayang, setelah hampir dua jam berkeliling butik dan mencoba belasan gaun, tak satu pun yang dianggap cocok untuk tampil di atas panggung. "Bahan dan harganya keren, rata-rata Rp 3 jutaan. Tapi enggak pas kalau buat manggung," ucap Zaneta.

    Pukul 20.30

    Kembali ke KBL
    Begitu tiba di studio, Zaneta langsung berlatih lagu Without You. Cengkok dan improvisasi ala Mariah Carey nyaris dikuasainya dengan sempurna. Tapi kian lama, energinya kian menurun. Beberapa kali Lucky memintanya mengulang improvisasi pada bagian refrain. Adakalanya berhasil dan keduanya melakukan tos, tapi kemudian nada yang diminta ada yang tak dipenuhi dengan sempurna.

    Satu jam berselang, telapak tangan Zaneta mulai sering mengelus wajah dan kepalanya. Ia seperti bosan dan letih. Latihan pun dihentikan. Setelah menyantap capcai dengan ogah-ogahan, Zaneta akhirnya meninggalkan KBL pukul 22.15.

    Pukul 22.45
    Tak sampai setengah jam, Karimun Estilo yang dikemudikan Herawati memasuki Jalan Harpa 6 Blok FF Nomor 31, Kelapa Gading. Di sampingnya Zaneta sudah terlelap. Belum genap pukul 7 keesokan paginya, ia mengirim pesan: "Sori tadi malem gak sempet say goodbye, abis ngantuk bgt wkwk."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.