Ketika Para Kepala Daerah Bermain Ketoprak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO Interaktif, Purwokerto - Wajah Bupati Banyumas, Mardjoko, tampak tertunduk. Sambil berkomat-kamit, ia memejamkan matanya. Sesekali ia melihat lembar naskah cerita yang ada di tangannya. “Belum hafal semua dialognya, agak panjang-panjang,” ujar Mardjoko kepada Tempo kemarin.

    Malam itu, Mardjoko kebagian peran sebagai Adipati Surolawe. Kisah ketoprak yang diangkat dalam rangka HUT RRI Purwokerto itu berjudul Mustika Tuban. Sebuah kisah tentang perang memperebutkan seorang putri kerajaan.

    Bagi Mardjoko, melakoni peran dalam sebuah ketoprak sudah tak asing lagi. Sejak sekolah dasar, ia sudah sering membawakan berbagai peran. Pun ketika sudah menjadi bupati, ia sudah bermain ketoprak sebanyak enam kali.

    Berbeda dengan Dudi Herawadi, pemimpin Bank Indonesia Purwokerto. Sebagai orang Sunda yang dilahirkan di Sumedang, ia mengaku tak bisa menghafal semua dialog. “Te ngarti, lieur abdi mah (tidak ada yang mengerti, saya bingung),” katanya.

    Dudi mengaku tak paham bahasa Jawa yang digunakan dalam dialog ketoprak. Meski sudah berkali-kali latihan, ia tak hafal juga dengan dialognya. Alhasil, ketika dipanggung, ia hanya berucap, ‘ora ngertos’. Sesekali dialognya diganti dengan bahasa Sunda yang tak dimengerti oleh penonton. Juga diselingi bahasa Indonesia sehingga membuat penonton terpingkal.

    Djuwarni, Wakil Bupati Kebumen, tampak luwes membawakan perannya sebagai istri bupati. Ia tampak begitu hafal dengan dialognya dan bisa menguasai panggung dengan baik. “Persiapannya cukup lama, karena mengerti bisa langsung hafal,” katanya.

    Sedangkan Wakil Bupati Purbalingga, Sukentho Rido, terlihat lancar membawakan perannya sebagai Bupati Lamongan. “Karena sudah tua, saya memilih dialog yang pendek-pendek saja,” katanya.

    Tak semua kepala daerah menerima lakon yang ditawarkan. Mardjoko, misalnya, ia mengaku hanya mau berperan sebagai bupati seperti apa yang dijabatnya saat ini. “Saya hanya mau berperan sebagai bupati, lainnya tidak,” ujarnya tegas.

    Kepala RRI Purwokerto, Rasiyah, mengatakan program ketoprak yang diikuti kepala daerah tersebut bertujuan untuk mendekatkan pemimpin dengan rakyatmya. “Selain nguri-uri kebudayaan nasional yang mulai dilupakan masyarakat,” katanya.

    Ia berharap ke depan, program ketoprak bisa rutin dilakukan. Selain untuk hiburan, kepala daerah bisa menyampaikan program pembangunan melalui ketoprak.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.