Kisah Dua Dunia dalam Kutukan Kudungga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pementasan teater berjudul Kutukan Kudungga. TEMPO/Dwianto Wibowo

    Pementasan teater berjudul Kutukan Kudungga. TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Gelak tawa kembali menyeruak di seluruh penjuru gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat-Sabtu malam, 23-24 September 2011, lalu. Lagi-lagi Indonesia Kita, yang digawangi Butet Kartaredjasa, menyuguhkan komedi satir yang diambil dari khazanah budaya Nusantara. Kali ini seniman, Butet dan tim kreatif, mengusung budaya Kalimantan. Disutradarai oleh Djaduk Ferianto, pementasan kelima rangkaian Indonesia Kita berjudul Kutukan Kudungga: Raja Salah, Raja Disembah. Sebuah pementasan yang mengambil kisah legenda di Kalimantan.

    Kutukan Kudungga dipercaya akan membawa celaka bagi siapa pun yang membawa pergi atau mengeksploitasi kekayaan alam Kalimantan. Sindiran akan hancurnya kekayaan alam Kalimantan akibat ulah orang-orang tak bertanggung jawab. “Misi kami kali ini tentang lingkungan. Lingkungan di Kalimantan yang dirusak oleh tangan-tangan jahil, keserakahan manusia,” kata Djaduk. Dan yang membuat miris, Djaduk menambahkan, meskipun eksploitasi hutan dan alam di Kalimantan itu dilakukan oleh masyarakat pendatang, justru masyarakat setempat yang sering disalahkan.

    Dalam pementasan kali ini, Djaduk memadukan Kutukan Kudungga dengan lakon yang pernah dimainkan oleh Teater Gandrik, Dhemit, yang ditulis oleh Heru Kesawamurti (almarhum), yang digarap pada 1987. Sebuah babak yang mengisahkan kemarahan para demit saat melihat hutan hancur. Dalam Kutukan Kudungga, para demit Kalimantan gelisah dan marah saat mengetahui hutan lenyap.

    "Belau, ke mana lagi kita akan pergi? Kita telah diusir lagi, kita telah digusur dari hutan-hutan. Kita harus melawan secara terencana dan struktural," kata komandan demit, Kuyang, yang diperankan oleh Broto Wijayanto, kepada anggota demit, Belau, yang diperankan Abdillah Yusuf. Itulah secuil adegan dari Kutukan Kudungga: Raja Salah, Raja Disembah. Lawakan-lawakan khas Teater Gandrik berupa sindiran-sindiran politik, partai, maupun pemerintah pun meluncur mulus dari bibir mereka.

    Kemeriahan dan guyonan tak kalah heboh saat Marwoto dan Susilo Nugroho, atau yang akrab disapa Den Baguse Ngarso, muncul dalam satu panggung. Sindiran segar pun makin deras mengucur dari mulut mereka. Mulai sindiran terhadap kepolisian sektor yang masih menggunakan mesin ketik manual hingga proyek pemerintah yang sering kali bermasalah. Termasuk kasus yang tengah mencuat saat ini, wisma atlet, yang membelit politikus Muhammad Nazaruddin. "Di mana bumi dipijak, di situlah alam dirusak," ujar mereka.

    Selain para demit, peran Marwoto dan Susilo menjadi inti dari pementasan malam itu. Marwoto adalah anak buah Susilo, pemilik CV Babat Alas, yang berambisi mengeksploitasi kekayaan alam Kalimantan. Berbagai cara dilakukan Susilo untuk memenuhi ambisinya. Marwoto, yang mulai diganggu para demit, menyadari adanya tanda-tanda tak beres akibat proyek yang dilakukannya bersama Susilo. Dia bahkan harus bertengkar dengan sang istri (Rulyani Isfihana) dan kehilangan anak (Fakhri Bagus Pratama) karena diculik para demit.

    Pertentangan pun terjadi saat Marwoto memutuskan berhenti dari proyek tersebut. Susilo, yang tak percaya akan hal mistis, bertekad meneruskan seluruh proyeknya dan tak mengindahkan peringatan Marwoto. Bersama asistennya (Whani Darmawan), Susilo membawa kekayaan alam Kalimantan. Hingga mereka terkena Kutukan Kudungga.

    Meski mengusung tema budaya Kalimantan, hampir seluruh pementasan malam itu diperankan oleh para seniman asal Yogyakarta. Menurut Djaduk, hal itu sengaja ditampilkan. Selain karena kolaborasi dengan karya Dhemit, Djaduk ingin menggambarkan kerusakan lingkungan Kalimantan yang selama ini mayoritas dilakukan orang Jawa. "Marwoto, Susilo, kan, orang Jawa. Jadi, ya, pas mereka yang main," ucap dia.

    Dibandingkan dengan pementasan Indonesia Kita sebelumnya, latar panggung, lighting, dan permainan video di layar panggung dibuat lebih sederhana. Bukan hanya itu, untuk akhir pementasan, Djaduk juga sengaja memberi warna berbeda. Bersama tim kreatif, Butet, Syafril Teha Noer, dan Agus Noor sengaja tak memberi sebuah akhir cerita yang menjadi kesimpulan. "Kami tak memberikan bentuk nyata Kutukan Kudungga, tapi memberikan warning saja bahwa perbuatan eksploitasi alam Kalimantan akan terkena kutukan," Djaduk mengungkapkan.

    SURYANI IKA SARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.