Ada Karya Sam Bimbo di Pameran Seni Sablon Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati pameran karya litografi tentang suasana Hindia Belanda lebih dari 100 tahun lalu bertajuk Hindia Beku di Galeri Soemardja, ITB, Bandung, Senin (1/3). Pameran berlangsung sampai 10/3. TEMPO/Prima Mulia

    Pengunjung mengamati pameran karya litografi tentang suasana Hindia Belanda lebih dari 100 tahun lalu bertajuk Hindia Beku di Galeri Soemardja, ITB, Bandung, Senin (1/3). Pameran berlangsung sampai 10/3. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO Interaktif, BANDUNG - Penyelenggara Festival Grafis Berseni 2011 memamerkan 18 karya para perintis seni cetak saring atau sablon dari Seni Rupa Institut Teknologi Bandung di galeri Lawangwangi, Bandung, 15 September hingga 6 Oktober 2011.

    Koleksi langka Galeri Soemardja ITB berumur 40 tahun yang jarang dipamerkan itu karya dosen Seni Rupa ITB yang membentuk Grup 18. Mereka di antaranya seniman Ahmad Sadali, Muhtar Apin, A.D. Pirous, Sunaryo, Rita Widagdo, Sanento Yuliman, serta Samsudin Hardjakusumah alias Sam Bimbo.

    Seluruh karya sablon proyek 1971 yang berwarna hitam dan putih itu dicetak di atas kertas. Pelukis senior A.D. Pirous mengangkat karya kaligrafi. Perupa Sunaryo menampilkan tubuh perempuan yang sedang berbaring. Sedangkan obyek karya Sam Bimbo berupa komposisi garis mendatar dan tegak. Seluruh karya tanpa judul itu telah dicetak sebanyak 400 eksemplar.

    Menurut Direktur Galeri Soemardja Aminudin TH Siregar, belasan karya tersebut bagian dari sejarah penerimaan karya teknik cetak saring atau sablon sebagai bagian dari seni grafis di Indonesia pada era 1970-an. Seni grafis yang mulai dikenal pada 1948 di Indonesia, awalnya mengenal 3 teknik yaitu, cetak tinggi, cetak dalam, dan cetak datar. "Ada kemungkinan proyek itu terkait dengan pop-art Andy Warholl pada tahun 70-an yang juga sablon," katanya di sela pameran, Kamis malam, 15 September 2011.

    Aminuddin mengatakan, perlu riset lagi untuk menggali sejarah masuknya sablon sebagai seni grafis di Tanah Air. Adanya nama Sanento Yuliman dalam proyek Grup 18 itu diduga terkait dengan pembelaan seni rupa bawah yang diusungnya. Sablon juga stiker, kata dia, dianggap budaya rendah dengan banyak salinan karya. "Pameran karya Grup 18 ini sebagai benang merah perkembangan seni grafis kontemporer di Indonesia," katanya.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.