Iskandar Widjaja: Musik Klasik tanpa Kompromi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Iskandar Widjaja. Guy Coburn

    Iskandar Widjaja. Guy Coburn

    TEMPO Interaktif, Berlin - Pemain biola berparas rupawan ini terkenal di dunia lewat lantunan musik-musik klasik. Resital-resital tunggalnya muncul di berbagai belahan dunia: Belgia, Austria, Swiss, Italia, Spanyol, Israel, dan Amerika Serikat yang diiringi orkestra kelas dunia. Sebut saja Berlin Philharmonic, Dubrovnik Symphony Orchestra, Klasissche Philharmonie Bonn, Das Simfonieorchester Berlin, dan masih banyak lagi.

    Iskandar Widjaja, 25 tahun, pemuda berambut hitam ikal dengan senyum melankolis yang lahir di Berlin, 6 Juni 1986, ini telah meraih sederet penghargaan. Sebagai pemenang kompetisi "Deutsche Stiffung Musikleben" 2007 dan 2008, ia dipinjami biola klasik untuk pementasan-pementasannya oleh Deutsche Musikinstrumentenfonds yang boleh dipakai selama ia mau.

    Di awal kariernya, Iskandar menggunakan biola bikinan tahun 1845 dan kini bermain dengan biola buatan Wina buatan 1793. Ia juga berkesempatan berlatih dengan para suhu biola kelas dunia, seperti Christian Tezlaff, Ida Haendel, Yair Kless, Sergiu Schwarz, dan Donald Weilerstein. "Sejak kecil saya sudah merasa bakal terkenal lewat biola," kata Iskandar. Untuk menggapai impiannya itu, ia berlatih 5-8 jam sehari, tanpa ada yang menyuruh.

    Bakat Iskandar muncul pada usia 3 tahun setelah menonton penampilan grup musik anak-anak dengan metode suzuki--metode praktis bermusik buat anak-anak yang mengandalkan pendengaran, bukan not lagu. Ia meminta kepada ibunya agar mendaftarkannya ke sekolah musik dengan metode seperti itu. Selanjutnya, pada usia 4 tahun, tangan kecil Iskandar sudah menggesek biola.

    Sang bunda, Batdriana Widjaja, adalah pianis yang mengajar di sekolah musik di Berlin. Leluhurnya, Udin Widjaja, adalah komposer terkenal yang menggubah lagu-lagu slow tai chi dan Buddha di era Soekarno. Pamannya, Norman Widjaja, dirigen kondang di Jerman yang pentas sampai ke Kroasia. Cuma bapaknya, Ivan Hadar, yang tak berdarah seni. Ia arsitek merangkap wartawan Jakarta Post di Jakarta.

    Pemuda blasteran Cina-Arab-Belanda yang menggemari warna-warna cerah ini mengaku sebagai orang yang perfeksionis. "Saya paling tidak suka jika ada not-not yang belum sepenuhnya saya kuasai," ujarnya. Agar bisa tampil tenang dan percaya diri, Iskandar biasa bermeditasi. Dua hari sekali ia mendatangi klub kebugaran dan berlatih yoga agar tubuhnya tetap fit. Pemuda dengan tinggi 1,83 meter ini juga senang kumpul-kumpul, nonton serial horor True Blood di televisi, atau ikut lomba nyanyi.

    Mudik ke Jakarta amat menggembirakannya. Itulah saatnya berkumpul dengan para sepupu dan menikmati kue pandan, onde-onde, dan rendang. "Tante saya pintar sekali masak. Kalau sudah kumpul, kami makan terus seperti orang kelaparan," katanya, lalu tertawa.

    Sejak setengah tahun lalu, pemuda yang tinggal di sebuah apartemen mewah di Charlottenburg-Wilmersdorf, Berlin, itu memutuskan menjadi warga Jerman agar lebih mudah bepergian. Setelah atraksinya sebagai model iklan kopi muncul di televisi sejak beberapa pekan lalu, laman Facebook miliknya dibanjiri 500 permintaan berteman. Oktober mendatang, Iskandar akan muncul di Medan.

    SRI PUDYASTUTI BAUMEISTER



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.