Ghaida Tsurayya, Bintang Lembut di Tengah Prahara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ghaida Tsurayya. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Ghaida Tsurayya. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO Interaktif, Bandung- Di tengah kemelut perkawinan orang tuanya, Ghaida Tsurayya, 23 tahun, tetap sibuk sebagai perancang busana muda. Nama anak sulung Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym dan Ninih Muthmainnah atau Teh Ninih yang berarti bintang lembut ini kini berkibar.

    Berlabel GDa'S, produk pakaian untuk remaja putri dan dewasa itu hadir di pameran seperti Inacraft di Jakarta Hall Convention Center, Mozaik Bazaar, dan toko-toko temannya di Jakarta yang tergabung dalam Hijabers Community. Bentuknya mulai dari cardigan, blues, dress, rok, celana lebar, pasmina, gamis, dan gaun. Semuanya menutup tubuh, kecuali telapak tangan.

    Koleksinya yang bertema candy girl juga bisa dilihat langsung di gdagallery.blogspot.com dan butik kecil miliknya yang bernama Galeri GDa'S di kawasan Gegerkalong, Bandung. "Tempatnya masih memakai ruang tamu rumah," kata perempuan kelahiran Bandung, 5 September 1988 ini.

    Ada produk yang menjadi best seller dan terus dipesan hingga sekarang, yakni berupa rok panjang abu-abu yang ikatannya di atas pinggang. Penjualan rok seharga Rp 250 ribu itu kini telah mencapai 600 potong lebih. "Itu model awal saya berjualan, bisa dipakai untuk kasual, juga formal kerja," kata sarjana fisika dari Institut Teknologi Bandung lulusan 2010 ini.

    Geda, panggilan akrabnya, memulai karier sebagai perancang busana pada 2008. Saat itu ia baru menikah pada usia 20 tahun dengan Harfinadi Ihram atau Kang Apin yang empat tahun lebih tua. Pernikahannya dilangsungkan setelah berkenalan selama tiga bulan karena Aa Gym melarangnya pacaran. "Begitu bapak lihat, dia langsung suka sama Kang Apin," katanya. Aa Gym menunjuk sang menantu sebagai Direktur Marketing di Manajemen Qalbu (MQ) TV dan Radio MQ FM.

    Awalnya Geda cuma iseng membuat model rok katun sendiri dan membawanya ke penjahit langganan dekat rumah. Tapi, rupanya, banyak teman di kampus tertarik dan menganggap kreasinya lucu. Mereka pun akhirnya memesan rancangannya. "Lama-lama stoknya makin banyak, jadi mulai jualan, deh," katanya. Jualan gencar lewat Internet, setiap bulan menghasilkan enam model baru fit kasual. Gaun dibuatnya berdasarkan pesanan, misalnya untuk wisuda, pernikahan, atau pesta kelulusan sekolah.

    Ciri khas rancangannya bertema candy girl, memadukan warna ceria permen yang bernada pastel. Tapi, ibunya berpesan agar meredam warna-warna terang supaya perempuan tak terlalu jadi obyek perhatian. Biasanya, ada tiga warna yang dipakai, hijau, biru muda, serta merah muda favoritnya. Dulu model pakaiannya dari khayalan, kini Geda mendapat inspirasi mengikuti tren yang dilihatnya di mal dan Internet. "Atau kalau ketemu yang lucu-lucu dipakai orang," ujarnya.

    Ia mengaku belajar mode secara otodidaktik dari Internet, juga dari keluarganya untuk membuat pola. Wawasannya semakin terbuka setelah bergabung di komunitas bersama teman-temannya yang lulusan sekolah mode. Geda merasa masih harus belajar formal tentang fashion, terutama untuk mengenal jenis bahan yang begitu banyak.

    Ia akan membenahi manajemen usahanya agar lebih profesional. "Sekarang permintaan banyak, tapi tenaganya kurang, mau ikut bazaar stoknya sedikit," katanya. Sebulan bisa menghasilkan 150-200 potong pakaian hasil kerja sama dengan empat penjahit. Walau begitu, ia tak terobsesi menjadi desainer.

    Pernah suatu ketika, Geda merasa kecolongan. Karyanya yang dipajang di Internet itu juga dijiplak sama persis. "Dongkol banget karena dijual lebih murah dan lebih laku," katanya. Geda belajar tak gusar. "Santai saja, kalau merasa tersaingi jadi capek," katanya.

    Pemesanan secara online berdatangan dari segala penjuru Tanah Air serta mancanegara, seperti Belanda, Jerman, dan Malaysia. Pesanan dari luar negeri sementara dihentikan karena pembayarannya rumit dan pendapatannya dipotong biaya kirim. Saat puasa, ia menghentikan sementara pemesanan online hingga usai Lebaran karena sibuk mengurus Gherisa Hanifa, bayi berusia sembilan bulan yang masih membutuhkan air susu ibu. Geda selalu membawa anaknya ke Jakarta tiap satu hingga dua kali sepekan naik travel.

    Kepergiannya ke Jakarta adalah untuk memantau titipan pakaiannya di butik teman-temannya atau menyiapkan acara Hijabers Community, seperti pengajian, bakti sosial, serta bazar. "Juga sering diundang talk show sebagai bintang tamu tentang menikah muda dan fashion," ujarnya.

    Kasus perceraian kedua orang tuanya tidak mempengaruhi proses kreatif dan aktivitasnya. "Enggak pengaruh, walau memang ada masalah di internal keluarga," katanya. Hubungan anak-anak dengan ibu-bapaknya tetap terjalin. Geda bahkan masih suka berkonsultasi dengan Aa Gym soal manajemen bisnis dan kepada Teh Ninih untuk pertimbangan mode yang sesuai dengan ajaran Islam.

    Lewat pakaian itulah pilihan dakwah Geda. Soal pilihan ini, Aa Gym hanya berpesan agar bumbu dunia pada pakaiannya tak banyak. "Kata bapak, harus kuat iman. Kalau enggak bisa terbawa dunia glamor, jadi mubazir," ujarnya. Bapaknya punya andil besar untuk berbisnis, nama Aa Gym ia rasakan sebagai nilai jual yang lumayan untuk pemasaran.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.