Jajang C. Noor: Puisi dan Janda Centil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jajang C Noer. TEMPO/Wahyu Setiawan

    Jajang C Noer. TEMPO/Wahyu Setiawan

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Motivasi membaca puisi bisa punya banyak latar belakang. Tapi, bagi Jajang C. Noor, membaca puisi dilakukan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan janda centil. Ini terjadi saat peluncuran buku puisi Linda Djalil yang berjudul Cintaku Lewat Kripik Blado di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Kamis, 23 Juni 2011 petang. Selain diskusi, acara peluncuran buku ini juga dilakukan dengan pembacaan puisi-pusi karya Linda oleh beberapa hadirin. Pembaca pertama adalah sastrawan Angkatan 1966, Taufik Ismail.

    Usai Taufik membacakan puisi, hadirin diminta maju atas inisiatifnya sendiri untuk membaca puisi kedua. Tiba-tiba, dengan langkah meyakinkan, Jajang maju dan meraih mik. “Saya nggak mau ke mana-mana, kok. Tapi, karena saya dibilang centil, saya maju,” ujar Jajang disambut tawa hadirin. Dia pun membaca puisi berjudul Ayah, Ampera Raya Banjir Darah dengan penuh penghayatan.

    Usai membaca puisi tersebut, Jajang ternyata masih mau menambah membaca puisi berikutnya. “Supaya saya dibilang janda centil,” ledeknya pada hadirin yang disambut gelak tawa. Janda C. Noor ini pun membaca puisi Linda yang berjudul Kepergianmu.

    AMIRULLAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.