Isrol Triono dan Triplek Propaganda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Isrol Triono punya cara sendiri mendefinisikan pahlawan. Bagi lelaki kelahiran Jakarta 1982 itu, seorang pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan perang. Namanya dicatat dengan tinta emas sejarah hingga jasadnya terbaring di taman makam pahlawan. “Seorang tukang sapu pun juga pahlawan,” kata dia, Minggu, 19 Juni 2011.

    Ide tentang pahlawan dalam benaknya itu lantas dia visualkan di atas media triplek berukuran sekitar 20 x 30 sentimeter. Gambarnya, kepala manusia dengan latar belakang sapu ijuk dan lidi bersilangan. Sekilas, gambar itu terlihat seperti logo bajak laut, dengan tengkorak dan dua pedang bersilangan. Warnanya sederhana. Dengan latar belakang cokelat, garis-garis yang membentuk gambarnya berwarna putih.

    Di atas obyek gambarnya itu, dia tambahkan gambar selembar pita bertulisan Pahlawan. Adapun di bawahnya, dia gambar sebuah plakat bertulisan Penyapu Jalan. Menurut dia, karya yang diberinya judul "Pahlawan Penyapu Jalan" itu terinspirasi dari judul lagu Teknoshit, sebuah kelompok musik indie asal Yogyakarta. Tindakan penyapu jalan dianggapnya sebagai profesi yang herois dan bermanfaat bagi banyak orang.

    Bersama dengan karyanya yang lain--juga bermedia triplek--"Pahlawan Penyapu Jalan" terpajang dalam pameran tunggalnya yang pertama di Fight For Rice jalan Parangtritis, Yogyakarta. Mengambil tema Bercumbu Dengan Triplek, pameran itu berlangsung dari 24 Mei-26 Juni 2011.

    Bagi Isrol, perkenalan dunia seni rupa adalah takdir hidupnya. Lulusan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta ini sama sekali tak pernah mengenyam pendidikan seni secara formal. “Saya belajar seni rupa secara otodidak,” kata lelaki yang bekerja sebagai penyablon kaus di Jakarta itu.

    Bermula dari aktif di sebuah sanggar seni di Jakarta, dia akhirnya berkenalan dengan komunitas seniman di berbagai daerah, di Jakarta hingga Yogyakarta. Dari sana, dia belajar. Pernah menjajal di jalur media kanvas dengan cat minyak dan akrilik serta drawing di atas kertas, dia akhirnya menemukan keasyikan menggambar di atas media triplek. Tekstur kayu di permukaan triplek, kata dia, memberikan tantangan sendiri dalam menggambar. Gambar yang dihasilkan pun menjadi berbeda dengan melukis di atas kanvas atau menggambar di atas kertas.

    Perkenalan dengan media triplek tak pernah disengaja. Satu kali, saat dia sedang menyablon kaus, cat yang digunakan tembus hingga permukaan triplek yang menjadi alas kain. “Dari sini saya mulai menggambar di atas triplek,” kata dia.

    Karya Isrol hadir dalam bentuk mirip gambar pada poster stensilan atau street art yang berisi sindiran atau kritik terhadap realitas politik. “Ya memang seperti gambar propaganda,” kata dia mengakui. Tak hanya "Pahlawan Penyapu Jalan", karyanya yang lain pun juga seperti itu.

    Lihat, misalnya, karyanya yang berjudul "Hidup Wortel". Berupa gambar tangan mengepal dengan menggenggam sebuah wortel, gambar itu akan segera mengingatkan kita pada gambar berisi slogan perjuangan di Jalan Revolusi Kemerdekaan dengan slogan "Merdeka atau Mati!" yang terpampang di jalanan.

    Atau lihat saja karyanya yang lain, "Menebar Senyum". Seorang lelaki dengan tas selempang di pundaknya berdiri dengan posisi siap melempar. Gambar itu akan segera mengingatkan kita pada poster perlawanan pejuang Palestina terhadap tentara Israel dengan lemparan batu. Bedanya, dalam karyanya, Isrol tak menggambar batu sebagai senjata pemuda itu, tapi seikat bunga.

    Bagi Isrol, selalu ada pesan yang coba dia selipkan dalam karya. Jika dalam "Hidup Wortel" ada pesan tentang makanan sehat, dalam "Menebar Senyum" ada pesan tentang sebuah perilaku ramah.

    Dia mengaku, ide dasar dalam membangun karyanya banyak diilhami oleh pengalaman belajar seni rupa dari satu komunitas ke komunitas yang lain. Semisal "Hidup Wortel", idenya banyak terisnpirasi dari satu gerakan Food Not Bomb yang bermula di Amerika.

    Semangat berbagi dari satu komunitas ke komunitas yang lain itulah yang mendorongnya menggelar pameran tunggal di Yogyakarta kali ini. Bermula dari iseng meng-upload karya di jejaring media sosial miliknya, tawaran untuk menggelar pameran tunggal lantas datang dari Eko Nugroho, pemilik Fight For Rice. Melalui karyanya yang berjudul "Berbagi Rasa" yang bergambar kaleng berisi makanan siap santap, dia mengakui hal itu. “Gambar-gambar saya itu seolah menjadi tiket untuk berbagi dengan banyak orang dimana-mana,” kata dia.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.