Umpatan Widoyo dan Daun Jati Kering Sarwoko

Reporter

Editor


TEMPO Interaktif, Yogyakarta-Widoyo sedang geram. Di atas kanvasnya, dia mengumpat. “Kamu memang celeng ‘tak gantung’. Celeng tak kenal maaf ya. Dasar celeeeeeng”. Kalimat itu tertulis di bagian bawah lukisan karyanya yang berjudul Dendam. Hurufnya kecil. Di atas kanvas berwarna dasar Merah menyala berukuran 150 kali 200 sentimeter, tulisan itu nyaris tak terbaca.

“Rakyat kecil memang hanya bisa mengumpat,” kata perupa asal Magelang itu, Kamis (3/6) malam kemarin, di Bentara Budaya Yogyakarta. “Celeng!” Sekali lagi dia mengumbar umpatan.

Celeng atawa Babi Hutan, telah menjelma menjadi ekpresi umpatan, kegeraman dan ketidaksenangan. Rakus, kotor dan gemar berebut jatah makanan menjadi tabiat hewan itu. Lantas untuk siapa, umpatan Widoyo ditujukan? “Lihat saja pemerintahan saat ini! bukan mau menjelek-jelekan, tapi memang seperti itulah yang sebenarnya,” kata dia.

Melengkapi cerita kegeraman terhadap realitas politik di negeri ini, di atas kalimat itu tertulis, seekor babi hutan dilukis tergantung. Lehernya terjerat seutas tali dengan seorang lelaki bersarung tanpa baju menariknya dari bawah. Dia berdiri di atas bola dunia warna biru, senada dengan warna sarungnya. Bisa jadi, lelaki itu adalah personifikasi dirinya. Rambutnya gondrong sebahu. Seperti rambut Widoyo.

Berkolaborasi dengan perupa asal daerah yang sama, Magelang, Widoyo mengelar pameran seni rupa bersama Suitbertus Sarwoko bertema "Suara Daun Suara Hati" di Bentara Budaya Yogyakarta. Dibuka Kamis malam itu, pameran akan digelar hingga Sabtu (12/6) mendatang.

Ada 26 karya yang mereka pamerkan. Jika Widoyo, perupa kelahiran 1966, lebih banyak mengeksplorasi idiom celeng dalam tema lukisannya, Sarwoko mengusung daun jati kering dalam karyanya. Lahir tahun 1969 dan menetap di Magelang, Sarwoko akrab dengan kebon jati di sekitar tempat tinggalnya sejak kecil. “Itu tempat bermain saya,” kata dia. Dan daun, bagi dia, “Adalah suara alam.”

Bisikan suara alam itu, kata dia, terserak di sekitar kita. Seperti daun kering yang berserakan di kebon jati. Dalam karya yang berjudul The Pinisi, Sarwoko melukiskan rangkaian ranting yang bentuknya menyerupai kerangka kapal. Di atasnya, beberapa lembar daun jati kering kecoklatan menjadi layarnya. Menurut dia, lukisan itu terinspirasi dari relief bergambar kapal pinisi di candi Borobudur, yang berlokasi tak jauh dari rumahnya.

Borobudur dan kapal pinisi, kata dia, adalah cermin budaya masa silam yang terus abadi sampai kini. Ada semangat totalitas dalam penciptaannya hingga terus bertahan ratusan tahun. Ironisnya, semangat itulah yang kini diabaikan banyak orang saat ini.

Widoyo dengan celeng dan umpatannya serta Sarwoko dengan suara alam dan daun jati keringnya adalah dua hal berbeda. “Suatu yang kontras,” kata kritikus seni rupa asal Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo.

Namun ada satu benang merah yang menghubungkan ide mereka. “Widoyo berbicara tentang kondisi sekarang,” kata Suwarno. Adapun Sarwoko, “Reflektif kontemplatif tentang masa lampau dan yang akan datang.”

Karya Widoyo yang berjudul Egois dan Awas Hati-Hati, bercerita tentang seekor babi hutan berwarna yang mengangkangi bola dunia bergambar peta Indonesia. Betapa keserakahan telah menjadi panglima di negeri ini. Dalam karya lain, judulnya Eksekusi, Widoyo seolah menawarkan solusi. Lima ekor babi tergantung dengan seutas tali di leher dan moncongnya. Di bawah babi-babi itu, sebuah kalimat, “Eksekusi Celeng I” tertulis. Widoyo menawarkan mengeksekusi keserakahan itu.

Suwarno menilai, karya Widoyo cenderung ekspresionis. Tak banyak detail lukisan yang ditampilkan. Gambar lelaki penggantung babi misalnya, coretan kuasnya tak menampilkan sosok manusia secara detail. Namun sekilas, orang yang melihat pun akan menangkap bahwa itu adalah gambar seorang lelaki. Adapun karya Sarwoko cenderung surealistik. Dalam karyanya yang berjudul the Journey misalnya, gambar daun dan bayinya nyaris berukuran sama besarnya.

Secara umum, karya keduanya memang cukup bagus. Namun demikian ada beberapa kelemahan yang masih dilihatnya. Suwarno melihat, satu sampai dua karya Sarwoko tidak terlalu kuat. “Kurang dramatis, hingga pesan yang disampaikan kurang terbaca,” kata dia.

Sementara karya Widoyo yang berjudul Nyanyian Sumbang, dia lihat tak sesuai antara tema dan karya. Karya itu berupa 12 microphone yang diletakkan melingkari sebuah patung berbentuk mulut di atas kanvas. Urutan pengeras suara itu harmonis. Dan itu, justru kontas tema sumbang yang diusung.

ANANG ZAKARIA






Hasil Karya Police Art Festival 2022 Dipamerkan di Bandara Soetta

31 hari lalu

Hasil Karya Police Art Festival 2022 Dipamerkan di Bandara Soetta

Tindak lanjut hasil karya seni dari teman disabilitas tidak berhenti di PAF 2022


Bertema Kematian, Jenderal Polisi Gelar Pameran Tunggal Lukisan di Bandung

56 hari lalu

Bertema Kematian, Jenderal Polisi Gelar Pameran Tunggal Lukisan di Bandung

Gelar pameran tunggal lukisan, Chryshnanda Dwilaksana meyakini seni merupakan suatu kekuatan manusia untuk bertahan hidup.


Gelar Pameran Tunggal Lukisan, Hardiman Tampilkan Seri Terbaru Ikan dan Jalak Bali

7 November 2022

Gelar Pameran Tunggal Lukisan, Hardiman Tampilkan Seri Terbaru Ikan dan Jalak Bali

Seniman Hardiman menggelar pameran tunggal lukisannya bertajuk Harakat Warna Hardiman di Galeri Griya Seni Popo Iskandar, Bandung.


Dua Aktivis Lingkungan Mengelem Tangan ke Lukisan Francisco Goya

6 November 2022

Dua Aktivis Lingkungan Mengelem Tangan ke Lukisan Francisco Goya

Dua aktivis lingkungan menempelkan tangan mereka ke bingkai dua lukisan karya master Spanyol Francisco Goya di museum Prado di Madrid.


Aktivis Lempar Kentang Tumbuk ke Lukisan Claude Monet Senilai Rp 1,7 T

24 Oktober 2022

Aktivis Lempar Kentang Tumbuk ke Lukisan Claude Monet Senilai Rp 1,7 T

Aktivis lingkungan melemparkan kentang tumbuk ke lukisan seniman Claude Monet di Jerman.


Makna Lukisan Macan Butet Kartaredjasa yang Khusus Diberikan kepada Ganjar Pranowo

16 Oktober 2022

Makna Lukisan Macan Butet Kartaredjasa yang Khusus Diberikan kepada Ganjar Pranowo

Siang tadi, Ganjar Pranowo bertemu sejumlah seniman kawakan Yogya yang tengah berkumpul di rumah Butet Kartaredjasa.


3 Minggu Berdiam di Studionya, SBY Hasilkan 17 Lukisan

11 Oktober 2022

3 Minggu Berdiam di Studionya, SBY Hasilkan 17 Lukisan

SBY mengungkapkan dengan melukis dapat mendatangkan kedamaian dalam hatinya sekaligus berharap dapat mengobati rasa rindu.


Sebelum Nonton Film Mencuri Raden Saleh Ketahui 2 Versi Lukisan Penangkapan Diponegoro

5 September 2022

Sebelum Nonton Film Mencuri Raden Saleh Ketahui 2 Versi Lukisan Penangkapan Diponegoro

Film Mencuri Raden Saleh meraih jutaan penonton dalam minggu awal penayangan. Tahukah Ada 2 Versi Lukisan Penangkapan Diponegoro?


Selain Mencuri Raden Saleh, Ini Film Pencurian Lukisan Lain: The Thomas Crown Affair

4 September 2022

Selain Mencuri Raden Saleh, Ini Film Pencurian Lukisan Lain: The Thomas Crown Affair

Iqbaal Ramadhan dan komplotannya Mencuri Raden Saleh. Peirce Brosnan curi lukisan Mobet di The Thomas Crown Affair.


Lukisan Potret Wapres Ma'ruf Amin Laku Terjual Rp1,5 Miliar

22 Agustus 2022

Lukisan Potret Wapres Ma'ruf Amin Laku Terjual Rp1,5 Miliar

Selain lukisan Ma'ruf Amin, berbagai karya seni ditampilkan di pameran "Nuansa Kemerdekaan" itu antara lain potret diri Presiden Jokowi hingga Anies