Parkit-Parkit Sarwoko

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Parkit itu telah mati. Warna bulunya kuning kecokelatan. Matanya memejam dengan tubuh lemas tak berdaya. Sebuah duri kecil menghujam tepat di dada, tembus hingga ke punggungnya. Seekor parkit lain dengan warna kehijauan pun mengalami nasib serupa. Mati tertembus duri.

    Mereka adalah binatang yang ringkih, kata Suitbertus Sarwoko, lelaki berusia 42 tahun, pelukis dua ekor parkit itu kepada Tempo di Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta, tempatnya berpameran.

    Berjudul Berserah Diri, dua parkit itu terlukis dalam dua panel kanvas berbeda. Dilukis dengan cat minyak, total ukuran lukisan itu mencapai 140x140 sentimeter. Bersama puluhan lukisannya yang lain, dan semuanya bergambar burung parkit, pameran bertajuk Puisi Parkit yang digelar sepanjang 22 Mei-5 Juni ini adalah pameran tunggal Sarwoko yang pertama.

    Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 1 Maret 1969, Sarwoko terinspirasi dari burung kecil itu. Tubuhnya ringkih dan warnya mencolok hingga tak jarang menempatkannya pada posisi berbahaya. Banyak yang ingin memangsa, kata dia. Bahkan dalam sekali tekaman yang terlalu erat dari tangan manusia pun, parkit bisa mati. Jadi harus hati-hati.

    Sifat kehati-hatian dalam bersikap dan menjalani hidup itulah yang memberinya inspirasi, bahwa manusia pun harus demikian. Berhati-hati menajalani kehidupan. Atau kalau tidak, nasibnya akan menjadi seperti parkit-parkit kecil itu.

    Dalam tiap karyanya, Sarwoko menghadirkan masalah-masalah yang dihadapi parkit. Dengan gaya lukisnya yang cenderung surealis, dia hadirkan parkit yang tersekap dalam kantong plastik tertutup. Badannya lemas sebelum akhirnya mati kehabisan napas. Cerita tentang itu bisa dilihat pada lukisannya yang berjudul Mencari Celah dengan ukuran 140X140 sentimeter.

    Bisa jadi inilah gambaran manusia dengan masalah yang dihadapinya. Dengan segala keringkihannya, maka kasih sayang dan dukungan orang-orang terdekat menjadi satu-satunya syarat bertahan. Seperti tergambar dalam lukisan berjudul Dont Worry Be Happy, Sarwoko melukis seekor bayi parkit menyandarkan tubuh dalam pelukan induk semangnya.

    Kurator Pameran, Mikke Susanto, mengatakan parkit merupakan personifikasi Sarwoko dan masalah yang dihadapinya dalam keluarga. Setiap individu memiliki sejarah yang harus dihormati, katanya.

    Lahir dari pasangan YB.Mulyowidarmo dan S.Karminah, Sarwoko merupakan bungsu dari 7 bersaudara. Sarwoko dan saudaranya, lanjut Mikke, bisa dilihat dari Life for Live bergambar tujuh ekor parkit.

    Beberapa waktu lalu, mereka terjebak dalam persoalan pembagian warisan keluarga. Sarwoko, seperti parkit kecil yang dilukisnya, adalah sosok ringkih yang terpinggirkan dalam masalah itu. Namun di balik keringkihan Sarwoko, tersimpan kebesaran hatinya.

    Bagi Sarwoko, tutur Mikke, masalah utama yang mesti dipelihara adalah cinta keluarga. Bukan perebutan warisan. Ide itu tergambar jelas dalam karya Sarwoko yang berjudul The Immortal Beloved, bergambar dua ekor parkit dengan percikan bulir air membentuk hati mengelilingi.

    Atau semangat Sarwoko menjaga keutuhan keluarganya yang tergambar dalam lukisan berjudul Menyemai Harapan. Dalam lukisan itu, Sarwoko melukis dua ekor parkit mematuk, membawa biji buah-buahan di mulutnya dan menyusunnya menjadi rumah. Ya, rumah. Bukan sarang berbentuk lingkaran dari jerami laiknya rumah burung.

    Mikke menjelaskan, Sarwoko adalah sosok perupa yang konsisten menggunakan idiom hewan dalam tiap karyanya. Misalnya, semut dan tenggoret pada karya lukisan sebelumnya. Tidak banyak perupa yang seperti itu (konsisten menggambar hewan sebagai obyek utama), kata Mikke.


    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.