Pancasila Rumah Kita, A Tribute To Franky Sahilatua  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Franky Sahilatua

    Franky Sahilatua

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejumlah seniman, penyanyi, dan artis sinetron muda, akan menghelat acara penghormatan untuk Frank Sahilatua, pemusik sekaligus aktivis yang telah tutup usia pada medio April lalu, dalam acara bertajuk “Pancasila Rumah Kita, A Tribute to Franky Sahilatua” di Graha Bhakti Budaya, Selasa, 31 Mei 2011.

    Para penyanyi dan artis sinetron, seperti Reza Rahadian, Atiqah Hasiholan, Teuku Wisnu, Shireen Sungkar, Glenn Fredly, Berlian Hutauruk, Tompi, dan Edo Kondologit akan tampil membacakan puisi dan narasi kebudayaan. Mereka juga akan memainkan beberapa lagu karya Franky yang sarat kritik sosial.

    “Acara penghormatan untuk Franky ini sekaligus mengingat kembali soal idealismenya, Pancasila sebagai rumah kita”, ujar Ratna Sarumpaet, seniman senior sekaligus pengagas acara tersebut.

    Acara yang digelar oleh Akar Indonesia bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Green Music Foundation, dan Kalyana Shira terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Rencananya, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Yudi Latif, akan membacakan pidato politik di akhir acara.

    Sekretaris Jenderal Dewan Kesenian Jakarta Abduh Aziz mengatakan acara “Pancasila Rumah Kita” menjadi aksi lanjutan dari kampanye merespons kondisi semakin pudarnya kesadaran masyarakat atas multilkulturalisme bangsa. Juga sebagai pengingat atas kesepakatan berbangsa (Pancasila dan Sumpah Pemuda) yang saat ini seolah hendak dibelokkan menjadi dominasi satu kelompok saja.

    “Kampanye bulan kemerdekaan bertajuk “Identitas untuk Semua” melalui berbagai program seni-budaya, serta Pidato Kebudayaan “Merawat Republik Dengan Akal Sehat” yang dihelat pada akhir tahun lalu, menegaskan kritik Dewan atas sikap diamnya pemerintah terhadap berbagai aksi kekerasan atas kelompok minoritas di tanah air,” jelas Abduh.

    NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.