Kucing Klowor Bicara Merapi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Siklus dan Sirkus".

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Belasan kucing itu beterbangan, terpental dari puncak gunung. Mereka memenuhi angkasa dengan berbagai pose, merangkak, telentang, dan terkapar hingga tegak berdiri. Di bawah mereka, sebuah gunung gagah berdiri dengan bermacam pohon tumbuh di sekelilingnya. Batang dan daunnya merah, jingga, hijau, putih, kuning, dan ungu.

    Ya, alih-alih melukis wedhus gembel (awan panas), perupa asal Yogyakarta, Klowor Waldiyono, justru mengunakan idiom hewan itu dalam lukisannya yang berjudul "Merapi III". Dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, 23-31 Mei 2011, lukisan berukuran 150 x 250 sentimeter itu menjadi satu di antara 34 karyanya yang dipamerkan dengan tema "Siklus dan Sirkus".

    "Ini saya siapkan sejak dua tahun lalu dengan rencana awal 54 lukisan," kata lelaki berusia 43 tahun lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta di sela pembukaan pameran, Senin, 23 Mei 2011.

    Dengan gaya kekanak-kanakan, lukisan Klowor didominasi rangkaian bulatan yang membentuk obyek. Perbandingan bentuknya tak seimbang. Kepala, kaki, tubuh, dan kepala kucing, misalnya, tak sebanding ukurannya. Demikian juga pepohonan dan gunung yang dilukisnya.

    Selain bentuknya yang naif-dekoratif, semua lukisan menempatkan kucing sebagai obyek utama. Dalam lukisan lain, "Karnaval", dengan ukuran 200 x 200 sentimeter, Klowor melukis pesta pora para kucing. Ada yang menari, merangkak, berjalan tegak di atas dua kaki, hingga berjoget dengan kaki mengapit kuda lumping.

    Klowor adalah perupa yang konsisten mengangkat kucing sebagai obyek utama dalam karyanya. Dua pameran tunggalnya bicara tentang kucing. Bedanya, pada pameran pertama di Bentara Budaya pada 1995, kucing-kucing Klowor berwarna hitam dan putih. Itu sesuai dengan tema pameran, "Hitam-Putih".

    "Seperti kucing yang ada di mana-mana, demikian juga manusia," kata dia menjelaskan alasan ketertarikannya pada kucing. Sifatnya pun hampir sama, "Ada yang manja ada yang lucu."

    Menurut dia, "Siklus dan Sirkus" adalah cerminan pengalaman pribadinya. Sebagai seorang perupa sekaligus sebagai seorang anak untuk orang tua. Pemberian kata "Siklus" dalam tema pameran keduanya ini memberi tanda bagi perkembangan kesenimanannya.

    Siklus seolah menjadi garis demarkasi pada karyanya terdahulu dan kini. Dari hitam-putih menuju corak yang lebih kaya warna atau dari melukis dengan ukuran kanvas berukuran "standar" menjadi lebih ekstrem.

    Dalam pameran kali ini, beberapa karya Klowor memang tampil dengan ukuran cukup besar. Misalnya, saja "Perahu Nuh" dan "Berebut Air Susu Ibu" yang masing-masing berukuran 200 x 500 sentimeter atau bahkan "Imajinasi Imlek" yang berukuran 250 x 750 sentimeter. Lukisan yang terakhir itu terdiri dari lima panel yang masing-masing berukuran 250 x 150 sentimeter.

    Lahir di Yogyakarta, 31 Januari 1968, Klowor berasal dari keluarga pemain sirkus. Gatot "Lelono" Tjokrowihardjo, bapaknya, adalah pemain akrobat yang populer di tahun 1960-1980-an. Menikah dengan Painten (meninggal tahun 2000), Gatot (meninggal tahun 2001) meninggalkan tujuh anak. Tak satu pun dari anak-anak itu yang mengikuti jejak sang ayah sebagai pamain sirkus atau akrobat.

    Meski urung menapaki jejak bapaknya, kecintaan Klowor pada orang tua dan profesinya tak luntur. Seperti juga ketertarikannya pada kucing, Klowor secara khusus mengenakan kostum badut berbentuk kucing dalam pembukaan pamerannya.

    Kurator pameran ini, Kuss Indarto, membenarkan tak banyak perupa yang konsisten mengangkat hewan dalam karyanya. Apalagi yang mengkhususkan diri melukis kucing. Sepanjang ingatannya, selain Klowor, perupa lain yang konsisten menjadikan kucing sebagai tema dan obyek utama adalah Popo Iskandar, asal Bandung. "Bedanya lukisannya lebih sederhana, sementara Klowor cukup detail dan kompleks," kata dia.

    Detail dalam lukisan Klowor, kata Kuss, hampir sama dengan pola isian dalam membatik. Tak ada ruang tersisa tanpa coretan di atas kanvas. Dan, di dalam pola-pola yang dilukis, Klowor memasukkan warna-warna ceria. Pola-pola pewarnaannya pun cukup kreatif.

    Klowor, kata Kuss, menerapkan cara menumpuk warna sehingga tak heran jika warna-warna dalam lukisan klowor terdegradasi sempurna, misalnya dari merah pekat, merah, hingga yang lebih terang. "Lebih eksploratif dan kreatif," kata Kuss membandingkan karya Klowor kini dan sebelumnya.

    Kuss menempatkan karya Klowor berada di antara aliran modern dan kontemporer. Meski dia yakin, Klowor tak pernah berpikir ke arah sana, namun karya semacam itu bisa memperkaya referensi bagi dunia seni rupa.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?