Umpatan Sunda dalam Syair Deden Sambas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung - Kata-kata makian meradang di tembok putih, warnanya merah, bernada kasar dan lugas. Bentuk hurufnya yang kaku, disusun dari bentangan karet gelang dan mur besi sebagai tambatannya. Kumpulan kata-kata "kotor" itu disajikan seniman Deden Sambas dalam pameran "Syair Lisan" di Common Room, Bandung, 20 Mei hingga 2 Juni 2011. Seluruh umpatan itu dalam bahasa Sunda, seperti gantung bangsat duit (gantung maling uang) dan duruk huluna (bakar kepalanya). Makian yang lainnya bahkan lebih kasar.

    Menurut Deden, inspirasi karyanya ini berawal dari ingatan masa kecilnya tentang kata-kata umpatan yang didengarnya. "Ternyata sampai sekarang kata-katanya masih ada dan sama, hanya orang yang mengucapkannya saja yang beda," kata seniman kelahiran Bandung, 15 Juni 1963 itu. Dia lalu mengumpulkan dan mendapat 100 lebih kata dan kalimat umpatan yang lestari.

    Bagi seniman yang masuk 10 besar Phillip Morris Indonesia Art Awards 1994 tersebut, fenomena lontaran umpatan itu menarik. Kata-kata makian bisa keluar begitu saja tanpa pertimbangan akal, bahkan nyaris tidak disadari akibat kondisi peristiwa tertentu. "Dalam pikiran saya, setiap manusia memproduksi kata-kata seperti itu," katanya.

    Penuturnya bisa orang yang berpengetahuan luas, taat beragama, atau sebaliknya. Saat kata-kata itu terlontar, ia menenggelamkan sesaat ilmu, etika, moral, dan ajaran agama yang dianutnya. Deden juga yakin, di belahan bumi mana pun, orang membuat dan pernah memakai kata-kata makian dalam hidupnya. Tentu dengan bahasa mereka sehari-hari. "Saya pakai bahasa Sunda untuk menegaskan di titik kecil atau lokalitas, bahasa itu juga bersifat universal," katanya.

    Ia menilai orang yang mengumpat itu secara kejiwaan dan pikiran berada dalam situasi yang paling kritis karena tengah dikuasai oleh nafsu sehingga kehilangan akal sehat. Situasinya bisa berbeda kalau kata-kata itu disampaikan secara tertulis. "Kalau ditulis mungkin orang akan berpikir lagi," katanya.

    Untuk mendekati kondisi itu, Deden memakai rentangan karet merah yang ditambatkan ke mur sebagai pengganti garis huruf. Kelenturan karet identik seperti lisan atau bahasa sekaligus kekuatannya. "Dia bisa membentuk dan dibentuk apa pun dan persoalan bahasa sampai hari ini juga belum selesai," kata dia.

    Adapun mur yang dipakai dan melubangi dinding melambangkan banyaknya kata-kata makian yang tertanam di otaknya sejak kecil. "Dengan paku melubangi tembok, itu sangat melukai dan menyakiti," kata seniman yang kerap berpindah rumah itu.

    Sadar akan pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh karyanya kali ini, Deden memasang peringatan di pintu masuk. Bagi pengunjung pameran yang berusia di bawah 18 tahun, ia minta agar sebaiknya didampingi orang tua.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.