Nuansa Politik di Festival Film Cannes  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cannes - "Iran Censures Politicization of Cannes Festival" (Iran Mengecam Politisasi Festival Film Cannes). Begitu bunyi judul berita di surat kabar Iran berbahasa Inggris, Kayhan International, edisi Kamis, 12 Mei 2011. Terjemahan bebas alinea pertama dari berita tersebut berbunyi, "Menteri Iran untuk urusan budaya dan panduan Islam melancarkan kritik terhadap penyelenggara Festival Film Cannes (FFC) karena posisi politik yang mereka ambil dalam mendukung sutradara Iran dari kelompok oposisi, Jafar Panahi dan Mohammad Rasoulof."

    Menurut Menteri Mohammad Hosseini, sebagaimana dikutip koran tersebut, sikap pengelola FFC itu tidak dapat diterima oleh Pemerintah Iran. "Kami berpendapat karena FFC adalah satu peristiwa dunia, pengelolanya haruslah tidak mengambil posisi yang bias seperti sekarang ini," ujarnya.

    Komentar keras dari seorang pejabat penting di Negeri Ahmadinejad itu merupakan reaksi terhadap keputusan pengelola FFC untuk memasukkan film Be Omid e Didar (Selamat Tinggal) karya Mohammad Rasoulof dan In Film Nist (Ini Bukan Film) karya Jafar Panahi ke dalam daftar resmi film-film yang diundang untuk ditayangkan di FFC. Pengumumannya sendiri disampaikan oleh panitia agak terlambat, yakni empat hari menjelang pembukaan FFC ke-64, yang berlangsung pada 11-22 Mei.

    Keterlambatan mengumumkan kedua judul film itu sebagai undangan resmi FFC tentulah merupakan buah dari berbagai pembatasan yang sedang dialami oleh kedua sutradara Iran tersebut. Keduanya menerima keputusan pengadilan pada tanggal yang sama, 20 Desember 2010. Rasoulof mendapat enam tahun penjara dengan tuduhan melakukan tindakan "berkumpul, bersekongkol, dan menyebarkan propaganda melawan Pemerintah Iran".

    Panahi juga menerima hukuman enam tahun penjara, ditambah larangan selama 20 tahun menyutradarai, menulis skenario, dan memberi kesempatan wawancara dalam bentuk apa pun kepada media Iran maupun media luar negeri. Ini masih ditambah lagi dengan larangan untuk keluar dari Iran. Jafar dan Mohammad sama-sama mengajukan permohonan banding atas putusan yang dijatuhkan hakim.

    Dalam edarannya untuk media, panitia FFC menyebutkan bahwa kedua sutradara tersebut menyelesaikan film mereka dalam kondisi "setengah klandestin alias mencuri-curi". Film Mohammad yang masuk di Seksi Sorotan Khusus--salah satu seksi di FFC yang peringkatnya persis di bawah Seksi Kompetisi Utama--bercerita tentang seorang pengacara perempuan yang sedang menantikan akreditasinya untuk berpraktek sebagai pengacara, juga menantikan pengajuan permohonan visanya untuk pergi meninggalkan Iran. Saat ditayangkan perdana di Teater Debussy, Sabtu, 14 Mei, film ini mendapat sambutan hangat dari para penonton, yang sebagian besar adalah wartawan.

    Penggarapannya cukup rapi jika diingat bahwa pengambilan gambar dilakukan secara klandestin, dengan pesan utama pembatasan yang dihadapi mereka yang mengambil sikap oposisi di Iran. Adapun film Panahi mengisahkan penantiannya akan putusan pengadilan yang bakal dijatuhkan kepada dirinya. Film ini digarapnya bersama Mojtaba Mirtahmasb, seorang sutradara dokumenter yang juga pernah menjadi asisten sutradara.

    Dalam pernyataan resminya, pemimpin tertinggi FFC, Gilles Jacob, dan Direktur Utama FFC, Thierry Fremaux, memberi penghormatan yang tinggi terhadap kedua sutradara Iran tersebut. Situasi yang sangat tak mudah bagi mereka dalam menggarap dan menyelesaikan film tersebut merupakan cermin nyata eksistensi seorang sutradara.

    "Mengirim karya mereka ke Cannes, pada saat mereka menghadapi putusan hukum berat yang ditimpakan kepada mereka, merupakan tindakan yang berani sekaligus menyiratkan pesan artistik yang luar biasa," demikian pernyataan tertulis Gilles Jacob dan Thierry Freamux.

    FFC memang terkenal dengan "muatan politiknya" sehingga selalu memberi tempat bagi para sutradara yang tengah menghadapi situasi sulit di negeri mereka. Dan bukan kali ini saja FFC menerapkannya terhadap sutradara Iran. Pada 1997, saat FFC merayakan ulang tahunnya yang ke-50, film The Taste of Cherry karya sutradara terkemuka Iran lainnya, Abbas Kiarostami, juga masuk dalam Seksi Kompetisi Utama pada menit-menit terakhir. Dewan juri, yang saat itu diketuai oleh aktris Prancis, Isabelle Adjani, menganugerahkan Palem Emas--penghargaan tertinggi FFC--untuk film itu.

    Satu lagi bukti yang terang mengenai "muatan politik" FFC adalah saat Michael Moore menggondol Palem Emas untuk filmnya yang sangat fenomenal, Fahrenheit 9/11. Film dokumenter ini berisi kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Presiden George W. Bush, yang berujung pada peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001.

    Tampaknya, jika politik berbicara, risiko apa pun akan diambil oleh pengelola FFC. Juga oleh para jurinya. Termasuk juga pada tahun ini, harus menerima keberatan serius dari pihak Pemerintah Iran.


    WANGI KUNTUM MELATI (CANNES)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?