Tafsir Novel Sumarah dalam Lukisan Donikabo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukisan sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam karya perupa muda Donikabo.(TEMPO/ANANG ZAKARIA)

    Lukisan sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam karya perupa muda Donikabo.(TEMPO/ANANG ZAKARIA)

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Perupa muda Donikabo, 32 tahun, menampilkan lukisan yang mengangkat sosok Sri Sumarah dalam novel Umar Kayam. Mengambil tema Sumarah, enam lukisannya yang berisi sosok perempuan berkerudung dengan gelang dan arloji melingkar di tangannya dipamerkan di Sangkring Art Project Yogyakarta, sepanjang 12-20 Mei 2011. “Ini adalah interupsi saya, bahwa kini Sumarah (lebih banyak murung),” kata Donikabo, perupa kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu.


    Mengambil latar bekalang Indonesia di tahun 1965, novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam diterbitkan pertama kali pada 1975. Dikisahkan, Sumarah adalah sosok perempuan yang pasrah atawa sumarah dalam bahasa Jawa. Sumarah digambarkan sebagai perempuan yang tegar dengan berbagai derita hidup yang silih berganti menimpa. Pasrah dijodohkan dengan Mas Marto lantas ditinggal mati lelaki yang belakangan menjadi suaminya itu. Dengan kondisi itu, dia harus banting tulang menghidupi Tun, buah hatinya.


    Derita tak berakhir di sini. Setelah besar, Tun ternyata diketahui hamil di luar nikah lantas menikah dengan Yos yang dibunuh karena tudingan terlibat PKI. Tun pun ditahan. Dan kini, tinggallah Sumarah yang harus menanggung penghidupan Ginuk, cucunya. Semua derita hidup, dilalui Sumarah dengan senyum.


    Pembaca karya Donikabo, Hendra Himawan, mengatakan, Donikabo mencoba memaknai ulang Sumarah, yang disebutnya sebagai cermin kepribadian perempuan Jawa. Ia sebagai seorang perempuan, ibu, dan manusia biasa. Sumarah dipaksa tersenyum dalam berbagai kondisi oleh lingkungan. “Ada ketegangan-ketegangan yang tergambar dalam Sumarah,” ujar Hendra.


    Hendra menyatakan, Donikabo memang terinspirasi dari Sumarah karya Umar Kayam. Realitas Sumarah itu lantas direnungkan sesuai pengalaman hidupnya. “Kabo dibesarkan oleh ibu yang single parent,” Hendra menuturkan.


    Melalui Sumarah dan pengalaman hidup yang dialami, Donikabo lantas membandingkan dengan kondisi perempuan dalam masyarakat saat ini. “(perempuan) harus tersenyum meski sedih, jatuh tapi harus bangun, hingga menyerah atau bertahan,” ujar Hendra.


    Maka, membaca realitas perempuan saat ini, tak bisa hanya sepotong. Seperti membaca karya Donikabo yang dipamerkan. “Karena itu satu kesatuan,” kata Hendra menjelaskan.



    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.