Empat Perempuan Bersaing di Festival Film Cannes

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cannes - Walaupun selalu terlihat kalem, Thierry Fremaux, direktur Festival Film Cannes, sempat gusar. Tahun lalu ia dikritik, terutama oleh kalangan perempuan, karena tidak memilih satu pun karya sutradara perempuan di seksi kompetisi utama. Padahal, pada 2009 ada tiga sutradara perempuan yang ikut festival, yakni Jane Campion (Bright Star), Isabel Coixet (Map Of The Sounds Of Tokyo) dan Andrea Arnold (Fish Tank).

    "Tahun lalu memang belum ada karya yang pantas masuk kancah perebutan Palem Emas. Patut dicatat dan digarisbawahi bahwa festival ini menomorsatukan kualitas. Dengan kualitas yang sama, kami memilih film-film untuk berkompetisi tahun ini. Kami tidak membedakan karya berdasarkan gender," kata Fremaux diplomatis pada Kamis, 12 Mei 2011.

    Tapi, dalam festival tahun ini, yang berlangsung 11-22 Mei 2011 di Cannes, Prancis, tampaknya akan banyak karya sutradara perempuan yang layak berkompetisi. Fremaux memilih empat sutradara perempuan untuk maju ke medan laga itu, jumlah terbanyak dalam sejarah festival yang memasuki usia ke-64 tahun. Mereka adalah Julia Leigh (Sleeping Beauty), Naomi Kawase (Hanezu No Tsuki), Maiween Le Besco (Polisse) dan Lynne Ramsay (Let's Talk About Kevin).

    Jajaran sutradara perempuan ini bisa jadi bertambah di menit-menit terakhir. Andrea Arnold, sutradara perempuan asal Inggris yang sedang menggarap Wuthering Heights, adaptasi novel karya Emile Bronte dengan judul yang sama, dikabarkan sedang berusaha memenuhi tenggat waktu untuk bisa masuk jajaran seleksi.

    Dalam sejarahnya, satu-satunya sutradara perempuan yang pernah mendapatkan Palem Emas hanyalah Jane Campion lewat The Piano (1993). Bukan tidak mungkin akan ada catatan sejarah baru di tahun 2011 ini.

    Asmayani Kusrini (Cannes)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.