Fenomena Industri Rekaman Banyuwangi dan Munculnya Produser Dadakan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CD album musik tradisional Banyuwangi yang di produksi oleg produser-produser lokal.(TEMPO/IKA NINGTYAS)

    CD album musik tradisional Banyuwangi yang di produksi oleg produser-produser lokal.(TEMPO/IKA NINGTYAS)

    TEMPO Interaktif, BanyuwangiDi Banyuwangi, sebuah kabupaten di timur Jawa, industri rekamannya begitu bergairah. Puluhan studio rekaman menjamur hingga ke desa-desa. Banyak di antara para petani mendadak ingin mejadi produser rekaman. Bergairahnya industri rekaman di sana juga melahirkan sejumlah superstar lokal. Lagu-lagunya digandrungi, albumnya meledak, dan mereka kebanjiran undangan pentas di sejumlah tempat, bahkan hingga ke luar Banyuwangi.


    Berikut catatan seputar fenomena bergairahnya industri rekaman di Banyuwangi, Jawa Timur:

     

     

    ****

     

     

    Lagu Banyuwangi yang dinyanyikan biduanita Ratna Antika menyeruak dari balik ruangan seluas sekitar 50 persegi. Dengan volume cukup tinggi, lagu berirama dangdut koplo itu diputar berulang kali. Victor Rayllaya duduk di depan dua layar LCD. Ia takzim mendengar lagu yang diputarnya itu. Sesekali ia harus mengutak-atik program di komputer ketika musik terasa kurang pas di telinganya.

     

    Begitulah suasana di studio rekaman Lharos milik Victor Rayllaya di Jalan Argopuro, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, suatu siang pada pengujung Maret lalu. Siang itu Victor harus merampungkan proses mixing album Banyuwangi berjudul Best of The Best Ratna Antika itu. "Proses rekaman sudah dilakukan awal Februari lalu," ujar pria 30 tahun ini.

     

    Studio rekaman Lharos boleh dibilang cukup sederhana. Ruangan seluas 50 meter persegi disekat menjadi dua bagian dengan sebuah kaca di tengahnya. Satu ruangan untuk take voice, ruangannya lainnya untuk operator. Seluruh dindingnya dilapisi karpet abu-abu untuk meredam suara.

     

    Selain dua layar LCD, di ruangan operator nampak sebuah mixer kecil, Audio interface coolvarter, tiga buah organ, dan dua monitor studio. Dari seluruh perlengkapan itu, Audio Interface memiliki harga termahal sekitar Rp 17 juta. Alat ini berfungsi untuk mengubah suara analog menjadi suara digital. Menurut Victor, sebenarnya studio rekamannya masih kecil. Skalanya masih industri rumahan atau home industry.

     

    Meski begitu, Lharos adalah salah satu studio rekaman yang ikut mendorong bergairahnya industri rekaman di Banyuwangi. Berdiri pada 2002, Lharos merupakan hasil patungan Victor dengan ayahnya, Johny MC, dengan modal awal sekitar Rp 25 juta.

     

    Johny MC adalah seorang pencipta lagu dan arranger musik yang sudah berkecimpung di dunia rekam-merekam lagu Banyuwangi sejak 1985, bekerjasama dengan Nirwana Record, Surabaya, Jawa Timur. Sekitar 50 penyanyi dan 100 album pernah ditangani Johny MC. Beberapa nama bahkan melejit menjadi penyanyi Ibu Kota, seperti Emilia Contessa dan Nini Karlina.

     

    Memang, sebelum Banyuwangi memiliki studio rekaman sendiri, musisi harus merekam lagu-lagunya di Surabaya. Padahal jika rekaman di Surabaya ongkos produksinya cukup besar. Menurut Victor, sewa studio di Surabaya dihitung per shift (enam jam) bisa mencapai Rp 450 ribu. Untuk album minimal 10 shift. Biaya ini belum termasuk transportpulang-pergi, sewa hotel, dan makan-minum. "Satu album bisa satu bulan nginepdi hotel," kata Victor. Bila rekaman sendiri di Banyuwangi, produser hanya cukup membayar sewa studio dan aransemen musik yang besarnya sekitar Rp 12 juta per album.

     

    Nah, peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh Victor bersama ayahnya. Benar saja, sejak studionya berdiri ia kebanjiran order rekaman. Banyak produser lokal yang memindahkan proses rekamannya dari Surabaya ke Banyuwangi. Victor kemudian membenahi peralatan studionya. “Awalnya peralatannya sederhana, kemudian saya bertahap membeli yang lebih canggih,” ujar pria yang hanya lulusan SMA ini.

     

    Langkah Victor itu kian menambah bergairahnya industri rekaman lokal Banyuwangi. Sejak tiga tahun terakhir, pertumbuhan studio rekaman skala rumahan di Banyuwangi semakin marak. Diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 50 studio yang tumbuh di desa-desa.

     

    Dan menjamurnya studio rekaman lokal itu diikuti dengan munculnya produser, pencipta lagu, dan penyanyi dadakan yang sebelumnya nyaris tak akrab di telinga masyarakat Banyuwangi. Album-album baru pun membanjiri pasar. Bila sebelum 2008 hanya ada 1-2 album baru, kini jumlahnya lebih dari 15 album dalam sebulan. Harga rata-rata album tersebut sekitar Rp 10 ribu per kepingnya.

     

     

    *****

     

     

    Semakin mudahnya proses rekaman membuat sejumlah produser akhirnya bermunculan. Mereka yang berhasil memiliki bendera diantaranya Sandi Record, Khatulistiwa Record, Gemini Record, dan Scorpio Record.

     

    Muhammad Sandi, 35 tahun, pemilik perusahaan rekaman Sandi Record, mengatakan, bisnis rekamannnya berdiri pada 2002 dengan modal Rp 200 juta. Album pertama yang diluncurkan bertajuk Kembang langsung laris manis di pasaran dengan mencetak angka 70 ribu keping.

     

    Kesuksesan ini, membuat Sandi yang semula berbisnis elektronik memutuskan fokus menggeluti dunia musik. Hingga kini sudah 100 album Banyuwangi yang ia lempar ke pasar. Lima puluhan artis juga telah ia terbitkan, di antaranya Catur Arum, Reni Farida, Dian Ratih, dan Adistya Mayasari.

     

    Salah satu album yang meledak adalah Kangen. Album hasil kolaborasi penyanyi Adistya Mayasari dan grup Rollas (Rogojampi Orkestra Lare Asli Banyuwangi) yang diluncurkan pada 2006 itu mencatat angka tertinggi sepanjang sejarah musik Banyuwangi dengan penjualan lebih dari 100 ribu kopi.

     

    Yang jelas, album-album keluaran Sandi Record itu tak hanya dipasarkan di Banyuwangi, tapi sudah merambah puluhan kota lainnya, meliputi seluruh Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi.

     

    Sandi menceritakan, dia sudah berjaringan dengan puluhan distributor yang memasarkan album hingga ke pedagang kaki lima. Ia memiliki empat armada yang siap mengantar album ke berbagai distributor. Untuk daerah-daerah tertentu, album dikirim via paket. Dari perusahaannya, satu keping album dilempar dengan harga Rp 7.500. Di tingkat distributor menjadi Rp 8.500. Sampai di tangan konsumen harga paling rendah Rp 10 ribu per keping.

     

    Sandi mengakui, dari ratusan album memang tidak seluruhnya sukses. “Banyak di antaranya yang gagal,” kata Sandi di studionya Jalan Ikan Sadar No 3, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Menurut Sandi, kegagalan sebuah album disebabkan banyak faktor. Seperti materi lagu yang kurang mengena di pasar, penyanyi kurang terkenal, dan kejenuhan konsumen pada warna lagu.

     

    Sebelum 2006, Sandi menuturkan, lagu-lagu Banyuwangi masih bercorak tradisional, seperti kendang kempul dan patrol sehingga sulit diterima pasar di luar Banyuwangi. Setelah penjualan album tradisional mulai turun, Sandi membuat kejutan di pengujung 2006. Dia mengkolaborasikan lagu Banyuwangi dengan sentuhan musik modern seperti house, disko, dangdut dan rock koplo.

     

    Feeling musiknya tepat. Album Disco Etnik yang diluncurkan meraup penjualan sekitar 50 ribu kopi. "Untuk seterusnya album etnik beraliran modern laku terus di pasar," ujar Sandi.

     

    Sejak saat itu warna musik Banyuwangi berubah drastis. Bahkan hingga 2011 ini, musik Banyuwangi beraliran modern masih mendominasi di pasar. Aksi panggung penyanyi pun, yang sebelumnya tenang, berubah menghentak-hentak dengan goyangan erotis.

     

     

    ****

     

     

    Bergairahnya industri rekaman di Banyuwangi kemudian menciptakan sebuah mata rantai yang saling bergantung satu sama lain, antara produser, pencipta lagu, dan penyanyi. Namun hubungan ini tidak diikat seketat industri rekaman di tingkat nasional. Tidak ada perjanjian hitam di atas putih di antara mereka. Pun, tak ada pembagian royalti.

     

    Menurut Johny MC, pembuatan album dilakukan dengan sistem lepas alias tanpa royalti. Dengan sistem itu, produser hanya membayar satu kali mulai honor penyanyi, pencipta lagu, aransemen musik, dan grup musik pendukung.

     

    Honor pencipta lagu antara Rp 200 ribu-Rp 2 juta per lagu. Honor penyanyi paling murah Rp 300 ribu dan termahal Rp 4 juta per lagu. Honor penyanyi ini tergantung seberapa terkenalnya mereka. Penyanyi baru biasanya dibanderol paling rendah. Berbeda untuk penyanyi yang albumnya pernah meledak. Catur Arum merupakan penyanyi termahal dengan honor Rp 4 juta untuk satu lagu.

     

    Setelah itu, karya musik menjadi milik produser seutuhnya. "Apabila album meledak di pasar, ya, produser diuntungkan," kata dia. Sistem lepas ini tidak memungkinkan bagi pencipta dan penyanyi mengatrol berapa angka penjualan albumnya. "Yang mereka tahu pokoknya album meledak," Johny menambahkan.

     

    Sistem lepas ini juga berlaku pada jual-beli master. Dalam sistem ini, musisi menjual master album yang telah didanainya sendiri kepada produser. Kalau produser tertarik, maka master akan dibeli dan menjadi hak produser sepenuhnya. Harga master ini biasanya dua kali lipat dari ongkos produksi. Johny biasanya membanderol master albumnya hingga Rp 50 juta.

     

    Ya, industri rekaman di Banyuwangi yang belakangan ini begitu bergairah memang sangat menggiurkan. Hal itu memunculkan sebuah fenomena baru: munculnya para produser dadakan. Seolah-olah siapa pun kini bisa menjadi produser asalkan punya duit.

     

    Victor Rayllaya bercerita, dia sering didatangi produser baru yang ternyata tidak paham mengenai seluk-beluk musik. Mereka kebanyakan tergiur setelah salah seorang bercerita tentang keuntungan yang bisa diraup kalau albumnya meledak di pasar. "Setelah saya tanya, ternyata mereka ini cuma petani biasa,” katanya. “Padahal kalau albumnya tidak laku, habislah mereka."

     

     

    IKA NINGTYAS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?