Sembilan Film Berkompetisi di Festival Film Solo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Enny Nurhaeni (REUTERS), Kemal Jufri (IMAJI), Julian Sihombing (KOMPAS), Oscar Motuloh (ANTARA) dan Seno Gumira Aji Dharma berdiskusi saat penjurian Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009 di Galeri Cemara, Jakarta.(DOK.PFI)

    Enny Nurhaeni (REUTERS), Kemal Jufri (IMAJI), Julian Sihombing (KOMPAS), Oscar Motuloh (ANTARA) dan Seno Gumira Aji Dharma berdiskusi saat penjurian Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009 di Galeri Cemara, Jakarta.(DOK.PFI)

    TEMPO Interaktif, Surakarta - Sembilan film pendek fiksi bakal berkompetisi di Festival Film Solo yang akan digelar di Gedung Kesenian Surakarta Sriwedari, 4-7 Mei 2011. Para sineas memperebutkan trofi dalam bentuk keris.

    Direktur Festival Film Solo, Ricas CWU, menjelaskan panitia telah menerima 190 film pendek yang dikirimkan calon peserta. "Tapi, hanya 169 film pendek lolos seleksi administrasi," katanya, Selasa, 3 Mei 2011. Setelah dinilai kurator, hanya sembilan film yang berhak ikut festival. Sayangnya, dari sembilan film pendek fiksi itu, tak satu pun karya sineas Surakarta yang mampu masuk.

    Film yang tampil dalam festival itu akan dibagi dalam dua kategori, yaitu kategori Ladrang Award dan Gayaman Award. Ladrang Award diperuntukkan bagi peserta umum dalam skala nasional, sedangkan kategori Gayaman Award diperuntukkan khusus untuk pelajar Jawa Tengah.

    Katagori Ladrang Award diikuti film Territorial Pissing (Jakarta), Perjalanan untuk Kembali (Jakarta), Wrong Day (Palu), Say Hello to Yellow (Yogyakarta), dan Bermula dari A (Yogyakarta).

    Sementara itu, kategori Gayaman Award akan diikuti oleh film berjudul Endhog (Purbalingga), Kalung Sepatu (Purbalingga), Kirab (Pati), dan Pigura (Purbalingga). "Hanya ada lima judul dari Surakarta dan tak lolos seleksi,"” kata Ricas. Selain sembilan film itu, festival akan memutar film pendek karya sineas yang memiliki reputasi nasional dan internasional.

    Proses kurasi festival dilakukan tiga kurator, Bayu Bergas (menilai ide cerita), Joko Narimo (teknis film), dan Ayu Mitha Rahadila (musik). Menurut Ricas, banyak karya peserta yang terpental lantaran menggunakan musik karya musisi yang telah populer tanpa izin. "Kami mengedepankan hak atas kekayaan intelektual," kata dia.

    Salah seorang kurator, Bayu Bergas, menjamin sembilan film yang lolos seleksi memiliki kualitas baik. "Penilaian akan diberikan juri bereputasi tinggi," kata Bayu. Juri dalam festival itu adalah Seno Gumira Ajidarma, Swastika Nohara, dan Joko Anwar.

    Menurut dia, panitia tak akan menyensor semua film. Mereka juga tak akan mendaftarkan film-film itu ke Badan Sensor Film sebelum ditayangkan. "Kami mengganggap pemerintah tak memiliki visi jelas terhadap kebudayaan, khususnya perfilman," kata Bayu.

    Namun, dalam pemutaran film-film tertentu, mereka membatasi usia penonton. Ada beberapa film yang hanya boleh disaksikan orang berusia 18 tahun ke atas. Bayu berjanji panitia akan meneliti kartu identitas penonton yang diduga berusia di bawah 18 tahun.

    Selain sembilan film tersebut, festival juga akan memutar layar tancap di 26 lokasi secara serentak, Jumat mendatang. "Film yang diputar merupakan karya masyarakat setempat dan merupakan film dokumenter," kata Bayu.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.