Komik Nakal Sang Malaikat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - "Suatu malam Batman berantem dgn penjahat yg sangat kuat hingga kostum dan topengnya rusak." Narasi itu tertulis di bagian depan permukaan celengan. Bahannya terbuat dari tembikar dan berbentuk kubus dengan cat dasar kuning tua. Tak besar volumenya, hanya seukuran kotak sepatu. Itu babak pertama.

    Adapun babak kedua komik langsung tertulis bagian belakang celengan. Narasinya sama singkatnya dengan babak pertama dan sekaligus menjadi penutup cerita sang superhero. "Keesokan paginya Batman mulai menabung, agar bisa membeli kostum dan topeng baru."

    "Celengan Cerito", demikian karya itu diberi nama, merupakan salah satu komik karya seorang pemuda berjuluk Malaikat yang dipamerkan di Kedai Kebun Forum Yogyakarta dari 27 April hingga 20 Mei 2011.

    "Mana mungkin Batman kehabisan kostum sampai harus menabung untuk membeli yang baru," kata perupa yang enggan menyebut nama aslinya itu, Rabu, 27 April 2011. Yang jelas, komik Batman dan celengan yang dibuatnya telah mengingatkan tiap orang untuk selalu menabung.

    Seperti umumnya komik, dia selipkan gambar kartun sebagai pelengkap cerita yang dituliskan. Dalam komik Batman, gambarnya terkesan amatiran dan ala kadarnya. Sosok Batman tergambar sedang meninju musuhnya. Entah siapa namanya. Yang jelas, dia bersenjatakan tongkat gerigi. Alih-alih senjata itu sejenis Gada Wesikuning senjata pamungkas Prabu Minakjinggo, nyatanya senjata itu berasal dari durian yang diikat dengan tali.

    Yang lebih menggelikan, seperti apa kostum baru sang superhero? Perupa asal Surabaya itu menggambarkannya dengan topeng-topeng kertas yang biasa dijual pada perayaan Mauludan di pasar-pasar. Benar-benar jauh dari cerita Batman yang diputar di film-film.

    Gagal menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Malaikat lantas menekuni dunia tulis-menulis skenario film pendek. Komik pertamanya baru dibuat pada 2007. Sejak itu, dia mulai aktif mengikuti pameran-pameran seni rupa, baik tunggal atau bersama, di Surabaya dan Yogyakarta.

    Di antara pameran itu ada pamerannya bersama Vivid Animamix di Jogja National Museum (2008), Family Value di Museum dan Tanah Liat Yogyakarta (2009), serta Codex Code di Surabaya (2010). Adapun pameran tunggalnya adalah "First Step to Aurora" di Via-Via Cafe Yogyakarta (2009) dan "The Boy Who Has One Finger" di Kedai Kebun Forum Yogyakarta kali ini.

    Dalam "The Boy Who Has One Finger", ide cerita komik Malaikat mengalir deras di berbagi media, yaitu di atas kertas dan tembikar, fiberglass, dan kayu berbagai bentuk. Ide ceritanya sederhana. Umumnya, kata dia, ide diperoleh dari obrolan di warung kopi dan pemandangan sehari-hari di sekitarnya.

    "Awalnya saya menggunakan media konvensional, kertas. Namun, karena kebutuhan pameran, lantas berkembang ke berbagai media," kata dia.

    Dari sisi cerita dan kualitas gambar yang ditampilkan, komik Malaikat jauh dari kesan menarik dan layak jual. Yustina Neni, yang meresensi komik Malaikat dengan sebutan Komik Tolol, menyebut humornya sepele, tolol, kadang kejam, dan berbahaya. Namun, dengan membaca komik Malaikat, membuat dunia seakan merdeka tanpa rayuan.

    Untuk Aku Juara Lari misalnya. Sepotong narasi komik yang berkisah tentang pelari tingkat provinsi itu berbunyi, "... suatu hari ada maling lari kencang sekali dikejar massa. Aku ikut mengejarnya. Tiba-tiba ada yang berteriak, ‘malingnya ada 2!!!’ Aku bingung, jadi lari makin cepat meninggalkan si maling." Akhir cerita komik singkat itu tragis, si maling tertangkap, digebuki sampai mati, dibakar. "Baunya seperti sate."

    Komik lainnya, Kumis Ini Sebuah Karunia, narasinya berkisah tentang anggota kelompok band remaja yang frustasi akibat pacarnya direbut anggota kelompok band lain. Alasannya sepele, pacarnya lebih tertarik dengan pria berkumis lebih tebal.

    Tak ingin kehilangan pacar, dia lantas memanfaatkan bermacam minyak penumbuh rambut. Hasilnya memuaskan. Tak hanya kumisnya yang tumbuh lebat, tapi juga sekujur tubuhnya kini ditumbuhi bulu-bulu. Sang pacar memang kembali ke pelukannya, namun dia terusir dari kelompok band. Alasannya, tak lagi sesuai dengan nama band, Nekat Karena Tampan.

    Jika anak-anak secara tak sengaja menemukan komik ini, kata Neni, bimbingan orang tua sangat diperlukan. Juga bimbingan teman sangat diperlukan untuk pembaca dengan selera humor pas-pasan.

    Malaikat mengakui cerita dan gambar komiknya pas-pasan. Namun, dia optimis tema pameran "The Boy Who Has One Finger" akan mencuri perhatian publik. Satu jari, yang dikonotasikan dengan jari tengah, artinya adalah umpatan. "Tapi, tidak ada maksud pornografi," kata dia.

    Bagi dia, hanya satu keinginan dari komik yang dibuatnya, yakni membuat pembacanya tertawa. Selepas-lepasnya. Sepuas-puasnya. Tanpa beban. Jika telah demikian, kata dia, "Buatlah orang tertawa, maka orang akan mendengarkan tiap ucapanmu."


    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?