Semarak Bandung Wayang Festival

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Agus Bebeng

    ANTARA/Agus Bebeng

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Dua keluarga bertetangga hidup tak akur di sebuah apartemen. Seorang nenek yang hidup seorang diri merasa terganggu oleh kegaduhan penghuni sebelah. Mereka keluarga pasangan muda dengan dua anak yang masih bocah.

    Di suatu hari yang ajaib, saat ketegangan memuncak, nenek dan lelaki muda itu saling geser pembatas hunian. Keduanya bergantian terhimpit dinding sekat yang didorong sekuat tenaga. Polisi yang datang melerai malah mati terbunuh. Adegan ditutup dengan perdamaian dan kerja sama keduanya membereskan kekacauan. Namun, begitu sang nenek berlalu, lelaki muda itu kembali menggeser dinding sekat. Huniannya jadi lebih luas.

    Cerita itu disuguhkan suami-istri Arno Delicata dan Julia, serta Oki Sadewa dalam pertunjukan marionatte. Teater boneka Prancis yang dimainkan dengan tangan itu tampil mengisi acara Bandung Wayang Festival 2011 di Aula Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Senin malam lalu. Meski diselingi humor, pertunjukan di panggung berupa kotak setinggi sekitar 3 meter dan lebar 1,5 meter itu bertema serius dan universal.

    Menurut Julia, kisah itu simbol perebutan batas negara yang kerap terjadi di wilayah Eropa. Ia merujuk kondisi negara asalnya, Hungaria, dengan negara di sekitarnya. "Batas negara bisa berubah sewaktu-waktu," katanya seusai pertunjukan. Buat orang tua, luas wilayah yang ada sudah cukup. Tapi kebalikannya untuk generasi muda, “Mereka akan selalu ingin memperluas," ucap Julia menambahkan. Lakon serupa telah mereka pentaskan di 17 negara.

    Festival wayang yang berlangsung 22-30 April ini menghadirkan seniman dan kelompok wayang dari dalam dan luar negeri. Wayang yang ditampilkan dari tradisional hingga kontemporer, seperti wayang bocor, wayang kartun, wayang pari, wayang beber kota, wayang damen, wayang keroncong. Ada juga wayang Sukuraga dari Sukabumi, Jawa Barat, wayang komik Toni Masdiono, wayang wuto hasil kolaborasi musisi elektronik Italia David Grosso dengan Moong Sany dari Yogyakarta, serta wayang Rusia oleh Yana Kraeva.

    Total jumlah seniman sekitar 300 orang. Mereka mengisi lebih dari 50 acara. Lokasi pertunjukan, pameran, dan workshop tersebar di 6 tempat, yaitu kompleks perumahan Kota Baru Parahyangan, Aula Universitas Padjadjaran, kampus Institut Teknologi Nasional, Toko You, Bandung Indah Plaza, dan Museum Barli.

    Di kelompok wayang tradisi, tampil wayang golek rampak 30 dalang dari sekolah menengah kejuruan negeri 10 Bandung, dalang cilik Adi Tan Deseng, serta wayang golek purwa oleh dalang Opick Sunandar Sunarya. Sedangkan pertunjukan wayang kulit antara lain dimainkan dalang Ki Joko Karsono, Ki Enthus Susmono dan Grup Kesenian Satria Laras yang menampilkan wayang kulit dan golek, serta Ki Sigit dengan wayang kulit purwa gaya pesisir.

    Tak ketinggalan pergelaran wayang orang yang menampilkan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka dan Wayang Orang Irama Citra bergaya Yogyakarta, Ki Suhud dengan wayang potehi, serta wayang kartun Bagong Soebardjo. Konser karawitan Sunda, Surakarta, juga gaya pesisir, ikut menyemarakkan festival.

    Kelompok wayang kontemporer lebih riuh. Dari jenis video art, Anunsiata Sri Sabda mengusung tema kesetaraan lelaki dan perempuan serta kesetiaan pasangan lewat Sinta Obong. Kisah Dewi Sinta yang diminta Rama, suaminya, untuk membuktikan kesucian dirinya dengan masuk ke dalam api setelah lama berpisah itu dikemas dalam film animasi buatan 2010 sepanjang 5 menit.

    Krishna Murti kembali membawa Wayang Machine, karya 2001, yang telah dipamerkan di beberapa kota. Sedangkan Wayang Tavip memainkan wayang kulit berlakon Sin Jin Kwie yang pernah dipentaskan bersama Teater Koma. Kisah kelahiran dan perseteruan tiga Batara; Antaga, Ismaya, dan Manikmaya, dibesut Agustinus Denny lewat film animasi 20 menit berjudul Purwacarita.

    Direktur Festival Hermawan Rianto mengatakan, jambore seniman wayang ini untuk memelihara wayang serta menampilkan perkembangan seni itu ke masyarakat setelah UNESCO pada 2003 lalu memberi pengakuan wayang kulit sebagai World Master Piece of Oral and Intangibel Heritage of Humanity. Generasi muda kini banyak yang mengembangkan wayang dengan berbagai media, pendalaman, dan pemahaman baru. “Ini saat yang tepat untuk memberi arah kesenian ini tumbuh,” katanya.

    Sayangnya, acara besar ini kurang tertata rapi. Dari bahan informasi misalnya, buku panduan hanya dicetak terbatas. Isinya pun, seperti di website panitia atau Facebook, kurang jelas. Padahal jadwal begitu banyak dan lokasi acara menyebar.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.