Spirit Kartini di Atas Kanvas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran seni rupa Kartini : The Power of Women in Art di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Tempo/ANANG ZAKARIA

    Pameran seni rupa Kartini : The Power of Women in Art di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Tempo/ANANG ZAKARIA

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Di atas sekeranjang pakaian lusuh, tubuh perempuan itu terkulai. Tangan kirinya membantali kepala yang berbalut kerudung. Belum lagi sempat dia selesai menyetrika, tubuhnya telah lunglai tak berdaya. Beberapa lembar kemeja yang usai disetrika dibiarkan tergantung begitu saja di depannya.


    Peran Siapa? adalah sebuah judul lukisan Nita Juniarti yang ikut dipajang bersama puluhan karya seni rupa milik 48 perempuan di Galeri Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (eks Purna Budaya), Universitas Gadjah Mada Yogyakata. Bertema "Kartini: The Power of Women in Art", pameran berlangsung dari 23 April hingga 2 Mei 2011.


    Lewat Peran Siapa?, Nita mempertanyakan kembali tugas seorang perempuan dalam urusan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, hingga mengasuh anak pada prinsipnya bukan urusan ibu rumah tangga belaka. Perkara “dapur” dan “sumur” itu bisa dilakukan bapak dan anak. “Artinya, semua anggota keluarga punya kewajiban,” kata Nita.


    Nita menyatakan dia bukan siapa-siapa dalam dunia seni rupa di Yogyakarta. Menekuni pekerjaan desain interior saat muda, kini dia lebih banyak menghabiskan waktu mengasuh tiga anaknya di rumah. Seperti urusan rumah tangga yang bisa dilakukan kaum Adam, bagi Nita melukis pun ternyata bukan urusan perupa profesional saja. “Semua orang sebenarnya bisa (melukis),” ujarnya.


    Peran Siapa? menjadi salah satu contohnya. Terdiri dari dua panel, masing-masing kanvas berukuran 90x90 sentimeter, Nita melukis dengan cat minyak. Ide-ide cerita dalam lukisannya berasal dari tugasnya sebagai ibu rumah tangga di rumah. “Bebas berekspresi.”


    Salah satu bentuk kebebasan berekspresi Nita tampak dari munculnya gambar kotak-kotak di salah satu panel lukisannya. Warna kotak dengan degradasi warna hijau dan kuning itu sebagai refleksi keterampilannya mendesain interior.


    Kemampuan Nita melukis didapatnya ketika belajar di Kelompok Sahabat Pakuningratan sejak Desember 2006. Salah satu pengajarnya adalah Yuswantoro Adi, perupa asal Yogyakarta yang menjadi kurator dalam pameran kali ini.


    Dalam pameran bersama itu tak semua perempuan adalah perupa profesional. Separuh di antaranya merupakan perupa yang dianggap masih amatiran, namun memiliki minat dan bakat istimewa dalam kesenirupaan. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai dokter hingga ibu rumah tangga biasa.


    Olivia Cicilia Walewangko, misalnya. Perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, pada 1976 itu adalah dokter. Latar belakang pendidikannya sama sekali tak berkaitan dengan dunia seni rupa. Lulus S1 Kedokteran Umum di Universitas Sam Ratulangi Manado tahun 2001, dia lantas melanjutkan S2 spesialisasi bidang Ilmu Penyakit Dalam di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 2005.


    Dalam pameran Kartini, Olivia (dokter yang bertugas di dua Rumah Sakit di Yogyakarta, Sardjito dan Panti Rapih) memajang karya lukisnya yang berjudul Nine Hearts. Lukisan cat minyak di atas selembar kanvas berukuran 125x100 sentimeter menggambarkan sosok perempuan yang berdiri di sebuah dok di tepi laut. Kemampuan melukis itu dia dapat dari sanggar lukis Museum Affandi Yogyakarta.


    Adapun perupa perempuan yang telah cukup profesional dalam pameran itu di antaranya Laksmi Shitaresmi, Lucia Hartini, Mella Jaarsma, Nani Sakri, atau Wara Anindyah. Mengusung kelompok Ilalang sebagai identitas pameran mereka, Wara, Lucia, Laksmi bersama dua perempuan lain, Dyan Anggraini dan Juni Wulandari, pekan lalu menggelar pameran bersama di Tembi Contemporary Yogyakarta.


    Sama halnya dengan karya yang dipamerkan di Tembi, karya Lucia berjudul Hati Yang Menang yang dipamerkan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri juga kental dengan alam. “Saya ingin lebih dekat dengan alam,” kata Lucia.


    Dalam catatan pengantarnya, Yuswantoro Adi menuliskan, pameran Kartini: the Power of Women in Art sengaja dirancang sebagai sebuah pertunjukan kekuatan perempuan. “Kekuatan perempuan dalam arti harfiah alias sesungguhnya maupun arti kiasannya.”


    Kekuatan yang dimaksud Yuswantoro, kuat dalam arti banyak tenaga, tahan, awet, tidak mudah goyah, teguh, hingga keras. “Melalui pameran ini, kekuatan itu



    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.