Riwayat Tan Malaka yang Terlupakan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gladi Resik pementasan Opera 3 Babak

    Gladi Resik pementasan Opera 3 Babak " Tan Malaka" di Salihara. TEMPO/Arnold Simanjutak

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Mereka saling berucap. Dua narator melafal libreto dan 2 soprano mendendang aria. Silih berganti tak saling menimpa. Terkadang mereka saling berseberangan, tapi tak jarang paralel satu dengan lainnya.

    Bukan sebuah dialog satu dengan yang lain, melainkan mereka bercerita akan sosok Tan Malaka. Ya, penonton yang memadati gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, seperti menyimak dengan tekun kisah tokoh yang dilupakan sejarah itu.

    Sebuah opera tiga babak Tan Malaka garapan libretis Goenawan Mohamad digelar pada 23-24 April ini. Pertunjukan yang pernah ditampilkan perdana di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Oktober tahun lalu itu ditampilkan kembali sebagai rangkaian ulang tahun ke-40 Tempo.

    Menurut Goenawan, yang juga sutradara pertunjukan, tema dasar karya ini adalah renungan tentang revolusi dan pembebasan yang diperjuangkan Tan Malaka. "Pertunjukan kali ini lebih abstrak, sehingga banyak imaji yang terbentuk," ujarnya. Opera ini bercerita tentang riwayat Tan yang dikisahkan oleh 2 narator, Landung Simpatupang dan Whani Darmawan.

    Landung, dalam naskah yang dilafalkannya, menceritakan pertemuannya dengan tokoh revolusi yang misterius itu. Lebih pada perenungan serta mengomentari gagasan dan ucapan-ucapannya. Adapun Whani, dalam naskahnya, seolah berada dengan jarak dari peristiwa-peristiwa. Ia mengucap gagasan perjuangan yang meski dalam sel sempit di mana raga tak bisa bebas, revolusi harus berlanjut.

    Landung menggantikan aktor Adi Kurdi. Terlihat betul perbedaan gaya pengadegan di antara mereka berdua. Landung, yang sejak 1970-an kerap melakukan pembacaan publik untuk cerita pendek, esai, dan tulisan-tulisan lain, tak terkesan kaku melakonkan peran narator dalam pertunjukan ini.

    Dua soprano mendendangkan aria-aria yang dikomposisi oleh Tony Prabowo. Mereka adalah Binu Doddy Sukaman dan Nyak Ina "Ubiet" Raseuki. Keduanya memiliki karakter suara yang berbeda. Binu lebih kental corak klasik opera Barat, Ubiet condong pada gaya etniknya. Meski begitu, perpaduan keduanya tak menimbulkan friksi. Justru memperkaya warna nada. Mereka diiringi oleh orkes kamar kontemporer Salihara dengan pengaba Josefino Chino Toledo--seorang komposer dan dirigen ternama dari Filipina.

    Tak kalah menarik, dalam pertunjukan ini porsi koreografi tari lebih banyak dibanding pertunjukan perdana lalu. Koreografer Fitri Setyaningsih bergulat penuh untuk mencipta gerak-gerak teatrikal yang kontekstual dengan naskah. Dalam pementasan ini, ia menggandeng 20 penari dari Solo, Jawa Tengah.

    Di awal pertunjukan, para penari memainkan satu koreografi bertema topi dan buku. Ya, Fitri menggambarkan sosok Tan yang suka membaca dan menulis. Lalu, saat adegan mengungsi, para penari itu melakonkan perannya lebih hidup.

    Fitri juga ikut berperan sebagai penari yang mengimajinasikan sosok Tan yang tak putus-putusnya menulis. Dalam lingkaran merah di tengah panggung, Fitri menggunakan kapur tulis mencorat-coret bidang merah itu. Sebuah kamera memproyeksikan Fitri dari atas, sehingga ia tampak pada layar.

    Adapun kelompok paduan suara Paragita Universitas Indonesia ikut melebur dalam pertunjukan ini. Mereka, dengan kostum pekerja tambang yang dilengkapi helm dan lampu kepala, menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan tema desain panggung malam itu. Sayang, helm yang dikenakan masih terlihat mengkilap dan baru. Kurang kusam.

    Desain panggung bergaya Konstrukvisionis Rusia setelah Revolusi Oktober 1917 ini menjadi terlihat lebih megah di Graha Bhakti Budaya. Desainer panggung, Danny Wicaksono, merancang ulang panggung tersebut. Memang tak banyak berubah, tapi yang membedakan adalah kehadiran panggung bertrap-trap itu lebih berjarak dengan penonton. Sehingga para penonton punya kesempatan lebih banyak mencermati detail panggung dibanding ketika dipasang di black box Teater Salihara.

    Sutradara Goenawan menyebut opera ini adalah sebuah opera esai. Bentuk ini memang tak biasa, menunjukkan bahwa opera ini memberi ruang yang penting bagi ide. Di dalam esai, ide bergerak di antara pikiran yang abstrak dan peristiwa yang konkret, di sela konsep yang konsisten serta imaji yang mengalir dan beragam.

    Goenawan memilih mengambil model teater epik ala Erwin Piscator, Vladimir Mayakovsky, Vsevolod Meyerhold, dan Bertolt Brecht dari masa revolusioner Jerman tahun 1930-an: yang ditampilkan adalah sebuah montase dari pelbagai anasir yang berbeda--multimedia, gerak, teks, reportase, kor, puisi--di atas panggung yang didesain dalam gaya Konstrukvisionis Rusia.

    Sebagai sebuah opera-esai, yang dipentaskan bukanlah sebuah cerita, melainkan sebuah discourse. Tidak ada aktor yang memerankan tokoh. Tidak ada dialog antar-peran. Ada 2 penyanyi aria dan 2 pembaca teks yang terkadang bersilangan, terkadang paralel.

    Opera esai ini adalah sebuah penegasan atas satu segi yang penting dalam riwayat Tan Malaka: ketidakhadirannya. Tan Malaka satu-satunya tokoh sejarah Indonesia modern yang datang dan pergi di suatu tempat, di suatu waktu, seperti bayang-bayang. Ia termasyhur dalam keserba-tidak-jelasan.

    Barangkali kehadiran Tan terpelihara sebagai misteri. Seperti libreto yang diucap dalam akhir naskah: "Itu sebabnya Tan Malaka, akan selamanya absen--palsu atau tak palsu, mati atau hidup. Ia tak akan pernah hadir. Dan itu penting sekali...."


    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.