I La Galigo Berlabuh di Makassar Setelah Keliling Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Naska I La Galigo. Foto:kavalera.co.cc

    Naska I La Galigo. Foto:kavalera.co.cc

    TEMPO Interaktif, Makassar - Pementasan karya teater, tari, dan musik I La Galigo pertama kali digelar pada 2003 di Singapura. Setelah itu berlanjut ke kota-kota besar dunia, seperti Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, Ravenna, New York, Melbourne, Milan, dan Taipei, sepanjang 2003-2008. Kini, karya yang disutradarai Robert Wilson dan diangkat dari Sureq Galigo ini akan kembali ke tanah kelahirannya, di Makassar, Sulawesi Selatan. Pementasan yang akan berlangsung pada 22-24 April ini tak lepas dari keterlibatan sang produser, Restu Imansari Kusumaningrum. Berikut ini petikan wawancara Tempo dengan Direktur Kreatif Yayasan Bali Purnati ini di Fort Rotterdam, Sabtu (16/4/11).

    Apa yang membuat Anda bersedia memproduseri I La Galigo?
    Pada dasarnya persiapan ini telah menjalani tur-tur Internasional. Jadi, di Makassar, ini sudah yang ke-11. Cerita awalnya saya tertarik karena saya sudah cukup lama berhubungan baik dengan Robert Wilson. Setelah itu saya bertemu dengan teman-teman di Change Performing Arts, yang merupakan art center-nya Robert Wilson. Dari situ kami memulainya. Saya memang hidup dalam seni pertunjukan. Ketertarikan saya pada I La Galigo karena saya kenal dan bekerja sama dengan Rhoda Grauer, lalu saya juga dulu sering ke Makassar, dan saya tahu cerita tentang kekayaan tradisi dan kebudayaan Indonesia yang ada di Sulawesi Selatan.


    Bagaimana konsep pementasan kali ini?

    Outdoor, dan merupakan seni pertunjukan imaji, teater tari, dan musik. Kami antisipasi dengan memasang tenda, untuk menjaga jika hujan turun. Dengan outdoor, ini juga tidak menggunakan teknologi tinggi. Kami memakai apa yang ada di sini.

    Apa bedanya pementasan di Makassar dengan di tempat-tempat sebelumnya?
    Pemainnya sebagian berganti. Dari sekitar 100 pemain, 80 persen kami ambil dari seniman Sulawesi Selatan. Termasuk Mak Cinda, pengganti Mak Coppong. Dari segi panggung, semua sama dengan yang sebelumnya karena sutradaranya masih Robert Wilson. Teknik lampunya saja yang kami lebih sederhanakan dengan pencahayaan lokal.

    Persiapannya sudah sejauh mana?
    Persiapan sudah berlangsung sejak 10 April. Pemain sekarang masih sedang latihan, dengan pelatih dari Tim Change Performing Arts dan Bali Purnati, sebagian juga berasal dari Sulsel. Persiapan teknis sedang kami rakit. Tim internasional akan mendarat di Makassar pada 20 April. Juga sedang berjalan persiapan buku program, serta persiapan pameran.

    Apa ada kendala pementasan di Makassar?
    Kondisi lapangan dan keuangan sangat tidak mudah. Jadi kami tidak “memindahkan” I La Galigo dari Esplanade (Singapura) ke Rotterdam. Tapi kami menjaga kualitas yang sama. Upaya untuk dapat kembali berlabuh di Makassar dilalui dengan perjuangan yang sangat berat. Kami berharap pementasan nantinya bisa berjalan lancar dengan penuh ketenangan.

    Bagaimana harapan Anda untuk Pementasan I La Galigo selanjutnya?
    Tujuan kami datang ke sini salah satunya untuk menunjang Visit Makassar 2011. Dengan pementasan ini, orang dari luar bisa melihat kekayaan seni dan budaya Makassar. Target kami melabuhkan karya ini setelah keliling dunia. Selanjutnya, silakan diambil untuk diadaptasi oleh sutradara lokal. Bisa dengan judul dan konsep yang berbeda karena setiap sutradara memiliki konsep masing-masing.
    SUKMAWATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.