Ali Topan: Balada Anak Jalanan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Lamat-lamat debur ombak terdengar lemah. Di atas motor trail berwarna kuning cerah, Ali Topan dan Anna Karenina berangkulan. Begitu erat dan mesra. Dua sejoli itu seolah tak ingin dilepaskan. Mereka makin asyik-masyuk bermesraan.

    Nun di rumah Anna Karenina, sang ayah dan ibu begitu waswas karena putri kesayangannya itu menghilang. Mereka hakulyakin Anna diculik oleh Ali Topan. Mereka pun bertekad mengerahkan segala cara untuk mencari, membawanya pulang, kemudian memisahkannya dari Ali Topan selamanya.

    Begitulah sepotong adegan drama musikal Ali Topan The Musical, yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, mulai 11 hingga 17 April ini. Musikal berdurasi sekitar dua setengah jam itu diangkat dari novel terkenal di kalangan remaja 1970-an karya Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan.

    Drama musikal karya koreografer Ari Tulang dan penata musik Dian HP ini berkisah tentang Ali Topan (diperankan Dendy Mulya Pasha Prayoga Hamid-vokalis band rock Mike's Apartment), remaja broken home yang cerdas, berani, dan doyan ngebut dengan motor trail. Bagi Topan, rumah tak lagi menjadi rumah, seperti coretan yang menempel pada dinding kamarnya: "a house is not a home".

    Ayah dan ibunya sibuk dengan skandal mereka masing-masing. Topan kemudian lebih suka berada di jalanan karena ia mendapatkan kehangatan dari teman-temannya. Hingga suatu ketika dia bertemu dengan Anna Karenina (Namara Surtikanti alias Kikan, mantan vokalis band Cokelat), gadis manis yang memiliki keresahan mirip Topan. Cinta mereka tumbuh apa adanya. Bagi Topan, Anna adalah penyejuk kegelisahannya. Sebaliknya bagi Anna, Topan adalah kejujuran dan pemberontakan yang didambakannya.

    Menurut Ari Tulang, sutradara, koreografer, sekaligus penata artistik, Ali Topan The Musical merupakan ramuan dari novel dan filmnya. "Alur ceritanya hampir sama. Ada beberapa bagian yang tak ada di novel dan film tapi ada di musikal ini," ujarnya. "Karena di musikal ini ditampilkan fragmen-fragmen kehidupan sosial di sekitar Ali Topan."

    Misalnya, di musikal ini Ari menampilkan adegan tentang kehidupan anak jalanan dengan segala lika-likunya. Di sana, Topan dan tiga temannya membuat sebuah acara festival anak jalanan-sebagai ruang ekspresi bagi anak jalanan yang terpinggirkan. "Ini tidak ada di novel maupun filmnya," katanya.

    Dengan ramuan itu, Ari ingin menjadikan Ali Topan The Musical sebagai tontonan alternatif bagi masyarakat. "Tujuan kita ingin memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat," ujarnya saat ditemui di sela latihan Ali Topan The Musical di gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, Ahad dua pekan lalu.

    ******

    Ide Ali Topan The Musical tercetus sekitar Juni tahun lalu setelah Artistika Mahaswara Indonesia-sebuah rumah produksi milik Maera A. Panigoro (putri sulung pengusaha minyak Arifin Panigoro)-sukses menggelar drama musikal Gita Cinta karya Ari Tulang. Menurut Ari, sekitar sebulan kemudian ia dan timnya mulai melangkah. Mereka bertemu dengan penulis novel Ali Topan Anak Jalanan, Teguh Esha, di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan. "Kami minta izin sekaligus masukan dari Pak Teguh," katanya.

    Setelah itu, mereka terbang ke Inggris. Mereka melakukan studi banding ke West End, London-salah satu tempat pementasan musikal terkenal di dunia selain Broadway di New York, Amerika Serikat. Sepanjang sepekan mereka menonton sembilan pertunjukan musikal di sana, antara lain Phantom of the Opera, Les Misrables, Lion King, dan We Will Rock You.

    Pelajaran yang dipetik dari London, tutur Ari, selain gedung pertunjukan dengan akustik yang memadai, secara teknis sebuah pentas musikal membutuhkan pemain yang bisa bernyanyi, berakting, dan memiliki kelenturan tubuh seorang penari.

    Dan persyaratan yang cukup sulit ternyata mencari seorang pemain musikal di sini. Indonesia belum memiliki tradisi industri pertunjukan musikal seperti West End dan Broadway, yang mempunyai banyak pemain. Ari dan timnya kemudian menggelar audisi untuk menjaring pemain.

    Audisi dilakukan secara tertutup dan terbuka. Dalam audisi tertutup, mereka mengundang para penyanyi untuk diseleksi. Adapun audisi terbuka diperuntukkan bagi siapa saja yang berminat ikut dalam musikal tersebut.

    Dalam audisi yang digelar pada September tahun lalu itu, Ari dan timnya memprioritaskan kemampuan menyanyi para calon pemain, setelah itu barulah melihat potensinya sebagai aktor dan penari. Musisi Dian HP dan pelatih vokal Nyak Ina Raseuki (Ubiet) menilik kemampuan menyanyi mereka. Saat audisi, para peserta diwajibkan menyanyikan dua lagu karya Guruh Sukarno Putra yang dipopulerkan Chrisye, Anak Jalanan dan Kala Sang Surya Tenggelam. Lagu pertama merupakan soundtrack film Ali Topan Anak Jalanan.

    Dari audisi itu terjaring 70 pemain. Selain Dendy Mulya Pasha dan Kikan, nama beken lain yang main dalam musikal ini di antaranya Sita Nursanti (mantan anggota trio Rida-Sita-Dewi, yang baru saja memerankan Nyai Ontosoroh dalam drama Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh), biduanita Trie Utami, Ricky Jo (vokalis grup jazz Emerald), dan Tike Priatnakusumah (pemain komedi situasi Extravaganza).

    Mereka kemudian menjalani latihan fisik dan olah vokal sekitar satu bulan. Pada saat bersamaan, mereka juga diberi pelatihan akting dan tari. Selain itu, para pemain diwajibkan membaca novel, menonton film, serta meriset bahan-bahan tentang Ali Topan untuk mengenal dan menjiwai sosok yang akan mereka perankan.

    Setelah itu, mereka berlatih sekitar enam bulan. "Saya menemukan hal yang berbeda dalam musikal, terutama teknik bernyanyinya," kata Dendy. "Biasanya saya menyanyikan lagu, di musikal ini saya justru menyanyikan sebuah dialog dengan nada tertentu," ujar alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jayabaya, Jakarta.

    Hal senada diungkapkan Kikan. "Teknik menyanyi di musikal ini sangat berbeda. Dan di musikal ini teknik menyanyi saya diobrak-abrik," ujarnya. "Karakter vokal saya kan alto. Nah, di musikal ini, saya dituntut bisa menjangkau nada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari alto."

    Baik Dendy maupun Kikan benar-benar mempersiapkan diri. Dendy, misalnya, untuk bisa menjiwai karakter Ali Topan, membaca kembali novelnya, mempelajari bahasa gaul remaja waktu itu, dan menonton kembali potongan-potongan filmnya di YouTube.

    "Waktu kecil saya sempat nonton film Ali Topan di bioskop Megaria di Pegangsaan, Jakarta Pusat," katanya. "Kebetulan saudara saya yang bekerja di sana mengajak nonton. Saya nonton-nya dari ruang pemutar proyektor," tutur pemuda 34 tahun yang punya hobi naik motor trail ini.

    Adapun Kikan, untuk bisa memahami sebuah drama musikal, memutar video sejumlah pertunjukan musikal. Ia juga menyempatkan diri menonton langsung pentas musikal di Singapura. "Saya benar-benar mulai dari nol," kata ibu dua anak ini.

    *****

    Selain pemain, elemen penting dalam sebuah pentas musikal tentu saja musik dan tata panggungnya. "Untuk menjadikan libretto (dialog yang dinyanyikan) memiliki artikulasi dan berjiwa, harus diberi aksentuasi musik yang pas," ujar penata musik Dian HP.

    Dian mulai menyiapkan konsep musik untuk pementasan ini setelah menerima naskahnya. Sebagian besar naskahnya sudah dalam bentuk libretto. Dian menciptakan belasan aria dan sejumlah resital. Khusus untuk tokoh Ali Topan dan Anna Karenina, ia menciptakan masing-masing 3 sampai 4 aria. "Saya tidak menggunakan backing vocal, sehingga semuanya dinyanyikan oleh para pemain," katanya.

    Dian menyatakan memilih musik rock sebagai unsur utama dalam pertunjukan musikal Ali Topan ini. Hal itu disesuaikan dengan roh cerita dan karakter tokoh utama dalam musikal ini. "Keluarga Ali Topan itu kan keluarga yang rock 'n' roll banget."

    Namun Dian tetap memasukkan pelbagai unsur musik lainnya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pementasan. "Saya memasukkan sentuhan musik klasik, waltz, pop, Spanyol, Timur Tengah, hingga musik gaya Pantura," kata musisi yang juga menjadi penata musik Gita Cinta The Musical ini.

    Dalam adegan arisan para tante girang, misalnya, Dian memasukkan sentuhan musik Spanyol serta Timur Tengah, yang terkesan dinamis dan erotis. Lalu, saat adegan di warung kopi Bibi Seksi, Dian membungkusnya dengan corak musik gaya Pantura yang genit. Menurut Dian, corak musik itu untuk mendukung suasana pengadeganan sehingga lebih mengena dan ada rohnya.

    Lewat suguhan musik Dian dan band-nya (Dian Indonesia Band) yang sangat kaya warna, para penonton akan digugah emosinya. Sepanjang pementasan, kita digugah oleh musik yang mengentak dan dinamis, atau dibuai oleh musik yang mendayu, dibekap musik yang muram, rilis, dan menyentuh.

    Yang juga menarik adalah set panggung yang dirancang Hardiman Rajab. Set panggung yang disajikan Hardiman bergaya realis. "Hampir 80 persen set panggungnya berkonsep realis," kata Hardiman, yang juga sebagai penata panggung musikal Gita Cinta dan Onrop!.

    Dengan konsep itu, Hardiman menghadirkan suasana sudut kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tempat nongkrong Ali Topan dan teman-temannya, pada 1970-an. Kamar Ali Topan lengkap dengan radio cassette model 1970-an, dan tempat tidur model lama. Lalu telepon yang terletak di ruang keluarga rumah Ali Topan juga model 1970-an. "Saya memperoleh telepon itu dari pasar loak di kawasan Dadap, Tangerang," ujarnya.

    Motor jenis trail yang menjadi tunggangan Ali Topan juga model 1970-an. Untuk pementasan ini, Hardiman menghadirkan tiga sepeda motor Yamaha DT 100 tahun 1978.

    Menurut Hardiman, seharusnya sepeda motor yang dipakai Ali Topan keluaran 1976. Tapi model tahun itu sudah sangat sulit diperoleh, sehingga ia menggantinya dengan model 1978.

    Untuk mendapatkan ketiga motor trail itu, Hardiman berburu di Internet dan menghubungi rekan-rekannya. "Dua motor saya dapatkan lewat Internet dan satunya saya beli dari seorang teman di Pamulang, Tangerang Selatan," katanya. "Masing-masing motor itu harganya Rp 8-10 juta."

    Hanya, di atas panggung sepeda motor itu tak dikendarai oleh Ali Topan. Saat adegan Ali Topan melaju memboncengkan Anna Karenina, misalnya, sepeda motornya tetap diam di tempat. Untuk memberi efek seolah sepeda motor itu melaju kencang, di latar belakangnya dihadirkan video mapping.

    Yang juga menarik adanya rotator. Ini panggung dengan alat pemutar di tengahnya, berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 5 meter. Rotator ini dipakai, misalnya, saat adegan Ali Topan dan Anna Karenina tampil bersama tapi dalam set berbeda: Ali Topan di dalam penjara, sedangkan Anna di dalam kamarnya. "Rotator ini biasa dipakai dalam pameran-pameran mobil," Hardiman menjelaskan.

    Dari 11 set panggung yang dihadirkan Hardiman, yang cenderung futuristik di antaranya set suasana bar tempat para tante girang menggelar arisan. Hardiman meletakkan sofa berbentuk bibir berwarna merah menyala sebagai tempat duduk para tante girang yang genit-genit itu. Lalu model bangunannya bergaya campuran Mediterania dan Timur Tengah. Warna-warna cerah mendominasi set panggung.

    Menurut Hardiman, bahan-bahan yang dipakai untuk membuat seluruh set panggung antara lain kayu (multipleks, tripleks, kaso, dan reng), besi kopong (hollow), serta Styrofoam. Semua set panggung itu dibuat Hardiman di bengkel kerjanya di Petukangan, Jakarta Selatan, sekitar tiga bulan. "Untuk mengangkutnya ke Graha Bhakti Budaya dibutuhkan 12 truk," katanya.

    Nurdin Kalim


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.