Hantu Den Baguse Endro dan Mitos Masyarakat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Alkisah pada sebuah jembatan di dua kampung saling berbatasan di  Sagan dan Wiromejan, Yogyakarta, hiduplah hantu yang senang mengganggu masyarakat. Hantu itu oleh penduduk disebut Den Baguse Endro.

    Gangguan Den Baguse Endro berbagai macam, mulai dari mengganggu anak kecil, memerosokkan pengendara motor ke selokan, hingga mengganggu orang yang baru tinggal di kampung tersebut. Intinya, segala kejadian celaka yang terjadi di sekitar jembatan itu adalah ulah De Baguse Endro.

    Kisah tersebut menjadi alur utama cerita Bleg-Bleg Thing karya Yusuf Peci Miring yang ditampilkan Komunitas Sego Gurih dalam lawatan pertamanya di halaman rumah warga Dusun Goasari, Karang Beber, Pajangan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (9/4). Dengan penerangan seadanya, yang memanfaatkan sambungan listrik warga, sekitar 200 warga, dari muda hingga tua, tumplek menyaksikan pertunjukan teater ini.

    Dalam cerita itu dipaparkan bagaimana masyarakat lebih mempercayai mitos dalam mencari jawaban terhadap sebuah persoalan sosial. Hal ini ironis, karena ketika mereka berada di tengah gempuran pembangunan, masyarkat justru berlindung di balik mitos.

    Dalam satu adegan diceritakan seorang tukang bakso tewas setelah terpeleset dan terperosok bersama gerobaknya di dasar sungai di pinggir jembatan dengan kondisi tubuh tersiram kuah bakso dagangannya. Masyarakat percaya bahwa itu adalah ulah Den Baguse Endro, karena sebelumnya si tukang bakso kencing sembarangan di sekitar jembatan.

    Koordinator Komunitas Sego Gurih, Elyandra, menyatakan bahwa latar belakang pementasan cerita ini adalah untuk memotret realitas pendidikan yang selama ini terjadi dan diterima masyarakat. "Masyarakat belum melihat begitu pentingnya peran pendidikan. Semua masih mengandalkan mitos, tapi masih sebatas permukaan. Padahal mitos tercipta untuk memberikan tatanan nilai luhur agar semua aset kebudayaan terjaga. Pendidikan masih gagal membawa ke sana," kata dia.

    Lakon berbahasa Jawa itu juga diselingi sindiran khas Mataraman tentang realitas dalam pendidikan yang masih tak berpihak kepada rakyat. Menurut Elyandra, pementasan dari ke desa-desa ini telah dilakukan Sego Gurih sejak 1998 demi mendekatkan diri kepada masyarakat.

    Pementasan Bleg-Bleg Thing ini akan berlanjut hingga tiga kali pementasan lagi dengan tempat berbeda-beda. Pementasan kedua dilangsukan hari ini (11/4) di Sanggar Bunga Padi, Dobangsan, Wates, Yogyakarta. Ketiga, 14 April 2011 di Dusun Mangiran, Trimurti Srandakan, Bantul. Keempat, 17 April 2011 di Dusun Panggungharjo RT 04 Kweni, Sewon, Bantul. Pertunjukan dimulai setiap pukul 19.30 wib.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?