Facebook dan Twitter, Andalan Ananda Sukarlan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ananda Sukarlan(TEMPO/Nickmatulhuda)

    Ananda Sukarlan(TEMPO/Nickmatulhuda)

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Komposer dan pianis Indonesia yang lama menetap di Spanyol, Ananda Sukarlan mengaku lebih mengandalkan situs jejaring sosial di internet untuk mengenalkan dan mengembangkan musik klasik di tanah airnya, Indonesia. "Saya berharap banyak dari media sosial itu," kata dia dalam jumpa pers di auditorium Bank Rakyat Indonesia kantor cabang Yogyakarta, Minggu (3/4) siang. 

    Ada dua situs jejaring sosial yang dia pilih, Facebook yang mulai pada 2009 dan Twitter yang baru dilakukan pada pertengahan 2010. Terus terang, kata dia mengakui, pemanfaatan media sosial itu terbilang telat. “Saya ini gaptek,” kata dia. 

    Dia mengatakan, jika facebook-nya dikelola oleh manajernya, situs twitter miliknya dia sendiri yang mengelola. Dalam twitter-nya, semua komentar yang muncul dia tulis sendiri. Jika karakter tulisan komentar darinya tak mencukupi, dia akan beralih menulisnya di blog miliknya. "Saya ingin sampaikan, itu benar-benar ucapan saya, bukan kata orang,” kata dia. 

    Lebih memilih mengembangkan karyanya di Eropa, Ananda yang lahir di Jakarta 10 Juni 1968 menjadi satu-satunya orang Indonesia yang namanya tercatat dalam buku "2000 Outstanding Musicians of the 20th Century". Buku yang dipublikasikan oleh Cambridge itu berisikan dua ribu orang yang dianggap mendedikasikan hidupnya untuk dunia musik. 

    Meninggalkan Indonesia sejak usia 17 tahun, Ananda lulus dengan predikat summa cum lauda pada 1993 dari Royal Conservatory of Den Haag Belanda. 

    Tak seperti di banyak negara Eropa, menurut Ananda, musik klasik belum mendapat "tempatnya" di Indonesia. Bagi kebanyakan masyarakat, musik klasik masih dianggap sebagai musik kelas atas yang hanya hanya layak untuk orang-orang kaya saja. Padahal, bagi dia, sebagaimana sebuah jenis profesi lain, bermain musik adalah profesi yang bisa dipilih dan dilakukan oleh orang kebanyakan. 

    Lebih ironisnya lagi, lanjut dia, musik klasik sekaligus dianggap sebagai simbol status. Tak heran, banyak orang-orang kaya rela mengeluarkan banyak uang untuk “membeli” ketenaran bagi anaknya agar dianggap sebagai pemusik klasik. “Ini konyol,” kata dia. 

    Ananda, yang menyebut musik yang dia mainkan sebagai musik sastra, akan mementaskan 3 dari 8 rapsody nusantara gubahannya dalam konser di auditorium BRI Yogyakarta, Minggu malam nanti. Proses penciptaan rapsody itu terinsipirasi dari musik tradisional di Indonesia. Untuk satu rapsody, rata-rata berdurasi 6-10 menit. 

    Selain mementaskan rapsody ciptaannya, dia akan memainkan lagu buatannya, One Minutes For Japan. Dibuat dalam waktu setengah jam dalam perjalanan naik kereta dari Saragosa ke Madrid, lagu berdurasi sekitar 2 menit itu terinspirasi oleh bencana tsunami di Jepang. "Pas saya melihat tayangan tsunami di televisi," kata dia menjelaskan proses pembuatan lagunya. 

    Anton Asmonodento dari Musiklasika Community yang terlibat dalam penyiapan konser malam nanti, mengatakan bukan kali ini saja Ananda menggelar konsernya di Yogyakarta. "Sekitar sudah empat kalinya," kata dia. Dengan jumlah kursi untuk 200 orang, konser nanti malam digelar secara gratis. 

    Selepas konser di Yogyakarta, kata dia, Ananda akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di sana, Ananda akan menjadi juri dalam Ananda Sukarlan Awards. 

    ANANG ZAKARIA
     



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?