Diguyur Hujan, Sastrawan Ratna Indraswari Dimakamkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratna Indraswari Ibrahim (TEMPO/Bibin Bintardi)

    Ratna Indraswari Ibrahim (TEMPO/Bibin Bintardi)

    TEMPO Interaktif, MALANG - Di bawah guyuran hujan, jenazah sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Samaan, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang,  Senin 28 Maret 2011. “Pemakamannya dipercepat dari rencana dimakamkan jam 14.00 menjadi 13.30 karena segala persiapan sudah beres,” kata Ruhadi Rarundra alias Siro, anak angkat Ratna. 

    Ratusan orang terdiri dari kerabat, sahabat, teman, dan kenalan dari berbagai latar belakang seperti seniman, akademisi, aktivis lingkungan, wartawan, dan aktivis mahasiswa berdatangan. Tampak pula anggota Komisi X DPR Sri Rahayu dan pendiri klub sepakbola Arema, Lucky Acub Zainal, beserta istrinya. 

    Siro merasa sangat kehilangan. Ia sangat berutang budi karena Ratna menganggap anaknya sebagai cucu tunggal. Selain itu, Ratna yang membangkitkan dirinya dari keterpurukan kehidupan pribadi. 

    “Beliau seorang motivator yang tegas dan luwes. Beliau pantang mengeluh meski kondisi fisiknya cacat dan hidup sering dalam kondisi pas-pasan,” kata Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu Kabupaten Malang itu.

    Purnawan Dwikora Negara, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup Simpul Malang, juga merasa sangat kehilangan seorang figur yang mampu menginspirasi banyak warga Malang untuk peduli lingkungan. Bukti kepedulian dan pembelaan Ratna terhadap lingkungan, misalnya, dapat dibaca dalam novel Lemah Tanjung. 

    Novel yang diterbitkan pada 2003 ditulis berdasarkan kisah nyata. Warga Kota Malang mengenal Lemah Tanjung sama dengan lahan bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) seluas 28,5 hektare, yang juga merupakan hutan kota. 

    Hutan Lemah Tanjung menjadi satu-satunya paru-paru kota yang tersisa, sekaligus menjadi buffer zone Kota Malang. Di dalamnya terdapat hutan heterogen, kebun

    kopi, kakao, sawit, ladang jagung, hamparan sawah, pun lapangan rumput terbuka. Hidup pula sedikitnya 128 spesies tanaman, yang beberapa di antaranya belum teridentifikasi; menjadi tempat bernaung 36 spesies burung langka.

    Rencana pengalihan fungsi hutan kota menjadi perumahan mewah ditentang banyak kalangan, terutama warga setempat, akademisi dan aktivis lingkungan. Tapi, kini lahan itu sudah menjadi Ijen Nirwana Residence, perumahan eksklusif milik Grup Bakrie. 

    “Sekarang ikon perlawanan lahan eks APP sudah habis. Rasanya, sebagian semangat perjuangan untuk lingkungan tergerus. Saya dan banyak teman pasti betul-betul merasa kehilangan. Beliau bukan hanya sastrawan, tapi juga aktivis tulen,” kata Purnawan.

    Semasa hidup, Ratna menceritakan perjuangannya menentang pengalihan fungsi Lemah Tanjung. Baginya, lahan bekas APP itu bukan hanya menyangkut soal lingkungan, tapi juga berkaitan dengan dinamika sosial-budaya dan sejarah Kota Malang. 

    Pada Senin, 20 Januari 2003, Ratnah berkata kepada Tempo, “ “Sungguh, karena saya Arema (arek Malang), saya enggak rela Lemah Tanjung hilang. Saya sangat sedih. Makanya, liku-liku hidup, cinta, dan nafas perlawanan dalam novel Lemah Tanjung sedemikian kuat dan gampang terbaca. Saya melawan tidak secara fisik, tapi lewat sastra.”

    Bekas Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang Bibin Bintariadi juga menyatakan sangat kehilangan. Ratna berjasa turut mendorong berdirinya AJI Malang, dimulai dengan serangkaian diskusi di rumahnya—berarsitektur kolonial buatan tahun 1914—di Jalan Diponegoro 3, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen. 

    Rumah Ratna menjadi “markas” pertemuan beragam aktivis, dengan diawali pembentukan Forum Pelangi pada 1998. Ratna juga ikut mempelopori pembentukan Yayasan Bhakti Nurani, Yayasan Kebudayaan Pajoeng Malang, dan LSM Entropic Malang.

    “Ratna dekat dengan kalangan wartawan. Kami berutang budi karena dia ikut mendorong berdirinya AJI Malang. Dia narasumber yang gampang membuka pintu dan dialog kapan pun dan di mana pun. Padahal, kondisi fisiknya mengharuskan dia harus banyak istirahat,” kata Bibin.

    ABDI PURNOMO 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.