Ramuan Bhangra dan Celtic  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Delhi to Dublin di Teater Salihara.(SALIHARA/WITJAK)

    Delhi to Dublin di Teater Salihara.(SALIHARA/WITJAK)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Apa jadinya bila sayatan biola disulap menjadi distorsi berbau musik rock. Atau sitar yang meraung-raung di antara dentuman musik remix, ditambah pukulan ritmis tabla dengan lantunan vokal bercorak India yang energetik.

    Begitulah suguhan world music yang dibawakan kelompok musik asal Vancouver, Kanada, Delhi 2 Dublin, dalam konsernya di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (23/3) malam lalu. Kelompok musik itu memadukan berbagai genre musik, dari reggae, hip-hop, akustik, hingga elektrik.

    Sebetulnya musik yang diusung kelompok itu dilatarbelakangi semangat musik rakyat bhangra, celtic, dan dub reggae. Kesenian bhangra berasal dari wilayah Punjab, India, yang biasa digelar untuk merayakan datangnya musim panen. Kesenian ini sudah mendunia hingga ke Barat, bahkan budaya ini mampu berkolaborasi dengan musik modern, seperti pop dan elektrik.

    Adapun celtic merupakan pengelompokan dari genre musik yang berkembang dalam tradisi musik rakyat Celtic di Irlandia. Sedangkan dub reggae adalah sebuah subgenre dari reggae, yang populer pada era 1960. Subgenre ini kental dengan unsur remix instrumental serta menyertakan efek gaung dan bebunyian elektronik.

    Delhi 2 Dublin beranggotakan Tarun Nayar (tabla, elektronik), Sanjay Seran (vokal), Sara Fitzpatrick (fiddle), Andrew Kim (sitar elektronik, gitar), Jaron Freeman (biolin), dan Ravi Binning (dhol). Musik mereka sebenarnya telah akrab di telinga para pengunduh musik dari dunia maya, seperti YouTube.

    Ranah musik Delhi 2 Dublin yang non-mainstream itu telah menjelajahi pelbagai pentas musik di sejumlah negara. Sebut saja Bumbershoot Festival Seattle, The Chicago World Music Festival Chicago, EarthDance California, Popkomm Berlin, The Bali Spirit Festival, The Calgary Folk Festival Kanada, dan The Stern Grove Festival, San Francisco, Amerika Serikat.

    Malam itu, dengan tata panggung yang cukup sederhana, Delhi 2 Dublin tampil dengan komposisi musik yang padat. Meski tampil dengan kemasan umum dan apa adanya, musik yang disuguhkan mampu menjadi penyegar di antara genre yang berkembang dewasa ini. Apalagi ketika sitar Andrew Kim beralih fungsi menjadi biola dengan cara digesek. Suara itu kian menyayat, tapi warna vokal Sanjay Seran yang mendayu mampu menetralkan adrenalin yang meninggi.

    Dalam konsernya malam itu, Delhi 2 Dublin membawakan beberapa nomor terbaru dari album ketiga mereka yang bertajuk Planet Electric. Lagu Laughing Buddha menjadi salah satu nomor paling anyar mereka dalam album tersebut. Nomor lain yang juga sangat menarik adalah Harmonizin, Cabin Fever, dan Master Crowly .

    Delhi 2 Dublin mengawali perjalanannya sebagai grup yang menyuguhkan world music pada 16 Maret 2006. Saat itu mereka tampil dalam Vancouver Celtic Festival di Kanada. Tak disangka, musik yang mereka sajikan mendapat sambutan sangat antusias. Setelah itu, kelompok musik ini berkelana di banyak panggung di sejumlah kota di Kanada, seperti Toronto, Ottawa, dan Montreal.

    Grup musik itu merilis album perdananya bertajuk sama dengan nama mereka atawa self-titled, Delhi 2 Dublin, pada 13 Desember 2007. Album debut mereka itu mampu menduduki tangga ketiga di posisi musik Kanada.

    Sejak itu, langkah mereka seakan tak terbendung lagi. Musik mereka kemudian merambah radio-radio di Jepang, Amerika Utara, dan Eropa. Kiprah mereka pun kian menanjak tatkala album keduanya, Delhi 2 Dublin Remixed, mampu mencapai posisi puncak di tangga lagu world music, CHARTattack.

    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.