Bungong Jeumpa dari Sang Mestro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maestro gitar pop klasik & virtuoso, Nelson W. Rumantir, beraksi dalam konser nostalgianya yang bertema

    Maestro gitar pop klasik & virtuoso, Nelson W. Rumantir, beraksi dalam konser nostalgianya yang bertema "Romantic with Soul" di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (27/4). ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Tiga maestro gitar tampil memesona di pusat kebudayaan Jerman, Goethe Haus, Jakarta, Kamis 24 Maret 2011 malam. Mereka adalah Rene Nessa Sahir, Hans Wiryadi, dan Nelson W. Rumantir. Meski usia sudah melewati paruh abad, kelincahan jari mereka tidak pudar dimakan waktu. 

    Ketiganya bergantian bermain solo dalam tiga sesi selama dua jam lebih. Masing-masing bermain dengan karakter berbeda, Hans memainkan lagu-lagu perjuangan, keroncong dan lagu daerah yang membangkitkan kecintaan pada tanah air, antara lain lewat lagu Maju Tak Gentar dan Bungong Jeumpa. 

    Adapun Rene yang tinggal lebih dari 20 tahun di Amerika Serikat dan 4 tahun mengajar kelas musik di Portland State University, permainannya identik dengan lagu-lagu country dan rock and roll yang renyah. 

    Sedangkan Nelson yang pernah membuat 8 album solo di era 70-an, membuat galau pendengar dengan lagu-lagu romantisnya. "Saya kadang ingin menangis sendiri," katanya usai memainkan Have You Ever Really Loved a Woman karya Bryan Adams. 

    Setelah bertahun bermain di luar sorotan lampu panggung musik, kemarin mereka tampil lagi. Rupanya mereka terusik dengan sedikitnya muda-mudi yang berminat bermain gitar. 

    Rene mengenang, saat dia bekerja di Dinas kebudayaan DKI Jakarta di bawah Gubernur Ali Sadikin, sekolah-sekolah musik selalu penuh murid, jumlahnya bisa sampai 400 di satu sekolah saja. Sekarang, seorang guru musik sudah bangga dengan 17 murid. 

    Mereka bercita-cita sekolah musik di Indonesia ramai lagi seperti pada masa mereka muda dulu. Lewat konser kali ini mereka ingin membangkitkan minat anak muda pada alat musik yang sudah mereka tekuni sejak masih kanak hingga akhirnya bermain gitar menjadi jalan hidup. 

    Hans menggambarkan gitar sebagai alat musik yang sederhana dengan hanya 6 dawai tapi bisa menciptakan harmoni yang indah. Ia selalu mengingat kata-kata pemusik legendaris Bethoven yang mengandaikan gitar bagai okestra mini. 

    Hans sesekali menabuh tubuh gitarnya dan menghasilkan suara derap seperti langkah sepatu lars diantara lagu-lagu perjuangan yang ia mainkan. Permainan Nelson seperti dimainkan dengan dua gitar meski ia bermain solo. Tak kalah riuhnya permainan Rene, lagu daerah dari Jawa Barat, Es Lilin terdengar seperti lagu country. "Banyak yang mengira saya salah memainkan lagu, padahal memang begini variasinya," katanya sambil tertawa.

    Meski memiliki keahlian bermain gitar hingga menerbitkan 24 volume buku gitar klasik sebelum terpanggil menjadi pendeta 12 tahun terakhir ini, Rene mengaku risih dipanggil maestro. Namun, menjadi pendeta, bukan artinya memuseumkan gitarnya, ia masih rutin mengadakan konser untuk menggalang dana bagi 37 anak-anak yatim yang ia asuh. Tak heran jarinya masih lincah berlari-lari penuh ekspresi di atas senar-senar gitar yang ia dekap dalam pakuan bak kekasih. 

    Sayangnya, faktor teknis membuat konser mereka kurang sempurna. Misalnya, sistem suara yang tidak memadai hingga pembawa acara yang tak menguasai panggung, seperti sedang membawakan acara ulang tahun keluarga. Informasi dan latar tentang mestro juga tak disampaikan. 

    Nelson pun sempat dibuat kesal karena pengeras suara habis baterainya dan dibiarkan begitu saja tanpa pengganti hingga acara usai. Bahkan permainan pertama Hans sempat tak dilengkapi pengeras suara sama sekali. Pengeras suara baru tersedia saat Nelson dan Rene tampil, itu pun hanya satu pengeras suara untuk gitar. 

    Akibat tidak dapat mendengar suara pemain, penonton pun terpaksa menebak-nebak lagu, karena tidak dapat mendengar judul lagu yang disampaikan sebelum lagu dimainkan.

    AQIDA SWAMURTI 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?