Gairah Stone Temple Pilots  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Scott Weiland diatas panggung Arena Pekan Raya Jakarta.(TEMPO/Jacky Rachmansyah)

    Scott Weiland diatas panggung Arena Pekan Raya Jakarta.(TEMPO/Jacky Rachmansyah)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Histeria meledak ketika sebuah spanduk kain bergambar ilustrasi bunga bermotif vignette terbentang menyapu seluruh latar panggung. Spanduk yang didominasi percampuran warna merah terang dan kuning menyala tersebut diambil dari sampul album teranyar Stone Temple Pilots, yang berjudul sama dengan nama band rock asal San Diego, Amerika Serikat, itu.

    Ya, Ahad malam lalu, Stone Temple Pilots—biasa disingkat STP—mengentak Ibu Kota lewat konsernya di arena terbuka Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Ribuan penggemarnya, yang berduyun-duyun datang sejak sore, tampak begitu antusias menyambut aksi sang idola. Dahaga para penggemar yang telah lama menanti konser band cadas itu di Jakarta benar-benar terpuaskan.

    STP—yang beranggotakan Scott Weiland (vokal), Robert DeLeo (bas), Dean DeLeo (gitar), dan Eric Kretz (drum)—baru pertama kalinya menggelar konser di sini. Promotor Adrie Subono dari Java Musikindo menggandeng STP ke Jakarta setelah mereka mengadakan konser di Filipina dan Singapura. Kehadiran STP di Jakarta merupakan bagian dari rangkaian tur konser mereka di Asia Tenggara.

    Malam itu, setelah dibuka dengan penampilan band lokal The Flowers, tanpa basa-basi STP membuka konsernya dengan nomor cadas berjudul Crackerman. Vokalis Weiland tampil mengenakan setelan jaket dan celana jins yang dipadu topi koboi serta kacamata hitam. Selain menggenggam mikrofon, Weiland menggunakan megafon untuk menghasilkan efek vokal lebih keras.

    Setelah lagu pembuka, Weiland menggeber dengan nomor Wicked Garden dan Vasoline—sebuah hit yang dicomot dari album kedua mereka, Purple (1994). Weiland, yang telah menanggalkan jaket jinsnya, kini hanya berkaus dengan garis vertikal hitam-putih. Hingga lagu ketiga dibawakan, ia masih asyik sendirian berjingkrakan di atas panggung.

    Barulah, saat membawakan nomor hit Between the Lines, Weiland mulai menyapa para penggemarnya. “Semuanya pasti suka,” katanya singkat. Dan lagu itu pun langsung disambut meriah karena nomor ini termasuk salah satu yang paling familiar bagi para penggemar berat STP. Lagu ini juga sempat menjadi soundtrack untuk film The Crow.

    Kualitas vokal Weiland tetap prima hingga nomor-nomor berikutnya, seperti Hickory Dichotomy, Still Remains, dan Big Empty, dimainkan. Awak STP lainnya, DeLeo bersaudara dan Kretz, pun tampak begitu energetik memainkan instrumen masing-masing. Mereka begitu bergairah.

    Dalam konsernya malam itu, STP juga memainkan lagu band rock legendaris asal Inggris, Led Zeppelin, berjudul Dancing Days. “Siapa yang tak kenal Led Zeppelin, dan inilah penghormatan untuknya,” kata Weiland.

    Histeria kembali pecah ketika nomor hit lainnya, Plush, menggema. Penonton mulai sing a long bersama sang idola. Plush termasuk salah satu nomor yang cukup bersejarah karena mengantar band yang sempat pecah pada 2003 itu meraih penghargaan sebagai best hard rock performance pada Grammy Awards 1994.

    Sayangnya, untuk konser band rock papan atas era-1990-an tersebut , tata panggung yang disajikan panitia cukup sederhana. Tata suara juga kurang maksimal. Masih terdapat beberapa noise dari sound system, yang membuat vokal Weiland terdengar kurang bersih.

    Sebanyak 17 nomor dibawakan band yang pernah menyabet penghargaan dalam American Music Awards 1993 untuk kategori favorite pop/rock new artist itu. Setelah lagu Sex Type Thing dimainkan, panggung redup, dan Weiland hanya berucap, “Goodnight.” Namun ternyata itu bukan nomor penutup. Konser benar-benar selesai setelah Dead & Bloated dan Trippin On a Hole in A Paper Heart dimainkan.

    Berawal dari Pesta Pantai

    Beberapa tahun lalu, berawal dari sebuah pesta pantai yang digelar istri Weiland, Maria Forsberg, sebuah rekonsiliasi terjadi. Setelah pecah kongsi di antara personel pada 2003, Weiland hengkang dan membentuk Velvet Revolver. Dari pesta itulah, DeLeo dan Weiland kembali akur hingga akhirnya sepakat untuk menghidupkan kembali Stone Temple Pilots pada 2008. Bersatunya kembali STP itu ditandai dengan konser tur musim panas.

    Sekembali dari tur, mereka kemudian merancang sebuah album baru. Pada 2010, album keenam mereka bertajuk Stone Temple Pilots diluncurkan. Mereka kemudian menggelar serangkaian konser untuk mempromosikan album anyarnya. Mereka tampil dalam England's Download Festival di Inggris dan The Hurricane Festival and The Southside Festival di Jerman pada pertengahan tahun lalu.

    Akhir Oktober 2010, setelah STP kembali dari tur, Eric Kretz mengisyaratkan akan adanya cikal-bakal album ketujuh untuk band ini. Dengan janji, akan memberi lebih banyak ide segar dan mencoba sesuatu yang baru tentang bagaimana menyajikan musik yang segar.

    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.