Sang Kancil yang tak Lelah Berkarya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Malam beranjak larut di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Jumat malam pekan lalu. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Mataram DN I/370, lelaki tua itu tak berhenti beraktifitas. Ia tengah sibuk menjahit tangkai untuk wayang buatannya. Di bawah penerangan lampu neon, pelan dia selipkan jarum yang terkait dengan benang di sela ukiran kulit wayang. Perlahan. Hingga satu, dua, dan tiga wayang rampung dia kerjakan.

    Sejak dua bulan lalu, pria renta itu tenggelam dalam kesibukan membuat wayang. "Tidurnya siang, itu pun paling lama hanya tiga jam," kata Ki Ledjar Soebroto, maestro dalang dan pembuat wayang yang berusia 73 tahun.

    Ki Ledjar memang tengah berpacu dengan waktu. Dua set wayang Willem van Oranje, masing-masing 30 wayang, yang dipesan pemerintah Belanda harus selesai. Dan pekan ini, bersama cucunya, Ananto Wicaksono (25 tahun), dia terbang ke Negeri Kincir Angin untuk membawa wayang buatannya ke Museum Prinsenhof. Satu set wayang akan dipajang dan satu set yang lain akan dipentaskan di sana.

    Dikenal sebagai dalang wayang kancil, Ki Ledjar tak pernah membayangkan akan memainkan wayang-wayang buatannya di negeri Belanda. Ketrampilannya membuat wayang dia dapat secara otodidak. "Belajar sendiri dari sana-sini, yang penting tekun," katanya ihwal ketrampilan membuat wayang. "Wong saya ini hanya lulusan SD."

    Lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 20 Mei 1938, Ki Ledjar adalah anak pertama dari pasangan Hadi Soekarto dan Sugiyah. Ayahnya dikenal sebagai seniman kecil asal Yogyakarta yang getol menularkan kesenian tradisional di warga sekitarnya. Semisal mendalang, bermain ketoprak, dan menabuh gamelan.

    Ki Ledjar mewarisi darah seni ayahnya. Saat berusia 8 tahun, dia telah menjadi Srati (asisten dalang yang menyiapkan wayang) untuk dalang wayang kulit asal Semarang, Ki Narto Sabdo. Pekerjaan itu dia tekuni hingga usianya mencapai 22 tahun.

    Pada 1960, Ki Ledjar hijrah ke Yogyakarta dan menikah dengan Karjiyah. Dari pernikahan itu dia dikaruniai tiga anak, satu putra dan dua putri. Di tempat barunya, Ki Ledjar bergabung dengan kelompok wayang orang "Ngesthi Pandowo" sebagai perias dan pemain. Hingga akhirnya pada 1980, dia beralih memainkan wayang kancil. Wayang kancil adalah pertunjukan seni wayang dengan tokoh binatang. Lakon utama wayang ini adalah binatang kancil.

    Selain mementaskan wayang kancil, Ki Ledjar membuka kios di depan rumahnya, yang hingga kini dia tempati bersama anak dan cucunya. Di kios itu, dia menerima pembuatan wayang kulit. Baik wayang kancil maupun wayang purwo. Beberapa dalang yang menggunakan wayang buatannya diantaranya adalah Ki Narto Sabdo, Ki Manteb Sudarsono dan Ki Enthus Susmono.

    *****

    Pesanan wayang Willem van Oranje berawal pada 2008. Saat itu, Ki Ledjar berkesempatan mementaskan wayang kancil di Pasar Malam Tong-Tong di Belanda. Pementasannya mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat Belanda. Banyak di antara orang Belanda, umumnya yang memiliki ikatan batin dengan Indonesia, meminta Ki Ledjar membuat wayang untuk dirinya ataupun keluarganya

    Pada 2009, dalam kesempatan keduanya tampil di Pasar Malam Tong-Tong, pihak Museum Nusantara di kompleks Prinsenhof Museum, Delft, Belanda, tertarik dengan wayang karya Ki Ledjar. Dan dia pun diminta membuat Wayang Willem Van Oranje, bapak bangsa Belanda. "Pihak Museum ingin menambah koleksi wayangnya dengan wayang Willem van Oranje," kata Hedi Hinzler, 69 tahun, penasehat Museum Prinsenhof sekaligus Guru Besar bidang Purbalaka Asia Universitas Leiden, yang sengaja datang ke Indonesia untuk menjemput Ki Ledjar dan pesanan wayangnya.

    Jadilah sejak awal 2011, Ki Ledjar memulai menyiapkan pembuatan Wayang Willem Van Oranje pesanan museum di Belanda itu. Mula-mula, dia meriset bentuk wayang yang akan dibuat. Caranya, dia membuat sketsa wayang di atas selembar kertas sebelum dicetak di atas kulit.

    Selain membuat wayang tokoh utama Willem Van Oranje, dia juga membuat wayang tokoh-tokoh lain di sekitar Willem. Semisal raja Spanyol Philip II dan panglima tentaranya, Duke Of Alva. Atau juga Gerard Baltashar, orang suruhan Philip II yang membunuh Willem.

    Semua wayang itu dibuat mirip karakter tokoh aslinya. Bentuknya disesuaikan dari foto-foto koleksi Museum yang diberikan pada Ki Ledjar. Sketsa gambar yang dibuat di atas selembar kertas itu lantas dituangkan pada bahan baku wayang, yakni kulit kerbau. Setelah dipotong sesuai pola, wayang diukir untuk mendapat detailnya. Dalam melakukan pewarnaan dan pengukiran, Ki Ledjar dibantu beberapa orang untuk pengerjaan.

    Bagian-bagian wayang seperti tangan, kaki dan tubuh wayang disambung dengan menggunakan lempeng kuningan. Adapun pada wayang purwo umumnya sambungan dibuat dari potongan tulang.

    Untuk menambah keindahan dan kekuatan wayang yang dibuatnya, tangkai wayang dibuat dari tanduk kerbau. Bahan-bahan tangkai itu didapat Ki Ledjar dari seorang pengrajin di daerah Klaten, Jawa Tengah.

    Adapun untuk satu lembar wayang Willem van Oranje yang dipesan museum, Ki Ledjar menghargainya sebesar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Rencananya, uang hasil dari wayang buatannya akan digunakan untuk menghidupi keluarga dan sanggar wayang kancil yang didirikannya.

    Hedi menilai wayang buatan Ki Ledjar sangat berkarakter. Menurut profesor yang mahir berbahasa Jawa itu, Ki Ledjar berkemampuan menterjemahkan karakter tokoh dalam bentuk wayang. "Itu menarik sekali," katanya.

    Bukan pertama kali ini Ki Ledjar berhubungan dengan Belanda terkait wayang. Pada 1987, dia mendapat pesanan membuat wayang Sultan Agung. Wayang itu mengisahkan perjuangan Sultan Agung melawan tentara kompeni yang dipimpin Jan Pieterzoon Coen. Dipesan dalam peringatan 200 tahun perusahaan milik Belanda di Hindia Timur (VOC), kini wayang itu disimpan di Museum Horn Belanda.

    Lalu, pada 2006 dia kembali menerima pesanan untuk membuat Wayang Revolusi. Wayang itu berupa tokoh nasional, seperti Soekarno, dan kini disimpan di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda. Wayang Revolusi buatan Ki Ledjar dibuat untuk menggantikan wayang revolusi lama buatan RM. Sajid yang telah dipulangkan ke Indonesia.

    Selain itu, Ki Ledjar juga rutin mementaskan wayang di beberapa negara di Eropa, seperti di Jerman dan Prancis. Beberapa Museum di luar negeri juga tercatat mengoleksi wayang buatannya. Di antaranya, Ubersee Museum di Bremen Jerman dan Museum of Anthropology di Kanada.

    Ya, meski usianya telah senja, semangat dan kecintaannya terhadap wayang tak luntur. Jika masih berkesempatan, dia berharap bisa membuat wayang untuk semua kisah di dunia.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.