Lakon Sandiwara Pilihan Teddy

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran seni rupa karya S. Teddy D

    Pameran seni rupa karya S. Teddy D " Sandiwara".(TEMPO/Jacky Rachmansyah)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Terkadang, sesuatu yang lazim terjadi terasa cukup nyeni, jika disampaikan secara khusus. Inilah yang dilakukan perupa S. Teddy D. Melalui medium seni dua dan tiga dimensi, dia mengurai fenomena yang terjadi di masyarakat. Karya-karyanya itu kini dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk Sandiwara" di Langgeng Galeri, Jakarta Art District, Grand Indonesia, Jakarta, 3-27 Maret 2011.

    Laiknya sebuah lakon sandiwara, Teddy membuat panggung mini dengan mayoritas bahan berlapis hitam. Lantai panggungnya sempit memanjang. Namun latarnya dibuat menjulang tinggi dengan konstruksi atas seperti atap rumah. Sekilas karya Teddy mirip sebuah pajangan dinding.

    Beberapa lakon sandiwara yang dipilihnya dibuat berdasarkan realitas. Ada pula yang diimplementasikan secara liar tanpa tema saklek. Karyanya berjudul Bulan Batu, misalnya, terdiri dari bebatuan mini dengan latar guratan akrilik hitam. Di atasnya tertempel batu bulat sebagai penerjemahan bulan. Di antara bebatuan itu, Teddy memajang mahluk alumunium abstrak, berkaki empat, berekor tegang, namun tak berwajah.

    Lain lagi dengan karya di sebelahnya yang diberi judul Malam Yang Bicara. Teddy membuat dua pasang telinga yang disandarkan pada sepasang kursi mini. Satu pasang berada di sudut lantai, satunya lagi menggantung di sudut berlawanan. Pada latar hitam, tertegun wajah manusia yang dikelilingi gagang telepon. Di antara telinga, tergores cat semprot kuning terang, sebagai ilustrasi jalur komunikasi. Apa yang anda imajinasikan saat melihat karya tersebut? Perang paket telpon malam para provider selular, atau kebiasaan manusia yang doyang begadang sambil bergosip?

    Pembalakan liar masih menjadi perhatian sang seniman. Kekhawatirannya terhadap perusakan alam, terekam dalam karyanya bertajuk No Forest No Future. Enam batang pohon sisa penebangan liar menjadi terlihat gersang dengan cat perak. Ada tiga buah kapak di tengahnya sebagai "barang bukti" kejahatan terhadap alam. Dengan latar bergambar pohon rindang yang berbatang tubuh orang, Teddy agaknya hendak menyimpulkan bahwa sebenarnya manusialah yang tergantung pada pohon, bukan sebaliknya.

    Karya Teddy yang terlihat unik secara ide adalah Wong Tani Wengi atawa Pekerja Tani Malam. Pada latar hitam, ia hanya membentuk kerangka wajah dari cat merah. Adapun unsur mata, hidung, mulut, dan telinga, di bentuk dari miniatur alat tani, seperti clurit, kapak, sabit, dan parang. Meskipun hadir dengan kesederhanaan namun cukup mewakili beratnya kehidupan seorang petani.

    Dari 12 karya yang dipamerkan, masing-masing terlihat berdiri sendiri dalam satu bagian cerita yang terpisah. Lukisan berjudul Cairoriot yang memuat tulisan "Vodka" dengan teknik semprot warna perak menyala, misalnya. Di sampingnya ada wujud ekspresif gambar hati dengan garis merah jambu yang tebal-tipis. Di sebelah batang pohon miniatur, Teddy menggurat gambar wajah dengan kolaborasi lelehan cat putih, dan disematkan tulisan "Liberty". Mirip sebuah kolase, di mana terjejer elemen yang tidak saling berkaitan bagaikan ruang ilusif yang menggelar ide-ide yang tidak terjabar secara naratif.

    Konsep serupa juga bisa dijumpai pada karyanya bertajuk Volunteero yang lebih minimalis. Teddy membuat sebuah miniatur kursi kayu dan patung berbentuk kepalan dua tangan yang terhubung horizontal. Pada latarnya terlihat gambar kepalan tangan dengan arah vertikal dan sebuah tulisan "Art. Activism & Rock’n Roll". Nah, untuk yang ini, silakan berimajinasi seluasnya.

    AGUSLIA HIDAYAH

     Non Linier, Provokatif, dan Liar

    Sebagai seniman, Teddy dikenal di kalangan seniman sebaga perupa yang berbasis pada konsep "Trial and Error". Ini lantaran seringnya ia keluar dari jalur lazim, dan melawan asumsi-asumsi umum. Itulah sebabnya ia merepresentasikan pengalamannya secara non-linier, bersifat provokatif, dan berkesan liar.

    Perupa kelahiran Padang, 25 Agustus 1970 ini pernah menyandang predikat lima besar finalis Philip Morris Indonesian Art Awards pada 2000 lalu. Awal karirnya ditandai dengan sebuah pameran bertajuk Sapu Lidi , di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, pada 1992 silam.

    Karya-karyanya pernah dipamerkan di pameran bersama berskala internasional, seperti di Helsinki, Finlandia (1998), Austalia Center of Contemporary Art, Melbourne, Australia (1999), Hiroshima City Museum of Contemporary Art, Jepang (2000), dan Circle Point Gallery, Washington DC, Amerika, dalam sebuah eksebisi bertajuk "Not I, am I" (2001).

    Karya-karya Teddy yang dipajang dalam pameran "Sandiwara" ini, sebelumnya pernah dipamerkan di Sin Sin Fine Art Hongkong setahun lalu.

    AGUSLIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?