Serba Merah Muda Di Bentara Budaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran bertema Love of Diary di Bentara Budaya Yogyakarta. (TEMPO/Anang Zakaria)

    Pameran bertema Love of Diary di Bentara Budaya Yogyakarta. (TEMPO/Anang Zakaria)


    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Kain sprei berwarna merah muda itu terhampar di atas kasur tanpa bantal dan guling. Sedikit berantakan namun terlihat hangat dan empuk untuk melelapkan diri. Di sudut kasur sebuah kondom bekas pakai tergeletak begitu saja dalam bungkusan tisu kotor. Adapun di sisi kasur, sebuah kondom lain yang belum terpakai tergeletak di atas karpet yang berwarna merah muda juga.

    Savety Acn Be Fun, demikian karya seni instalasi perupa muda Ani Khaliq’fah itu, seakan menghadirkan romantisme bercinta dua insan manusia. Apalagi di sebuah meja kayu (yang juga berhias warna merah muda), yang terletak tak jauh dari kasur itu, Ani meletakkan segelas anggur merah. “Konsepnya memang kamar yang habis dipakai pasangan berhubungan badan,” kata dia, Rabu (16/2).

    Bersama karya seni puluhan perupa lain, karya Ani itu dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, sejak 14 hingga 19 Februari 2011. Pameran bertema Love of Diary itu mengangkat realitas cinta dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di hari kasih sayang, Valentine.

    Meski terkesan “tak sopan”, kata Ani, karyanya berusaha menampilkan senyata mungkin, apa yang dilakukan satu pasangan untuk mengungkapkan perasaan cintanya. “Tentu saja, itu untuk yang sudah menikah,” kata dia.

    Di sisi lain, melalui karya itu, Ani mengungkapkan kegelisaan atas pergaulan bebas remaja yang kadang kerap keluar batas. Dengan berani dan keterusterangan karyanya, dia mencoba menyampaikan kritiknya.

    Adapun desain dan seting karyanya, lebih banyak terinspirasi dari kamarnya. Bedanya, semua isinya diganti menjadi warna merah muda sesuai tema pameran. Valentine Day.

    Tak hanya karya Ani yang berwarna merah muda, seluruh karya yang lain juga berwarna sama. Lihatlah Gubuk Cinta karya Putu Harimbawa. Seni Instalasi itu menghadirkan gubuk bambu bergaya panggung yang biasa ditemui di persawahan. Gubuk tempat menjaga padi itu beratap daun kelapa kering. Di atas lantai gubuk, selembar tikar pandan butut terhampar lengkap dengan bantal bersarung tikar.

    Lagi-lagi, karya itu pun didominasi warna merah muda. Dari tiang bambunya hingga tembok gedung pameran yang didesain menjadi latar belakangnya.

    Satu diantara tujuh kurator pameran, yang tergabung dalam Romantic Artvisory, Kadek Agus Mediana Putra, mengatakan ada 26 perupa muda yang bergabung dalam pameran itu. Mereka umumnya adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. “Hanya satu perupa yang sudah lulus,” kata dia.

    Pameran kali ini, kata dia, bermula dari “curhat” sesama anggota Romantic Artvisory. Berawal dari romantisme dan keakraban pertemanan itulah, terbesit ide menggelar pameran bersama perupa muda lain. Dan, pameran di Bentara Budaya Yogyakarta kali ini merupakan yang kedua kali digelar kelompok itu. Sebelumnya, pada 6 Februari 2011 lalu, mereka menggelar pameran perdana mereka di Ten Fineart Galeri di Sanur, Denpasar.

    Dalam pameran kali ini, bersama enam kurator lain, dan juga dua puluhan perupa muda lain, Agus juga memamerkan karyanya. Berjudul Ketika Kloset Menjalin Cinta, Agus menghadirkan seni instalasi berbentuk kloset yang terbuat dari spon. Lagi-lagi, warnanya merah muda.

    Menurut dia, melalui pameran itu, mereka hendak berkata, bahwa negeri ini, khususnya Bali, banyak menyimpan kisah percintaan yang luhur. Cerita-cerita itu, sekaligus memperlihatkan bukti betapa masyarakat kita sangat menghargai kasih sayang dan cinta dalam kehidupan sehari-hari.

    Misalnya saja, di setiap upacara keagaman yang digelar di Bali, pertunjukan seni yang menampilkan lakon cinta masih banyak ditemui. Sampai-sampai, di setiap pementasan warga berjubel datang menonton.

    Ya, masyarakat ini tumbuh bersama kisah-kisah cinta yang telah berkembang sejak berabad-abad lampau. Cerita Sri Rama yang bertarung melawan Rahwana untuk merebut kembali kekasihnya, Dewi Sinta, misalnya.

    Atau kisah Jayaprana yang hidup dan berkempang populer di kalangan masyarakat Bali. Dikisahkan, Jayaprana, seorang jelata yang telah mengikat janji dengan gadis jelita bernama Layonsari. Lantaran kecantikan Layonsari, seorang raja berusaha meminangnya.

    Namun, rayuan itu tak membuat Layonsari tergoda. Hingga akhirnya, dengan tipu daya raja melakukan pembunuhan terhadap Jayaprana. Kisah itu berakhir dengan kematian Layonsari dengan cara bunuh diri untuk menyusul Jayaprana di alam baka.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.